logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Bisnis    Peluang Usaha    Bisnis Jasa

Peran Ayah dalam Konsultasi Bisnis Keluarga


Ilustrasi konsultasi bisnis

Mencetak keturunan pebisnis yang memiliki jiwa wirausaha merupakan hal yang sangat krusial dalam mempertahankan kelanggengan perusahaan keluarga di masa depan. Seorang ayah dapat sangat hebat merintis sebuah perusahaan dari nol namun, ia belum tentu jago mengkaderisasi anak-anaknya menjadi pengusaha sukses. Oleh karena itu, seorang ayah yang juga pebisnis harus mampu memberikan konsultasi bisnis kepada keturunannya.

Pendidikan

Pendidikan dianggap sebagai salah satu jalan menuju perubahan. Pendidikan ini bisa terjadi di manapun dan tidak hanya di sekolah. Di sekolah terkadang yang dilakukan oleh para guru bukanlah mendidik tetapi tidak lain hanya mengajar. Mendidik itu tidak bisa dipelajari kecuali dengan ilmu keimanan. Sedangkan mengajar bisa dipalajari lewat bangku kuliah dan diterapkan dengan cara menggunakan metode dan teknik mengajar.

Seorang ayah tentu saja bisa menjadi seorang pendidik karena nalurinya. Ia ingin anaknya menjadi pengusaha sepertinya, maka yang dilakukannya adalah memberikan pengaruh bagaimana cara berbisnis yang baik dan benar. Anak-anaknya telah dilibatkan dalam bisnisnya sebagai pekerja yang paling bawah sehingga sang anak bisa memahami basis bisnis dan dasar-dasar menjadi seorang pekerja. Seorang pebisnis itu harus menjadi seorang pekerja yang hebat dan ia harus mampu menjadi seorang pengikut yang baik.

Sebelum menjadi pemimpin, sang anak harus bisa menjadi pengikut dulu. Ia melihat gaya ayahnya membangun usaha. Ia pun tidak lupa disekolahkan ke tempat yang dianggap akan bisa memberikan pengetahuan dan jaringan pertemanan yang bisa mempengaruhi naluri dan gayanya berbisnis kelak. Kisah seorang ayah yang mendidik anaknya agar menjadi seorang pebisnis yang sukses seperti ini telah banyak dijalankan oleh para pebisnis berdarah Cina. Mereka bahkan sangat serius dalam mengkader anak-anaknya.

Pandangan bahwa generasi pertama mendirikan bisnis. Generasi kedua mengembangkan bisnis dan generasi ketiga menghancurkan bisnis, tentu saja untuk yang hal yang satu ini, tidak ada yang mau hal itu terjadi. Mereka pun akan mencari orang-orang yang bisa dipercaya. Orang-orang ini akan dipupuk dan dimanjakan sehingga akan menjadi orang-orang yang sangat setia. Padahal terkadang orang-orang ini tidak mendapatkan gaji yang tinggi. Mereka diberi kenyamanan dengan diberi barang-barang diluar gajinya.

Seolah-olah mereka mendapatkan perhatian lebih dan mereka akan merasa berhutang budi. Teknik ini tentu saja bukan teknik yang baik dalam menjalankan bisnis. Teknik yang baik adalah meninggalkan manajemen keluarga dan lebih menjalankan manajemen profesional yang akan membuat semua orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan tingkat posisinya.

Tidak terkecuali dengan anak-anak sang pemilik usaha. Namun, siapa yang tega melihat darah daging sendiri menjadi pembantu bagi orang lain. Maka sering terdengar kisah anak pemilik usaha langsung memegang peranan kunci sedangkan karyawan yang lebih baik tersisih karena ia bukan siapa-siapa. Bagi karyawan yang sangat potensial, ia akan keluar dari perusahaan itu dan akan membuat perusahaan baru.

Perusahaan baru ini juga mungkin bergerak dibidang yang sama sehingga ia akan berkompetisi secara langsung dengan mantan bosnya. Sang mantan bos tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa selain melayani tantangan itu. Dari keadaan ini, sanga pemilik bisa memberikan gambaran kepada anaknya bagaimana beratrung dengan mantan anak buah. Anak yang mudah belajar dan cepat tanggap, akan mempelajari semua situasi dan juga tidak akan tinggal diam walaupun mungkin pengalamannya belum sehebat mantan karyawan tersebut.

Pengalaman

Lewat pengalaman ini, ayah dengan serius memberikan konsultasi bisnis kepada anak-anaknya. Ayah juga akan mendatangkan para konsultan bidang pemasaran dan bidang keteknisan lainnya agar sang anak bisa langsung belajar melalui mereka. Tentu tidak murah harga untuk konsultasi secara langsung ini. Kalau ayah mempunyai teman sesama pebisnis, mereka bisa saling menitipkan anak-anak agar anak-anak mereka bisa saling belajar dan mempelahari teknik menjalankan sebuah bisnis.

Kepekaan dalam berbisnis pun akan terasah dengan jalan seperti ini. Tidak jarang juga mereka akan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah bonafid yang ada di luar negeri. Hal ini selain akan memberikan wawasan hidup dan mungkin juga sang anak akan bekerja di sana, juga akan memberikan pandangan tentang kerja keras. Setelah sang anak dipandang mampu, maka mereka akan ditarik pulang dan diajak membangun bisnis bersama. Ada juga ayah yang mendidik anaknya dengan memberikan tanggung jawab untuk menjalankan satu roda bisnis tanpa banyak hal yang harus dilakukan oleh sang ayah di perusahaan itu.

Sang ayah berpikir bahwa kalaupun anaknya bangkrut, kebangkrutan itu akan menjadi satu pelajaran yang sangat berarti bagi sang anak. Modal yang ada memang digunakan sebagai modal pendidikan bisnis secara langsung sehingga sang ayah juga tidak merasa rugi. Pengalaman itu adalah guru yang paling baik. Untuk membayar guru yang paling baik itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Tidak jarang juga bahwa dari pemberian tanggung jawab ini, sang anak malah bisa berkembang lebih pesat dari bisnis ayahnya.

Apapun yang dilakukan oleh ayah dalam mengembangkan pribadi seorang pengusaha kepada anak-anaknya, pasti akan memberikan pengaruh yang sangat besar. Anak-anak akan tumbuh menjadi kuat karena ia tahu ada pelindung di belakangnya, seorang laki-laki gagah yang akan melakukan apapun demi dirinya. Memanjakan anak memang boleh, tetapi memanjakan sambil mendidik adalah proses yang paling baik. Anak tidak dibiasakan memperoleh segala sesuatu yang diinginkannya dengan mudah sehingga ia tahu dan sadar kalau ia ingin mendapatkan sesuatu, ia harus bekerja dan tidak boleh hanya meminta.

Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga memiliki prospek yang cukup baik dalam jangka panjang, apalagi jika mereka yang terlibat di dalamnya menikmati pekerjaan itu. Bisnis keluarga artinya menghasilkan keuntungan tanpa mengorbankan keluarga, namun melibatkan anggota keluarga tentunya secara profesional. Problem terpenting dalam melanjutkan bisnis keluarga adalah masalah suksesi. Suksesi memang bukan satu-satunya penentu kelanggengan bisnis keluarga, akan tetapi, suksesi menjadi akar persoalan di bisnis keluarga ketika sang pendiri semakin tua atau sudah memasuki masa pensiun, sementara tidak ada generasi penerus andalan.

Terkait isu kegagalan suksesi dan kaitannya dengan pemberian konseling bisnis kepada keluarga, pengusaha Indonesia yang memiliki Gemala Group, Sofjan Wanandi punya pengalaman berbeda. Strategi yang ia pakai dalam mengelola bisnis keluarga dan memberi bimbingan serta melanggengkannya terbukti cukup berhasil. Di usianya yang tak muda lagi, Sofjan yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mendapuk tiga putranya Lestarto, Lukito, dan Witarsa menjadi pewaris kejayaan bisnis Gemala Group di generasi kedua.

Ia membagi tiga perusahaan yang day to day dikelola oleh tiga putranya itu. “Ada banyak kepentingan, apalagi jika anak-anak sudah berkeluarga. Tapi, yang  terpenting adalah komitmen take and give dalam menjalankan bisnis ini,” kata pria yang 21 tahun berkecimpung di bisnis ini. Suksesi bukan masalah bagi Sofjan, sebab ia telah mempersiakan rencana jangka panjang untuk mewariskan kerajaan bisnisnya kepada anak-cucu kelak. Tidak mudah memberi konseling bisnis dengan menggembleng karakter tiap anak supaya tangguh, dan memiliki mental kuat dalam mengelola bisnis keluarga.

Seorang ayah, harus memiliki kepekaan membaca karakter dan minat si anak, itu modal pertama yang harus dimiliki seorang konselor (pembimbing). Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap anggota keluarga, maka akan lebih mudah untuk mengarahkan mereka di posisi yang tepat. “Saya tidak pernah memaksa anak, tapi mengarahkan dan selalu memberikan pengertian tentang bisnis keluarga ini,” ungkap Sofjan yang kini di usia 69 tahun dianugrahi sepuluh cucu.

Ia percaya pola persuasif dengan mengajak ketiga penerusnya bergabung meski pada tiga perusahaan yang berbeda (anak perusahaan Gemala Group) cukup berhasil. Selain rasa percaya, komunikasi intens juga sangat mendukung upaya keharmonisan sebuah keluarga yang solid. Cinta kasih sayang, dukungan, dan pengertian adalah kunci keluarga harmonis. “Pada prinsipnya harmonisasi antara keluarga dan bisnis,” tutur mantan aktivis tahun 60-an ini. Sikap mengalah merupakan faktor penting kekompakkan antaranggota keluarga yang hingga kini ia percaya.

Selalu ada waktu untuk berdiskusi, itulah rutinitas wajib keluarga Wanandi yang membuktikan kunci sebuah strategi konsultasi bisnis keluarga yang cukup berhasil. Apa yang dilakukan oleh Sofian Wanandi itu banyak juga dilakukan oleh para pemilik usaha lainnya. Bahkan untuk melihat anak mana yang cocok ditempatkan di mana, sanga ayah akan memberikan ujian terbuka bagi semua anaknya. Hal ini agar tidak ada persaingan yang kotor antarsaudara.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Bisnis Dekorasi Pelaminan
  • Menangkap Peluang Bisnis di Sekitar Kita
  • Hypermart Matahari di Tengah Maraknya Hypermarket dan Supermarket
  • Peluang Kerjasama Bisnis di Kalangan Menengah ke Bawah
  • Jenis Peluang Usaha di Sekitar Kita
  • Tiket Online - Solusi Mudah Mendapatkan Tiket
  • Bidang Usaha Jasa Konstruksi
  • Bisnis Hotel yang Menggiurkan
  • Bisnis Jasa Logistik dan Jasa Pendukung Lainnya
  • Memulai Usaha Rumah Makan
  • Prospek Bisnis Game Online
  • Membuka Usaha Rental Komik
  • Mengenal Jasa Pembuatan Web
  • Cara Jual Furniture Bekas Agar Cepat Laku
  • Keahlian Cara Dapat Uang di Internet
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA