Solidaritas Korban Gempa dan Hikmah Bencana
Ilustrasi korban gempa
Belakangan, bencana alam seakan semakin akrab dengan kehidupan masyarakat kita di Indonesia. Secara bertubi-tubi pula kita dicoba dengan berbagai musibah yang tak dapat kita tolak. Kita pun berduka dengan banyaknya korban gempa dan tsunami di Mentawai, meluapnya sungai di Wasior, serta meletuskan Gunung Merapi di Yogyakarta. Bencana demi bencana itu seakan mengetuk hati bahwa musibah dan kematian sangat dekat dengan diri kita. Tak ada yang bisa menghindarkan diri dari kematian.
Ketukan Hati
Ketukan hati itu bermacam-macam. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, terkadang hati ini tidak terketuk. Begitu banyak alasan yang dikemukakan sehingga tidak tergerak hati untuk memberikan sesuatu kepada yang tengah ditimpa musibah. Mata hanya bisa memandang layar kaca dan bahkan sambil makan pagi atau makan malam. Berita musibah demi musibah seoalh lewat begitu saja. Berbeda dengan orang-orang yang dengan kerendahan hatinya berusaha mencari jalan untuk membantu.
Hati itu akan membatu kalau tidak diberi rangsangan sensitivitas kepada hal-hal yang baik. Bila getaran telah semakin cepat, biasanya akan terasa mudah untuk membantu. Ada saja jalan agar bantuan itu tersalurkan dengan cepat. Bantuan teknologi dengan segala macam bentuk telah memudahkan penyampaian informasi. Tidak ada alasan untuk tidak bergerak untuk membantu. Korban musibah apapun bentuknya pasti membutuhkan bantuan.
Bentuk perhatian pun akan mereka terima sebagai salah satu bukti kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Apalagi kalau bisa membantu dalam bentuk lain. Kalau tidak mempunyai dana, bisa menyumbangkan tenaga. Menjaga anak-anak yang sedang bermain atau menemani anak-anak korban yang ada di rumah sakit. Pada saat tanggap darurat itu, bantuan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ketidakberdayaan kalau ditanggung sendiri, pastinya sangat memberatkan. Tetapi kalau ditanggung oleh banyak orang, tawa pun masih bisa hadir di tengah kesusahan.
Tuhan tak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Hanya saja terkadang umat ini merasa Tuhan yang menjauh. Padahal ketika Tuhan belum mengabulkan keinginan umat-Nya, Ia sesungguhnya tengah menghapus dosa-dosa umat-Nya itu. Pada saatnya pasti akan ada kebahagiaan yang sebenarnya. Hal ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang beriman yang sungguh-sungguh merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.
Orang yang terkena musibah terkadang merasa frustasi dan depresi sehingga mereka rasanya ingin mengakhiri hidupnya. Mereka merasa tidak mempunyai jalan atau solusi atas apa yang menimpanya. Kalau tidak ada teman atau saudara yang mengingatkan bahwa pasti ada ujung dari setiap permasalahan, maka rasa depresi itu akan semakin menjadi. Bantuan untuk pertolongan yang bersifat ke penguatan mental dan keimanan ini harus ditingkatkan terutama pada masa tanggap darurat.
Ketika masa tanggap darurat telah usai, biasanya selama 3 bulan, lalu ada masa pemulihan. Pada masa ini para korban telah bisa menerima apa yang mereka alami. Mereka sudah mulai bangkit dan mau melakukan hal-hal yang sekiranya bisa membuat mereka melupakan sejenak segala bentuk kesedihan. Mereka mulai membangun dan mulai bersikap seperti sebelum terjadinya gempa atau musibah lainnya. Apalagi kalau mereka melihat begitu banyak yang peduli padanya, mereka akan semakin semangat.
Namun, mohon untuk berhati-hati dan bersikap sangat sensitif pada masa terjadi musibah. Tidak jarang korban malah merasa orang yang datang hanya ingin menikmati penderitaan mereka dan mereka seolah dijadikan objek wisata gempa atau wisata musibah. Jangan tunjukan ekspresi seoalh memang menikmati keadaan yang sedang berlangsung. Sebaiknya tidak mendatangi tempat musibah kalau tidak bisa melakukan apa-apa. Intinya, kalau tidak bisa membantu, paling tidak tak perlu mengganggu orang lain yang akan membantu.
Cukup mendoakan dengan tulus. Kalau ada dana belebih bisa langsung disalurkan kepada pihak yang bisa dipercaya. Jangan sembarangan menyumbangkan apapun karena biasanya banyak sekali pihak yang memancing di air keruh. Mereka ini mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Berbeda kalau penyaluran itu ditujukan kepada lembaga yang memang amanah dan mempunyai sistem pelaporan yang sudah terbukti handal.
Yakinlah bahwa sebenarnya bukan korban yang dibantu yang merasakan kebahagiaan yang lebih ketika menerima bantuan, melainkan orang yang telah membantu. Inilah proses keajaiban yang berlangsung di dalam hati. Hati itu akan semakin lembut dan mudah menerima kebenaran ketika dilatih untuk merendah. Latihan merendahkan hati ini salah satunya adalah dengan cara mudah membantu orang lain yang sedang terkena musibah.
Anak-anak yang tumbuh dengan hati yang terlatih, akan semakin mempunyai karakter yang baik. Anak-anak ini akan tumbuh menjadi orang yang peduli. Orangtua yang ingin mempunyai anak yang hebat, sebaiknya memberikan contoh bagaimana menata hati agar tetap lembut dan mempunyai kasih yang besar yang bisa diberikan kepada orang lain dalam jumlah yang tak terbatas.
Memori
Kita tentu juga masih ingat dengan banyaknya korban jiwa akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Begitu juga dengan gempa bumi yang menewaskan sekitar 6 ribu jiwa yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Setelah itu, gempa bumi pun terus mewarnai perjalanan bangsa ini di tengah euphoria politik di era reformasi. Selanjutnya, semakin banyak lagi peristiwa yang menyayat hati. Korban memang tidak banyak, tetapi jumlah itu tidak bisa dilihat dari angka.
Setiap kematian pasti memberikan dampak yang tidak sedikit kepada orang-orang yang ditinggalkan. Berapapun jumlah korban, orang yang masih hidup dan mempunyai kemampuan membantu, sudah sepatutnya melakukan yang terbaik untuk yang sedang terkena musibah. Kebaikan itu akan kembali kepada yang melakukannya. Tidak ada yang sia-sia di sisi Tuhan.
Orang-orang yang pikirannya untuk membantu orang lain, biasanya akan mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Kehebatan tangan Tuhan dalam membantu hamba-Nya juga adalah salah satu keajaiban dalam alam manusia. Manusia yang beriman akan dengan lembut menerima takdir dan tanggung jawab bahwa saling membantu itu adalah tugas mulia.
Tak Ada Yang Aman
Apa yang bisa diambil sebagai hikmah dari berbagai bencana alam yang terjadi di tanah air? Besarnya jumlah korban gempa yang meninggal, hancurnya berbagai rumah dan harta benda, maupun berbagai penderitaan lainnya tentu saja sangat memilukan. Mungkin Anda bisa membayangkan, bagaimana menyengatnya debu awan panas dari ‘wedhus gembel’ yang menyembur dari Merapi saat kita sedang terlelap tidur. Atau dahsyatnya terjangan tsunami atau tanah longsor yang begitu tiba-tiba sehingga kita tak dapat berlari untuk menyelamatkan diri.
Kita yang selamat ataupun jauh dari daerah gempa, tentu akan merasa tersayat melihat kondisi saudara atau kenalan yang menjadi korban gempa. Tentu kita bisa berkaca diri: layakkah kita berpangku tangan atau malah bersikap sombong dengan mengatakan bahwa musibah terjadi akibat warga atau penduduknya banyak berbuat dosa, seperti tersebar dalam sms berantai yang tidak bertanggungjawab.
Menurut para ahli, gempa yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia terutama disebabkan pergeseran lempeng bumi. Kebetulan, kepulauan di Indonesia berada di atas pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Selain itu, negara kita juga memiliki banyak gunung berapi aktif yang dapat meningkat aktivitasnya sewaktu-waktu. Bahkan para ahli juga mengatakan bahwa tak ada tempat atau wilayah di Indonesia yang cukup aman dari bencana, khususnya gempa bumi.
Kepedulian Sosial
Solidaritas atau kepedulian sosial merupakan salah satu hikmah dari berbagai bencana yang menimpa kita. Lihat saja bantuan dan sumbangan yang begitu cepat dan demikian besar terkumpul untuk para korban gempa maupun korban bencana alam lainnya. Apalagi didukung pemberitaan televisi dan cepatnya informasi tersebar melalui internet, semakin menguatkan kepedulian sosial masyarakat dari berbagai penjuru tanah air.
Namun yang tak kalah pentingnya, dari bencana yang selalu mengintai kita setiap saat, mestinya membuat kita semakin waspada terhadap ancaman bencana. Pemerintah, melalui berbagai sumber daya yang dimiliki, mestinya dapat membuat teknologi deteksi dini yang lebih akurat. Para ahli dan berbagai pihak, dapat menyumbangkan keahliannya untuk meminimalisir dampak kerusakan akibat bencana.
Kita pun dapat belajar dari Jepang, sehingga korban gempa maupun bencana alam dapat ditekan. Kita pun dapat belajar agar selalu siap menghadapi bencana dan menjadi masyarakat yang sadar bencana. Sehingga ancaman bencana alam bukan sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti melainkan menjadi sesuatu yang telah diantisipasi.

