logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Liburan & Rekreasi    Tempat Wisata    Wisata Sejarah dan Budaya

Pesona Budaya dan Wisata Kota Yogyakarta


Ilustrasi kota yogyakarta

Pernahkah Anda berkunjung ke Kota Yogyakarta? Provinsi yang satu ini pernah menjadi ibukota negara pada masa lalu. Oleh karena itu, Yogyakarta disebut daerah istimewa. Bukan hanya pernah menjadi ibukota negara, tetapi kota ini juga penuh dengan pesona wisata. Pesona Kota Yogyakarta terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarah, baik peninggalan dari kolonial Belanda maupun peninggalan situs budaya lokal.

Kota Yogyakarta terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code (yang membelah kota dan kebudayaan menjadi dua), dan Sungai Gajahwong. Kota Yogyakarta terletak pada jarak 600 km dari Jakarta, 116 km dari Semarang, dan 65 km dari Surakarta, pada jalur persimpangan Bandung - Semarang - Surabaya - Pacitan. Kota ini memiliki ketinggian sekitar 112 m dpl. Meski terletak di lembah, kota ini jarang mengalami banjir karena sistem drainase yang tertata rapi yang dibangun oleh pemerintah kolonial, ditambah dengan giatnya penambahan saluran air yang dikerjakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Di samping itu, kota kecil ini memiliki banyak keunikan dan penduduknya pun ramah. Kekentalan seni dan budaya Jawanya yang melekat merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Yogyakarta. Kota Yogyakarta juga dikenal dengan julukan kota pelajar karena banyaknya pelajar atau mahasiswa yang menuntut ilmu di sini. Salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ini adalah Universitas Gadjah Mada. Julukan kota gudeg juga disandangnya. Gudeg merupakan makanan khas orang Yogyakarta. 

Peninggalan Situs Sejarah dan Budaya di Kota Yogyakarta

Di Kota Yogyakarta, terdapat beberapa gedung-gedung tua peninggalan zaman kolonial Belanda. Lihat saja bangunan sepanjang jalan menuju Malioboro, seperti gedung kantor pos dan Bank Indonesia. Selain itu, ada juga bangunan-bangunan yang menjadi simbol budaya kesultanan atau kerajaan.

1. Keraton Yogyakarta

Keraton ini merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun keberadaan keraton ini di tengah kota Yogyakarta, keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya. Segala tradisi kesultanan masih dijalankan seperti biasanya.  Keraton ini juga memiliki daya tarik wisata. Setiap harinya selalu dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, apalagi di musim liburan.

2. Tamansari

Tidak jauh dari keraton ada sebuah situs bekas taman istana Keraton Yogyakarta yang dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I pada 1758. Taman ini bernama Tamansari. Luas taman ini sekitar 10 hektar. Bangunan-bangunan yang ada di areal Tamansari masih berdiri kokoh hingga kini. Dalam situs ini terdapat kolam pemandian, tempat sakral untuk pertapaan, dan masjid bawah tanah. Situs ini menjadi daya tarik wisata yang sarat akan nilai seni, budaya, dan sejarah.

3. Kampung Kauman

Hampir sebagian besar wisatawan sering melewatkan daerah ini. Kampung Kauman merupakan kampung bersejarah. Sebelum memasuki perkampungan terdapat sebuah gapura besar yang bagian atapnya melengkung, yang merupakan ciri khas bangunan Islam. Pada zaman kerajaan dahulu, kampung ini adalah tempat tinggal para penghulu agama di keraton yang jumlahnya sembilan orang. 

Di kampung ini juga terdapat sebuah monumen yang dikelilingi taman kecil. Pada monumen itu terdapat daftar nama orang-orang yang mati syahid dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kunjungan ke kampung ini tidak lengkap jika tidak mengunjungi masjid Agung Kauman.

4. Museum Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg adalah benteng peninggalan Belanda yang ada di kota Yogyakarta. Pada masa itu, benteng ini berfungsi sebagai markas tentara Belanda. Setelah pasukan Belanda dikalahkan, benteng ini beralih ke tangan Jepang dan digunakan sebagai tempat tahanan untuk tawanan orang Belanda atau Indonesia yang ditangkap. Pada saat kemerdekaan, benteng Vredeburg kembali direbut bangsa Indonesia. Kini, benteng tersebut difungsikan sebagai museum sejarah.

5. Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.

Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa. Untuk bisa mengenakan pakaian adat Jawa, Anda bisa menyewanya di sana. Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 - 16.00.

6. Panggung Krapyak

Panggung Krapyak merupakan petunjuk sejarah bahwa wilayah Krapyak pernah dijadikan sebagai area berburu. Panggung Krapyak ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I. Bila berminat, Anda bisa mendatanginya dengan melaju ke selatan dari Alun-Alun Kidul, melewati Plengkung Gading dan Jalan D.I Panjaitan. Panggung Krapyak akan ditemukan setelah melaju kurang lebih 3 kilometer, berada tepat di tengah jalan.

Arsitektur bangunan panggung ini cukup unik. Setiap sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan dua buah jendela. Pintu dan jendela itu hanya berupa sebuah lubang, tanpa penutup. Bagian bawah pintu dan jendela berbentuk persegi tetapi bagian atasnya melengkung, seperti rancangan pintu dan jendela di masjid-masijd.

Kawasan Wisata di Kota Yogyakarta

Selain situs sejarah dan budaya yang dimilik, Kota Yogyakarta memiliki pesona wisata yang tak kalah dengan kota lain. Objek wisata yang bisa dikunjungi di antaranya kompleks Candi Prambanan, daerah Kaliurang, dan pantai Parangtritis. Kota Yogyakarta pun dikenal dengan sentra kerajinan dan batiknya. Kasongan adalah salah satu sentra kerajinan gerabah yang terkenal. Sentra kerajinan perhiasan perak terdapat di daerah Kota Gede. 

Malioboro

Di pusat kota Yogyakarta terdapat pusat belanja wisata dan kuliner. Sepanjang Jalan Malioboro terkenal dengan wisata kuliner ala lesehan dan angkringan. Masih di Jalan Malioboro juga terdapat pasar Beringharjo sentra penjualan batik dan oleh-oleh khas kota Yogyakarta.

Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo menjadi sebuah bagian dari Malioboro yang sayang untuk dilewatkan. Bagaimana tidak, pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis di kota Yogyakarta. Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar 'Catur Tunggal', yang terdiri dari Kraton, Alun-Alun Utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo yang melambangkan fungsi ekonomi.

Anda bisa membeli berbagai jenis batik yang disediakan oleh para penjual di pasar Beringharjo ini. Di pasar ini terdapat banyak jenis batik, tidak hanya dari kota Yogyakarta saja, tetapi juga dari daerah lain. Kain batik baik tradisional maupun kontemporer dan modern juga tersedia di pasar Beringharjo ini. Bahkan hampir semua kebutuhan sandang seperti busana, tas, taplak meja, sprei batik, aneka kerajinan kain batik ada di sini.

Pasar Seni Gabusan

Pasar yang berlokasi di Jalan Parangtritis km 9 ini selama 2 tahun terakhir telah menjadi pusat jual beli kerajinan dari seluruh Bantul. Bukan sekedar pasar, Gabusan juga dilengkapi dengan fasilitas lain, seperti tempat jajan, akses teknologi informasi hingga toko kebutuhan sehari-hari. Di pasar seni Gabusan ini Anda bisa menikmati karya seni warga Bantul tanpa harus kelelahan menjelajahi setiap dusun yang memproduksinya.

Tiba di kawasan Pasar seni Gabusan, Anda akan disapa oleh gerbang yang didesain sangat menarik. Di gerbang itu, tersedia resto yang akan memanjakan lidah, tempat penyebrangan dan ramp. Bersantap di resto itu, selain menikmati lezatnya hidangan Anda juga dapat melihat pemandangan seluruh kawasan Gabusan dari atas. Tak jauh dari wilayah itu, terdapat ruko sebagai pusat informasi sekaligus tempat pelayanan kebutuhan wisatawan.

Sentra Pembuatan Keris di Kampung Serangan Kota Yogyakarta

Kampung Serangan di kota Yogyakarta mengajak anda menikmati aktivitas penatah keris, profesi yang begitu penting berkaitan dengan keris namun kadang terlupa. Mereka menghias keris dengan ukiran dan pernik dari emas hingga berlian. Bila telah sampai di rumah para penatah keris itu, Anda bisa melihat secara langsung proses menghias keris dengan ukiran-ukiran dan beragam pernik.

Kampung Serangan dapat dijangkau dengan berjalan ke arah barat dari perempatan Kantor Pos Besar, atau berbelok ke kiri bila anda berjalan dari Malioboro. Anda akan sampai ke kampung ini setelah melewatkan 2 traffic light dan berbelok ke kiri di sebuah gang yang terletak belakang kompleks terminal Serangan. Anda bisa menggunakan taksi atau naik bis jalur 9 dan 12 bila tak memiliki kendaraan pribadi.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tempat-tempat Wisata Indonesia yang Eksotis
  • Sejarah Museum Dirgantara di Indonesia
  • Rumah Makan Tradisional Sunda
  • Ada Hewan Purbakala di Museum Zoologi
  • Penjelajahan Museum Keramik di Kota Tua
  • Wisata Sejarah di Monas Jakarta
  • Jembatan-jembatan Bersejarah di Indonesia
  • Wisata Alternatif mengunjungi Istana Negara
  • Makna Perjalanan Sejarah Museum Gajah
  • Tips Bagi Penyewa dan Pemilik Villa
  • Keraton Yogyakarta - Bangunan dan Alun-alun Bernilai Sejarah Tinggi
  • Mari Berwisata Sejarah ke Museum Transportasi
  • Museum KAA - Saksi Sejarah Tercetusnya Gerakan Non Blok
  • Tempat-Tempat Bersejarah di Indonesia
  • Tempat Wisata Jakarta yang Menjadi Primadona
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA