Kala Letusan Krakatau Menggelegar

Dahulu, dunia pernah dikejutkan oleh letusan menggelegar dari Gunung Krakatau. Krakatau meletus begitu dahsyat. Memuntahkan berjuta-juta magma dan berbagai material vulkanik dari perut bumi dengan kekuatan setara 200 megaton TNT. Menyelubungi langit dengan debu yang bertahan hingga ratusan hari setelah letusan berakhir.
“Kiamat” Krakatau
1883 adalah tahun yang jadi saksi bagaimana mengerikannya akibat letusan gunung berapi yang terletak di Selat Sunda ini. Sebanyak 36.417 orang meregang nyawa, 165 permukiman hilang, dan 132 desa luluh lantak. Gelombang tsunami pun terjadi pascaletusan Gunung Krakatau. Menyapu sebagian besar pantai timur Pulau Sumatera dan pantai barat Pulau Jawa. Bahkan, pantai barat di Amerika, Hawaii, dan Afrika Selatan juga terimbas efek tsunami tersebut.
Tidak hanya itu, suara letusan yang ditimbulkan Gunung Krakatau teramat kuat. Hampir 1/8 penduduk di bumi dapat mendengar letusan Gunung Karakatau. Benar-benar teramat dahsyat suaranya hingga mampu melintas samudera dan benua. Abu vulkanis pun menyelimuti atmosfer bumi. Sebanyak 25 kilometer kubik batu dan abu beterbangan ke udara.
Saking pekatnya, sinar matahari tak mampu menebusnya hingga membuat bumi selama dua setengah hari gelap gulita. Matahari pun bersinar redup hingga setahun berikutnya. Iklim global ikut terganggu. Bumi saat itu seolah-olah dilanda kiamat.
Anak Gunung Krakatau
Ternyata, tidak hanya makhluk hidup di bumi yang merasakan akibat letusan Gunung Krakatau. Gunung Krakatau pun ikut terkena dampak letusan maha dahsyat tersebut. “Tubuh” Krakatau hancur berkeping-keping tak mampu menyangga letusan yang mengerikan itu. Setelah letusan yang terjadi, Gunung Krakatau hilang dari muka bumi untuk selama-lamanya.
Namun, 44 tahun kemudian (1927), “lahir” sebuah gunung baru persis di lokasi Krakatau berada. Gunung itu dinamakan Anak Krakatau. Penamaan yang tepat karena gunung ini pun memiliki sifat yang sama seperti “induknya”, Gunung Krakatau. Anak Gunung Krakatau mewarisi sifat Krakatau, yaitu sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di dunia.
Sejak Anak Krakatau telah sempurna berbentuk sebagai gunung di atas lautan, para ahli vulkanologi kembali disibukkan untuk terus memantau keaktifan gunung tersebut. Puncaknya, pada November 2010, Anak Gunung Krakatau meletus seiring meletusnya Gunung Merapi.
Walaupun letusan dan gempa vulkanik yang terjadi tidak sebesar Gunung Merapi atau seperti letusan maha dahsyat induknya, Krakatau, Anak Krakatau telah menyita perhatian masyarakat Indonesia. Letusan itu bisa jadi sebagai isyarat bahwa sewaktu-waktu Anak Gunung Krakatau dapat menjadi ancaman serius seperti Krakatau.






