Kredit Rumah tanpa DP ? Ah Masak…
Kredit rumah tanpa DP atau uang muka ? Ah masak… Begitu mungkin ungkapan kita mendengar informasi semacam ini. Informasi semacam ini tak berbeda jauh dengan penawaran kredit rumah berbunga rendah, ataupun harga rumah murah.
Informasi semacam ini lebih merupakan trik pemasaran para developer ataupun lembaga pembiayaan namun intinya tak mengubah esensinya mengambil untung besar dari bisnis properti.
Terlalu Mewah
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok yang relatif terlalu mewah untuk kebanyakan orang. Berbeda dengan kebutuhan pokok lainnya yang dikenal dengan 3P (pangan, pakaian, dan papan), seperti nasi dan pakaian yang relatif mudah didapatkan, memiliki rumah seakan seperti impian yang terlalu tinggi. Untuk mendapatkannya pun orang harus menunggu hingga bertahun-tahun. Bahkan tak jarang yang hingga mati pun belum mendapatkannya.
Program rumah rakyat yang dilaksanakan pemerintah tampaknya juga masih jauh dari harapan. Kebutuhan yang tinggi terhadap rumah menyebabkan harga tanah turut melambung.
Pemerintah pun tak mampu membuat pemukiman baru berstandar yang murah untuk rakyat tanpa terpengaruh permainan mafia tanah, bisnis properti, ataupun bunga perbankan. Tanah, air, udara, dan yang terkandung didalamnya nampaknya belum mampu mampu dikelola secara optimal untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Tak Terkendali
Untuk mendapatkan rumah murah, kredit rumah tanpa dp, ataupun kredit rumah berbunga rendah, rasanya masih jauh dari harapan. Harga rumah di Perumnas tentunya ditetapkan berdasarkan harga tanah saat pembebasan maupun biaya produksi pembangunannya.
Namun sayangnya, meskipun lokasi perumnas itu sebelumnya jauh di pelosok dengan nilai yang tak seberapa, namun bisa langsung naik menjadi relatif mahal ketika mendengar kawasan itu akan dijadikan lokasi Perumnas.
Bisnis properti merupakan salah sektor yang perkembangannya boleh dikata lebih sering tak terkendali. Ketika suatu wilayah mempunyai prospek bisnis yang cerah, otomatis akan mendorong naiknya harga tanah di kawasan itu.
Begitu juga sebaliknya, kenaikan harga tanah memicu perkembangan bisnis di kawasan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena memang sengaja diciptakan. Informasi tentang rencana pengembangan tata kota merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi tersebut.
Begitu juga dengan faktor pengaruh lainnya, seperti adanya pembangunan suatu pusat aktifitas juga dapat memicu perkembangan kenaikan harga tanah dan rumah. Yogyakarta, merupakan salah satu kota di Indonesia yang perkembangan harga tanah dan rumahnya terbilang sangat tinggi.
Ketika suatu perguruan tinggi berencana membangun kampus terpadu di suatu wilayah, langsung saja harga tanah di sekitarnya melambung tanpa bisa dikontrol. Padahal masih baru dalam tahap rencana.
Bagi orang awam seperti kita memang agak sulit memahami permainan harga semacam ini. Apalagi pemerintah juga tidak mampu mengendalikannya. Begitu juga dengan perhitungan bunga kredit, sangat diwarnai dengan nuansa komersial murni.
Kredit rumah tanpa dp bisa saja ada, namun tentunya akan menaikkan bunga cicilan. Karena berapapun uang muka yang dibayarkan untuk kredit rumah, hasil akhirnya tentu menguntungkan pihak bank atau developer, meskipun itu termasuk program rumah rakyat yang mendapatkan subsidi pemerintah.






