Kritik Sastra: Dialog dalam Novel "Iblis Menggugat Tuhan"
Ilustrasi kritik sastra
Kritik sastra merupakan tanggapan seorang pembaca secara obyektif terhadap sebuah karya sastra dengan cara menguraikan secara detail segala nilai baik dan buruknya yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Hal ini kadang tidak terlepas dari subyektivitas pengkritik sastra karena kritik sastra berkaitan erat dengan seberapa baik pemahamannya terhadap teori sastra serta kejeliannya dalam menilai sebuah karya sastra.
Bagaimanapun, kritik sastra dibutuhkan untuk dapat menjadi acuan bagi sastrawan agar dapat meningkatkan kualitas karya sastranya. Sedangkan bagi para pembaca sastra, kritik sastra dapat membuat mereka mampu memaknai dan tahu cara mengapresiasi sebuah karya sastra. Dalam menulis sebuah kritik sastra, terdapat beberapa langkah yang dapat dijadikan sebagai rujukan, di antaranya adalah:
- Memilih pengarang/ astrawan
- Memilih karya sastra
- Menyisipkan opini maupun pandangan seseorang terhadap karya tersebut
- Memulai untuk menulisnya
Pada artikel ini, penulis akan membahas sebuah kritik terhadap sebuah novel karya Shawni yang berjudul "Iblis Menggugat Tuhan". Sebuah novel yang diterjemahkan dari bahasa Inggris dengan judul "The Madness Of God". Novel ini bercerita tentang perdebatan seorang pendeta bernama Buhairah dengan Iblis. Berikut ini penjabarannya.
Kritik Sastra - Dialog yang "Berani"
Problema tentang Ketuhanan merupakan suatu problema yang klasik, namun masih cukup menarik untuk dibahas dalam suatu kajian tentang agama. Perbedaan konsep Ketuhanan dari tiap agama yang bertebaran di seluruh dunia serta perkembangan pemikiran tentang ketuhanan dari waktu ke waktu telah membuat kajian tentang Tuhan menjadi semakin rumit dan kompleks. Tuhan seakan telah "Diadili" oleh pemujanya sendiri.
Kajian tentang Ketuhanan tidak hanya berkembang melalui berbagai literatur ilmiah semata. Bahkan, tak sedikit karya sastra yang justru lebih efektif dalam menyampaikan pemikiran sang penulis tentang Ketuhanan. Salah satu karya tersebut adalah sebuah novel karya Shawni yang berjudul "Iblis Menggugat Tuhan" ini.
Dalam novelnya, Shawni menjabarkan pemikirannya secara lugas dengan latar masa lalu. Dimana tokoh Buhairah menjadi tokoh utama (protagonis), pemuda marcionit dan iblis sebagai tokoh antagonis, dan nabi Muhammad sebagai pemeran pembantu.
Mayoritas dalam novelnya dan merupakan kekuatannya adalah dialog. Shawni lebih menekankan dialog antartokoh sebagai ajang untuk menyampaikan pemikirannya kepada pembaca. Ia memang telah berhasil dalam menyajikan dialog-dialog yang provokatif, tajam, bahkan kontroversial sekalipun.
Seperti yang terdapat dalam sebuah ucapan dari seorang marcionit kepada Buhairah, yaitu "…….jika memang hanya ada satu Tuhan, dan apabila Tuhan Bapak serta Yahwehnya bangsa Yahudi itu sebenarnya sama, maka Tuhan pasti sudah gila— atau ia memang gila sejak awal! Bisakah kau menjelaskan kegilaan-Nya?"
Menganggap Tuhan sebagai Dzat yang "Gila" adalah sebuah ungkapan yang sangat kontroversial, kecuali bila Anda berada di negara AS yang menganggap hujatan terhadap Tuhan sebagai hal yang lumrah (kita seringkali mendengar umpatan khas Amerika "God Damned !"). Namun, bagi bangsa Timur, hal itu merupakan pernyataan yang dapat memacu konflik. Hal seperti itulah yang kemudian melahirkan suatu kritik sastra. Selain percakapan di atas, ucapan yang senada juga terdapat dalam dialog sebagai berikut:
Buhairah berkata, "Di bawah pengaruhmu, umat manusia kelaparan, saling membunuh dan berperang. Mereka singkirkan apa yang justru menjadi perintah Tuhan dan berlomba-lomba melakukan larangan-Nya."Iblis berkata, "Kujebloskan mereka dalam penderitaan dan kesengsaraan, itu benar. Tapi melalui penderitaan dan kesengsaraan justru watak asli manusia bisa tersingkap.
Tuhanku berkata, "Lakukan semaumu terhadap mereka, tapi biarkan mereka hidup. Hanya dengan demikian akan kita lihat seberapa berharganya harta mereka (di mata mereka) dan seberapa tulus cinta mereka. Hadapkan cermin penderitaan pada mereka, agar mereka mampu melihat kesejatian diri dan bersaksi atas diri mereka sendiri— tak peduli apakah mereka tampan atau buruk rupa. Di akhirat nanti, tak akan lagi mereka rebut seperti sekarang. Mata, kedua tangan, dan lidah mereka akan menjadi saksi atas apa pun yang telah mereka lakukan."
Shawni begitu piawai dalam mengungkapkan pembelaan Iblis untuk dirinya sendiri terhadap tuduhan Buhairah, seakan-akan Iblis itu adalah Shawni sendiri. Shawni mampu merangkai dialog yang paradoksal dengan sebuah "Tuduhan" yang sama. Ia mampu mengangkat sisi lain dari sebuah hal untuk dijadikan sebagai tuduhan sekaligus pembelaan.
Dialog atau dialektika dalam istilah dunia Filsafat memang merupakan cara yang paling ampuh untuk mencari kebenaran, terutama tentang kebenaran yang metafisik (Tuhan, alam Gaib, Akhirat, dll). Hal itu karena manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan indera tidak akan mampu berbincang kepada Tuhan secara langsung, kecuali beberapa nabi yang diistimewakan oleh Allah. Sehingga dialektika dapat dijadikan sebagai sarana yang paling efisien dalam mencari kebenaran, meskipun kebenaran yang dihasilkan hanya bersifat relatif.
Hal itulah yang sekiranya dipahami oleh Shawni sehingga ia lebih memperbanyak dialog daripada narasi. Kelihaian Shawni dalam menciptakan dialog-dialog cerdas dalam novelnya tersebut dapat memungkinkan pembaca menjadi berubah keyakinan, hingga kadang dapat membenarkan argumentasi para tokoh antagonis (pemuda Marcionit dan Iblis). Sehingga tidak berlebihan bila Harian Republika mengatakan "Novel ini penting dibaca oleh para monoteis yang kritis".
Kritik Sastra - Dialog yang "Meluber"
Sayangnya, di dalam novel tersebut terdapat beberapa dialog yang sekiranya terlalu "meluber" ke arah pembahasan yang lain, seperti kisah tentang nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, nabi Musa dan Fir'aun, Sultan Mahmud dan anaknya, dll. Kisah-kisah tersebut seakan hanya berfungsi untuk menambah jumlah halaman saja. Hal itu seperti yang dapat kita lihat dalam dialog sebagai berikut.
Rasulullah SAW berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya keesaan Allah itu tersembunyi dari menara logikamu. Singkirkan keraguanmu, pengetahuan tentang keesan Allah sungguh berbahaya, dan yang mencari mudah sekali tersesat. Engkau tak mungkin sanggup menanggung beratnya pengetahuan yang engkau inginkan.
Tak cukupkah engkau dengan nikmat keimanan dan kepercayaanmu pada Allah? hanya dengan itu pun dia akan mencukupinmu. Engkau tak mungkin bisa meraba ujungnya, yang merupakan tujuan akhir dari semua ini. Mestikah orang yang rabun menilai bagaimana rupa puncak gunung ? cobalah untuk menahan diri dari logika dan penilaian pribadi dalam hal ini.
Rasulullah SAW bertutur, " Dahulu kala, ada seorang ratu dari Saba' bernama Balqis, yang menganggap dirinya sebagai yang paling bijak dan berkuasa. Tapi pada malam hari ia selalu bermimpi tentang seorang lelaki yang menduduki tahtanya, memerintah kerajaannya dari singgasana miliknya. Wajah si lelaki begitu elok dan bersinar lembut layaknya mentari fajar. Di sekelilingnya berbaris sekalian hewan, jin, dan manusia — seluruhnya menghamba pada si lelaki yang memerintah di atas singgasana yang mestinya milik sang Ratu………"
Dalam penggalan ucapan Rasulullah yang sedang berdialog dengan Buhairah tersebut, dapat dilihat betapa pembahasan yang disajikan menjadi melebar ke hal-hal lainnya. Pembahasan yang pada awalnya mengacu pada argumentasi tentang kelemahan logika manusia, tiba-tiba melebar kepada cerita tentang Ratu Balqis.
Meskipun pada akhirnya (pada intinya), cerita tentang Ratu Balqis dalam dialog tersebut masih berkaitan dengan kelemahan akal manusia, tapi penjelasan yang diungkapkan terlalu berbelit-belit. Dalam penulisan sastra yang baik, seharusnya hal itu dapat disiasati dengan penceritaan yang ringkas dan tetap mengacu pada pembahasan inti. Sehingga pembaca tidak merasa dibingungkan karena pembahasan yang bertele-tele tersebut, bahkan dapat memperkuat argumentasi yang dijabarkannya.
Atau mungkin bila terdapat koreksi dari pihak editor bahwa naskahnya terlalu sedikit untuk dijadikan sebuah novel, hal ini dapat disiasati dengan menyisipkan kisah-kisah Nabi Muhammad. Jadi, tidak terlalu melenceng dengan pembahasan novel tersebut (karena Nabi Muhammad juga menjadi "peran" dalam novel itu) atau bisa saja kisah-kisah sampingan dari tokoh-tokoh dalam novel tersebut yang masih ada kaitannya dengan tema utamanya.
Demikianlah sebuah kritik sastra yang penulis ulas dalam artikel ini. Perlu diingat bahwa semakin Anda mampu memahami dan jeli dalam meneliti sebuah karya, maka semakin baik pula kritik sastra yang Anda uraikan. Hal ini juga tidak terlepas dari seberapa tinggi wawasan Anda tentang dunia sastra dan nilai-nilai estetika dalam seni sastra.

