Mengenal Seni Kriya Ukiran Nusantara
Ilustrasi kriya ukiran
Decak kagum selalu terlolos manakala memperhatikan berbagai macam seni ukir, dari mulai yang tradisional sampai dengan ukiran kontemporer. Seni ukir atau kriya ukiran memang termasuk salah cabang seni yang memerlukan keseriusan dan keterampilan tersendiri, sehingga tidak semua orang bisa melalukan atau membuat seni ukir dari bahan apapun itu.
Menyoal ikhwal kriya ukiran kayu, memang tidak bisa terlepas dari sebuah bidang ilmu bernama seni rupa. Sebagai sebuah bidang seni, seni kriya termasuk salah satu cabang seni rupa. Untuk diketahui saja bahwa seni rupa terbagi ke dalam tiga bagian besar, yakni seni rupa murni, seni rupa kriya, dan seni rupa desain. Karena termasuk garapan bidang seni itu tadi, tidak semua orang bisa melakukan atau membuat seni ukir.
Seiring perkembangannya, dua bagian seni rupa yang terakhir disebut telah dikelompokkan dalam satu cabang seni rupa sehingga istilahnya pun berganti menjadi seni rupa terapan atau applied art. Seni rupa terapan adalah segala bentuk kesenian yang dapat diihat dan diraba. Selain itu, fungsi utamanya tidak sekadar sebagai karya seni semata melainkan mengedepankan pula sisi manfaat praktisnya atau nilai pakainya. Sebab itulah seni kriya ukiran kayu termasuk seni terapan, yang dalam bentuknya bisa berbagai macam keperluan atau kebutuhan masyarakat.
Pengertian manfaat praktis yang dimaksud dalam seni rupa terapan sebenarnya bukan hanya bagi si pencipta karya seni bersangkutan, tetapi juga bisa digunakan oleh khalayak luas. Sisi keterpakaian karya seni rupa terapan merupakan unsur utama yang paling diperhatikan dalam setiap penciptaan karya seni terapan ini. Manfaat praktis seni kriya ini meliputi fungsinya sebagai benda pakai, benda hias, dan sebagai benda mainan. Hal ini tentu saja berbeda bila dibanding dengan seni rupa murni, sekalipun dalam prakteknya bisa pula digunakan sebagai benda hias.
Seni Kriya Ukiran
Negara Indonesia merupakan daerah tropis yang sebagian besar wilayahnya diisi oleh lautan dan juga hutan. Nah, hutan yang tersebar di banyak tempat di Indonesia tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi lahirnya kerajinan kriya ukiran ini. Kriya ukiran memang lebih banyak menggunakan bahan baku kayu sebagai komposisi utamanya.
Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa seni kriya ukiran ini juga bisa dibuat dengan menggunakan aneka bahan lainnya, seperti bambu, tanah liat, logam, batu, dan lain-lain. Seni kriya ukiran ini disebut juga dengan seni kerajinan tangan atau handicraft karena selama penciptaannya keahlian tanganlah yang benar-benar mempengaruhi nilai estetik kriya ukiran ini.
Namun karena kayu sebagai kekayaan alam yang banyak ditemui di hampir seluruh wilayah Indonesia, telah menginspirasi para seniman untuk memanfaatkan kayu ini sebagai salah satu bahan seni kriya ukiran. Selain gampang diperoleh, kayu juga gampang diolahnya tidak seperti mempergunakan logam atau batu misalnya. Sekalipun kedua bahan tersebut juga gampang ditemukan di wilayah Indonesia.
Keterpakaian bahan kayu dalam seni kriya ukir juga dilator belakangi oleh pemikiran para seniman tempo dulu yang merintis penggunaan kayu ini. Telah dimafhumi sejak dulu bahwa para seniman pada awalnya berkreasi mempergunakan bahan-bahan yang dekat dengan dirinya, selain sebagai wujud penghormatan kepada kekayaan alam di sekitarnya. Rasa takjub para seniman terhadap kekayaan alam yang ada di nusantara juga menjadi latar belakang tersendiri yang memunculkan ide kreatif untuk membuat berbagai macam seni ukir.
Seni Kriya Desain
Berbeda bahan dasar, namun memiliki fungsi yang sama dengan seni ukir, seni kriya desain pun tergolong ke dalam seni kriya terapan. Berbagai hasil seni kriya desain ini memiliki nilai seni dan tentu saja nilai pakai bagi masyarakat luas. Seni kriya desain ini meliputi, desain grafik, desain arsitektur, dan desain produk.
Beberapa contoh hasil kerajinan kriya desain, di antaranya banner, baliho, bangunan gedung, jembatan, dan berbagai busana lengkap dengan aksesorisnya. Sama-sama sebagai jenis karya seni, sehingga seni kriya desain ini pun senantiasa melahirkan berbagai karya dengan sentuhan seni tinggi, sehingga orang termanjakan menikmatinya. Sebagai karya seni, seni kriya desain pun senantiasa menuai decak kagum bagi masyarakat awam yang tidak semua orang memiliki kecapakan melahirkan karya seni seperti itu.
Karena merupakan bagian dari seni rupa itu pula, seni kriya desain pun cukup mahal harganya. Setidaknya karena telah mengalami sentuhan seniman itulah produk ini berbeda dibanding produk lainnya yang tidak memerlukan sentuhan seni. Sekalipun dengan ditemukannya mesin duplikasi, seni kriya desain yang diproduksi pabrikan ini kemudian bisa memangkas ongkos kreatif, sehingga bisa dijual ke pasaran menjadi lebih murah atau terjangkau. Model produk yang telah mengalami sentuhan pabrik adalah seni kriya desain dalam wujud gambar pada kaos.
Sentra Kriya Ukiran Nusantara
Seni kriya ukir yang dimiliki Indonesia tidak terpusat di satu tempat saja. Banyak sentra kriya ukir yang tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara. Selain itu, setiap daerah yang menjadi sentra kriya ukir ini memiliki kekhasan sendiri dalam menciptakan ukirannya. Banyaknya sentra kriya ukir nusantara dapat dilihat dari banyaknya motif ukiran kayu yang meliputi motif Yogyakarta, Majapahit, Mataram, Pejajaran, Pekalongan, Cirebon, Bali, Jepara, Surakarta, Madura, dan berbagai macam motif lainnya yang berasal dari luar Jawa.
Tentu saja bagi Indonesia sendiri kehadiran berbagai macam karya seni ukir nusantara ini semestinya menjadi kekayaan intelektual yang bisa dihargai sebagaimana mestinya. Jangan sampai berbagai karya kreatif tersebut diakui sebagai karya dari bangsa lain yang selama ini sering terjadi. Pencaplokan karya seni oleh bangsa lain merupakan salah satu bukti betapa lemahnya pemerintah kita dalam memproteksi setiap karya intelektual anak bangsa ini. Selain itu tentu saja karena pemerintah sendiri yang tidak menaruh perhatian dan minat pada setiap perkembangan karya intelektual, kecuali pada sedikit bidang saja.
Kekayaan seni ukir nusantara merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Bayangkan saja bila di nusantara ini adalah ribuan suku bangsa, artinya memiliki ribuan model dan motif seni ukir ini. Satu hal yang tak akan bisa didapatkan di negara dan bangsa lain. Sewajarnya pula bisa potensi dan kekayaan itu terus dikembangkan, sehingga seni ukir nusantara mendapat tempat di masyarakat lain dan secara global. Dengan cara seperti itulah seni ukir nusantara akan tetap tumbuh, berkembang dan lestari.
Demikianlah tentang seni ukiran kayu yang merupakan bagian dari cabang seni rupa yang termasuk ke dalam kelompok seni rupa terapan. Hanya saja dalam prakteknya para seniman yang memproduksi karya seni rupa terapan ini tidak mendapat penghargaan yang sepadan seperti para seniman yang melahirkan seni rupa murni, baik penghargaan berupa finansial maupun kelayakaan sebagai bagian dari kekayaan intelektual. Tidak mengherankan bila hasil karya seni rupa terapan ini kemudian seolah-olah menjadi karya massa yang siapa saja bebas mempergunakannya tanpa perlu meminta ijin kepada penciptanya.

