7 Materi Kultum Singkat: Pegangan Pemula Penceramah Agama Islam
Ilustrasi kultum singkat
Sahabat Ahira yang brilian. Segala puji hanya milik Allah Swt. Bahasan kita kali ini adalah tentang kultum singkat. Kultum adalah kependekan dari kuliah tujuh menit atau bisa juga disebut kuliah umum. Kultum singkat lebih populer dan familiar sebagai kuliah tujuh menit yang disampaikan penceramah agama Islam, ustadz dan ustadzah menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadhan.
Pada umumnya, kultum singkat berisikan materi ceramah yang sarat makna tentang nasihat kehidupan agar selamat di dunia dan di akhirat. Nasihat agama diperlukan sebagai pencerah batin dan penerang jiwa. Selain itu, kita bisa mendapatkan ilmu dari kultum singkat.
Makanan atau nutrisi bagi hati adalah ilmu. Ilmu di sini adalah ilmu yang bersifat vertikal dan horisontal. Vertikal adalah ilmu tentang tauhid, bagaimana menjalin hubungan baik dengan Tuhan, sebagai Gusti Pangeran, Pencipta alam semesta, Allah Swt. Sedangkan ilmu horisontal adalah ilmu bagaimana menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, makhluk Allah di muka bumi. Sekalipun tema kultum singkat beragam, prinsipnya selalu berfokus pada tugas kita sebagai manusia dan hubungan kita sebagai makhluk Tuhan.
Materi Kultum Singkat
Karena pada umumnya kultum singkat disampaikan pada bulan Ramadhan, berikut ini adalah tema-tema kultum singkat seputar Ramadhan dan yang berkaitan dengannya yang bisa dijadikan sebagai bahan ceramah.
1. Kultum Singkat: Marhaban Ramadhan, Selamat Datang Ramadhan
Ma’asyiral-muslimin wa zumratal-mukminin rahimakumullah.
Tanpa terasa saat ini kita diperkenankan oleh Allah Swt untuk bersama-sama menikmati bulan penuh berkah, penuh hikmah, penuh rahmah, dan berlimpah maghfirah. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan pahala sabar itu adalah surga. Ramadhan adalah bulan latihan, bulan yang ditambahnya rezeki orang-orang yang beriman.
Nabi Muhammad saw bersabda, "Bulan yang telah Allah wajibkan kepada kalian untuk berpuasa, dan menjadikan shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa mengerjakan amalan sunnah di bulan Ramadhan ini, ia akan mendapatkan pahala seperti amalan ibadah fardhu selain di bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengerjakan amalan fardhu di bulan Ramadhan, ia akan mendapatkan pahala seperti mengerjakan tujuh puluh kali amalan fardhu selain di bulan Ramadhan."
2. Kultum Singkat: Hikmah Puasa Ramadhan
Hadirin, kaum muslimin-muslimat hamba Allah yang berbahagia.
Pada hakikatnya, Allah tidak membutuhkan kebaikan yang dilakukan oleh makhluk-Nya. Sebab, Dia Mahakaya, sama sekali tidak membutuhkan kebaikan makhluk-Nya. Dia Mahakuasa, sama sekali tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya. Dan Dia Maha Memberi, sama sekali tidak membutuhkan pemberian makhluk-Nya. Adapun ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya itu adalah untuk kebaikan si hamba itu sendiri.
Setidaknya ada lima hikmah puasa. Pertama, puasa merupakan wujud ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya yang mempunyai kewajiban menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, puasa merupakan bentuk syukur terhadap nikmat, yakni menggunakan segala pemberian dan karunia Allah Swt sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Ketiga, puasa mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang amanah, benar, dan jujur. Walaupun tidak seorang pun mengetahui apa yang kita makan dan apa yang kita minum pada siang hari, orang yang berpuasa tidak akan melakukannya karena mempunyai keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak, langkah, dan perbuatannya. Keempat, puasa mendidik manusia bersikap istiqamah. Kelima, puasa berfungsi untuk membersihkan diri dari sifat yang hanya memperturutkan syahwat.
3. Kultum Singkat: Amaliah Ramadhan
Hadirin, hamba Allah yang berbahagia.
Selain menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kita dianjurkan untuk beramal. Ada lima amalan yang jika dilakukan dengan ikhlas akan bernilai ibadah. Pertama, membiasakan shalat tarawih pada malam hari, diutamakan secara berjamaah di masjid atau mushalla. Kedua, memperbanyak tadarus al-Quran, baik sendirian maupun berjamaah. Ketiga, memperbanyak zikir dan doa kepada Allah Swt. Keempat, memperbanyak sedekah kepada fakir-miskin. Kelima, memperbanyak iktikaf di masjid.
4. Kultum Singkat: Derajat Puasa
Imam al-Ghazali di dalam kitabnya yang berjudul Ihya Ulumiddin membagi orang-orang yang berpuasa menjadi tiga tingkatan sesuai dengan amaliahnya masing-masing.
Pertama, shaumul awam, yakni puasanya orang-orang awam yang hanya menahan diri dari lapar, haus, dan bersetubuh saja. Sementara mulutnya masih suka menggunjing, matanya masih suka melihat hal-hal yang menimbulkan syahwat, anggota badan lainnya masih suka melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak bernilai ibadah, dan sebagainya yang sia-sia.
Kedua, shaumul khusus, yakni puasa khusus. Puasa khusus adalah puasanya orang-orang yang telah mampu menahan dirinya bukan hanya dari lapar, dahaga, dan bersetubuh saja, melainkan dia sanggup menahan anggota badan lainnya dari hal-hal yang akan mendatangkan dosa.
Ketiga, shaum khushushil-khushush. Ini adalah tingkatan puasa yang paling istimewa, yaitu puasanya orang-orang yang bukan hanya menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, serta memelihara diri dari sifat-sifat tercela sebagaimana puasa khusus. Shaum khushushil-khushush adalah puasanya orang-orang yang mampu memelihara hatinya dari bisikan-bisikan duniawi. Hatinya senantiasa mengingat Allah Swt.
5. Kultum Singkat: Orang-Orang yang Dirindukan Surga
Ma’asyiral-muslimin wa zumratal-mukminin rahimakumullah.
Allah Swt berfirman di dalam al-Quran Surah Ali Imran ayat 133, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran [03]: 133)
Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk bersegera dan berlomba-lomba meraih ampunan dari-Nya. Allah akan menghadiahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang di dalamnya terdapat aneka keindahan dan kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Syekh Utsman bin Hasan di dalam kitabnya Dzurratun-Nashihin menguraikan empat golongan manusia yang dirindukan surga. Golongan pertama, orang yang gemar membaca al-Quran, baik di waktu pagi, siang, sore maupun malam. Membaca al-Quran dengan penuh khusyuk, penuh penghayatan, dan pemahaman.
Golongan kedua, orang-orang yang menjaga lisan dari ghibah, dusta, mengadu domba, fitnah, caci maki, dan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat, baik bagi si pembicara maupun bagi yang mendengarkannya.
Golongan ketiga, orang yang memberi makan yang kelaparan; orang yang senantiasa menyantuni fakir miskin dan orang-orang yang hidupnya serbakekurangan. Orang-orang yang menganggap bahwa harta yang dimilikinya itu bukanlah hak mutlak milik dirinya, melainkan hanya sebatas hak guna pakai. Harta itu akan membawa berkah jika didapatkan dengan cara yang baik, digunakan serta dibelanjakan dengan cara yang baik pula.
Golongan keempat, orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa adalah takwa. Puasa juga merupakan perisai.
6. Kultum Singkat: Pintu-Pintu Surga
Hadirin, kaum muslimin-muslimat hamba Allah yang berbahagia.
Khusus bagi orang-orang yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh, Allah telah menyediakan delapan tingkatan surga, yaitu Surga Darul-Jalal, Surga Darus-Salam, Surga Ma’wa, Surga Darul-Khuldi, Surga Na’im, Surga Darul-Qarar, Surga Firdaus, dan Surga Na’im.
Delapan tingkatan surga itu mempunyai delapan pintu gerbang yang akan dilalui oleh orang-orang beriman. Pertama, pintu Laa ilaaha illallah, Muhammadurrasulullah. Kedua, pintu al-Mushallin. Ketiga, pintu al-Muzakkina Amwalahum. Keempat, pintu al-Amru bil-Ma’ruf wan-Nahyu 'anil-Munkar. Kelima, pintu Qath’usy-Syahawat. Keenam, pintu al-Hujjaj wal-Mu’tamirin. Ketujuh, pintu al-Mujahidin. Kedelapan, pintu Ghadhdhul-Bashar wal-‘Amalush-Shalih.
7. Kultum Singkat: Hakikat Syukur
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. Shalawat pengiring rahmat tercurah kepada Rasulullah saw.
Allah Swt berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78)
Ayat ini memberikan pelajaran sekaligus peringatan kepada kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt. Nikmat-nikmat indrawi tersebut disempurnakan dengan nikmat harta kekayaan duniawi, nikmat surgawi, nikmat pengundang keridhaan Ilahi, nikmat hidayah iman dan islam.
Bersyukur artinya mengingat-ingat nikmat kemudian menampakkan nikmat tersebut serta menggunakannya. Syukur dapat dibagi menjadi tiga macam. Pertama, syukur dengan hati, yakni dengan mengingat-ingat dan merenungkan nikmat itu sendiri. Kedua, syukur dengan lisan, yakni dengan memuji dan menyanjung Sang Pemberi nikmat, minimal dengan ucapan hamdalah. Ketiga, syukur dengan anggota badan menggunakan nikmat-nikmat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Sahabat Ahira, kultum singkat memang pada umumnya mengangkat tema agama. Tidak ada salahnya juga apabila penceramah mengangkat tema-tema kekinian seperti tentang perkembangan teknologi internet untuk sarana dakwah atau bisa pula mengangkat tema kultum singkat wirausaha untuk sarana ibadah sesama manusia. Sesungguhnya tema kultum singkat bisa bersumber dari kejadian sehari-hari.

