logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Resensi

Film Dokumenter dalam Kumpulan Film Indonesia


Ilustrasi kumpulan film indonesia

Tak bisa dipungkiri kalau selera penonton turut menentukan tema film. Suatu saat tema cinta digemari masyarakat, maka film yang diproduksi pun sekitar itu. Sekarang, tema-tema cinta yang bergelayut di langit khayal lambat laun mulai ditinggalkan.

Tema-tema cinta seperti itu dianggap telah basi dan patut dikremasi saja. Sekarang justru tema cinta yang berpijak pada realitas keseharian mulai digemari. Kenyataanya masyarakat menyukai film yang lebih riil.

Film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi mendapat sambutan bagus dari penonton, karena diyakini sebagai realitas kehidupan yang diangkat ke dunia film. Begitu pun dengan film yang diangkat dari biografi pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan diharapan mendapatkan sambutan bagus.

Tak cuma di kumpulan film Indonesia, film produksi Amerika seperti The Killing Field, First Blood, Rambo dan film fenomenal, Titanic, mendapat sambutan hangat dari penonton dunia karena dianggap diangkat dari realita, sekalipun tidak sepenuhnya benar. Setidaknya film-film tersebut tak terlepas dari unsur propaganda yang mengandung kebohongan.

Film laga yang temanya sederhana dan berkutat dalam realitas kehidupan juga mendapat perhatian penonton. Hanya saja jika dibanding dengan produk impor, produksi film laga kita masih ketinggalan.

Film laga kita tak bisa mengungguli The Ways of the Dragon, Drunk Monkey atau Mission Kill. Baik dari ketajaman adegan ataupun dari kewajaran perkelahian. Keseruan film laga kita baru sampai berdarah-darah dan menampilkan kesadisan.

Lebih parah lagi untuk film horor. Produksi film horor kita masih berkutat dalam penampakan sosok hantu cantik. Padahal kita pernah mencatat film horor yang baik seperti Mirror. Sayang, tak diikuti produk-produk lain. Kita tak bisa mengungguli Friday The 13th, Exosist atau Poltergeist yang sukses mencekam penonton.

Kita Kalah Teknik?

Ini memang cerita lama. Tapi bukan satu-satunya alasan. Sepertinya tingkat seriusan dan logika kreativitaslah yang jadi biang keladinya. Jangan dulu bicara masalah modal. Perusahaan-perusahaan tertentu dengan sistem kerjasama, banyak yang berminat menggelontorkan dana untuk produksi film, sejauh bisa mempertanggungjawabkan hasilnya.

Ihwal logika dalam berkreasi, memang sering dianggap hal remeh. Padahal penonton kita sudah cerdas dan bisa memilih mana produk yang baik dan tidak baik. Bermunculannya sutradara muda hasil belajar di luar pun belum mampu menularkan bagaimana mempergunakan dan menjaga logika dalam berkarya.

Barangkali kita harus tetap berkaca pada bagaimana mendiang Teguh Karya berkarya. Ia memang teguh dalam berkarya, untuk selalu mempertimbangkan dan menjaga alur logika yang bisa diterima umum. Atau kecermatan Arifin C. Noer dalam menggunakan data dan logika, sekalipun agak sedikit kecolongan ketika menggarap Pengkhianatan G30S/PKI.

Penonton tetap menyukai film yang membumi, diangkat dari realita dan bisa diterima logika. Untuk beberapa catatan, film Laskar Pelangi cukup mewakili sebagai sebuah acuan. Indonesia yang memiliki sineas muda yang kreatif, cerdas, dan hebat-hebat tak perlu terlalu mengumbar kreasinya untuk sesuatu yang mengada-ada. Kecerdasan dalam berkreasi tetap harus bisa dipertanggungjawabkan.

Bagaimana Film Dokumenter dalam Kumpulan Film Indonesia?

Sebuah sejarah yang dijadikan sebuah film tentu akan sangat menarik perhatian penonton. Apalagi jika penonton yang dijadikan sasaran pasar film adalah kaum akademis yang mayoritas menykai sejarah.

Namun, ada suatu cara pandang yang berbeda saat seseorang membaca, melihat sendiri, atau menonton suatu kejadian yang diangkat dari kejadian nyata. Seperti halnya film dokumenter Pengkhianatan G 30 S/PKI yang digagas oleh Arifin C.Noer.

Asumsi sutradara dan penulis skenario sepertinya menjadi satu-satunya alat untuk menginterpretasikan kejadian tersebut sebagai fakta atau asumsi sebab peristiwa yang difilmkan pada dasarnya merupakan fakta yang diasumsikan kepada pendapat yang membuat film itu sendiri.

Tidak ada yang dapat mengetahui siapa yang salah dan benar secara mutlak mengenai sebuah peristiwa yang telah dialihwahanakan ke dalam karya, terutama mengenai sejarah.

Arifin C. Noer dengan biaya pemerintah Orde Baru membuat film mengenai peristiwa Gerakan 30 September 1965. Film dengan judul Pengkhianatan G30S/PKI ini bercerita tentang peristiwa terbunuhnya enam jenderal Angkatan Darat dan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa tersebut.

Film yang di dalamnya terdapat berbagai sisipan yang berisi cuplikan dan kutipan dokumen resmi negara atas terjadinya peristiwa tersebut membuat penonton sulit membedakan antara fakta dan asumsi sehingga kejelasan peristiwa dalam film tersebut tidaklah mutlak dianggap sebagai fakta tanpa asumsi.

Dengan demikian, kita sebagai penonton tidak bisa menganggap bahwa film tersebut merupakan fakta atas sejarah yang ditampilkan secara objektif sebab di dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa subjektif atau adegan yang visualisasinya bersifat bias yang nantinya akan memunculkan interpretasi tertentu antara satu sudut pandang dengan sudut pandang lainnya.

Film ini diawali dengan penampilan gambar-gambar replika yang terdapat di dinding monumen peringatan peristiwa G30S di Lubang Buaya. Dengan dukungan narasi serta dokumen yang divisualisasikan ke dalam film tersebut, penonton diajak untuk menjadi saksi atas sejarah peristiwa penting yang terjadi di Indonesia.

Trik pengambilan gambar serta efek musik dalam film tersebut juga turut mendukung penciptaan suasana mencekam sehingga penonton seolah-olah menyaksikan kejadian sebenarnya dan melupakan bahwa yang disaksikan hanyalah sebuah film.

Hal-hal tersebutlah yang kemudian tanpa disadari mampu membentuk asumsi tertentu terhadap kejadian serta tokoh-tokoh yang terlibat di dalam peristiwa tersebut.

Kejanggalan dalam Film "Pengkhianatan G 30 S/PKI"

Beberapa kejanggalan dalam film ini agaknya membuktikan bahwa film ini berusaha membiaskan fakta sejarah demi memberikan propaganda terhadap masyarakat penonton. Salah satu kejanggalan yang terdapat dalam film ini adalah saat Soeharto berdiri di belakang peta Indonesia yang di dalamnya terdapat propinsi Timor-Timur. Padahal, pada zaman tersebut Timor-Timur belum menjadi bagian dari Indonesia.

Jika hal tersebut merupakan kekhilafan sutradara film dalam memperhatikan properti, maka kita sebagai penikmat seni atau setidaknya penonton dapat berasumsi bahwa film tersebut bukan merupakan karya yang diciptakan untuk tujan estetika, melainkan demi tujuan pemenuhan terhadap kepentingan pihak tertenu sehingga hal-hal kecil yang sebenarnya bersifat detail tidak diacuhkan, atau tidak teracuhkan oleh pihak pembuat film.

Selain itu, terdapat pula kejanggalan lain seperti dalam adegan kunci penggambaran PKI, yakni saat salah seorang perwira militer digambarkan lebih 'lunak' daripada orang sipil yang dikonstruksikan sebagai oknum PKI.

Terdapat dua kemungkinan yang sama dengan kejanggalan sebelumnya, yakni ketidakhati-hatian sutradara film dalam menggambarkan karakter tokoh atau memang adegan yang sengaja dibuat untuk memberikan asumsi pada masyarakat mengenai karakter para pentolan PKI.

Film yang dipenuhi dengan pengambilan gambar yang ekstrim ini tidak saja memberi tekanan pada penonton untuk merasakan adanya ancaman dari pihak penguasa zaman itu, tapi juga membuat penonton seringkali bertanya tenang kebenaran fakta yang disajikan dalam film tersebut. Simbolisasi bias fakta sejarah tersebut terdapat pada penarikan gambar pada saat Soekarno mengambil gelas berisi air putih, yang pada saat itu kamera tidak bergerak beralih mengambil aktivitas Soekarno dengan gelas yang dipegangya.

Secara simbolik, hal ini memberikan asumsi bahwa sebenarnya sutradara sendiri memberikan wacana terhadap penonton untuk menentukan sendiri interpretasi mereka terhadap peristiwa tersebut beserta tokoh-tokohnya. Stereotip masyarakat tentu beranggapan bahwa dalam adegan tersebut, Soekarno meminum air dalam gelas yang dipegangnya. Tapi pada faktanya, bisa saja air dalam gelas tersebut dibuangnya.

Namun, terlepas dari apapun kekurangan film "Pengkhianatan G 30 S/PKI", film tersebut telah menambah khasanah tema yang lumayan berkelas dalam kumpulan film Indonesia.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • The Holiday, Film untuk Obat Patah Hati
  • Cara Praktis Download Film Baru
  • Film Indonesia Jadul - Tetap Memikat
  • Mengupas Film Merah Putih
  • Film Terbaru Hollywood - Diburu dan Ditunggu
  • Sekilas Mengenai Inspirasi dan Film Film Inspiratif
  • Mengenal Pedang
  • Film Janda Kembang
  • Variasai Genre Film Seri Hollywood yang Mendunia
  • Resensi 5 Film Barat Terbaru
  • Memilih Film Alternatif untuk Keluarga
  • Film Terbaik Sepanjang Masa
  • Pembalikan Logika ala Jago Merah
  • Kumpulan Lengkap Film Indonesia dalam Gudang Film Indonesia
  • Sinema-sinema Pilihan Wajib Tonton di 2012
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA