logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Psikologi    Psikologi Kepribadian

Kumpulan Kata-kata Indah yang Tidak Tepat


Ilustrasi kumpulan kata-kata indah

Artikel berikut akan mengetengahkan bahasan mengenai kumpulan kata-kata indah yang tidak tepat. Bila disuruh memilih, kita tentu akan memilih kumpulan kata-kata indah yang enak didengar daripada sebaliknya. Tak salah memang. Sudah menjadi naluri kita sebagai manusia yang beradab bila lebih menyukai kumpulan kata-kata indah daripada yang kasar. Namun, tak tahukah kita bahwa tak semua kumpulan kata-kata indah yang enak didengar tersebut berakibat positif.

Kita harus bisa membedakan kumpulan kata-kata indah yang mengandung semangat dan kumpulan kata-kata indah yang melenakan sehingga membuat kita “cepat puas” dan tidak mau berusaha lagi. Apa saja kumpulan kata-kata indah yang memiliki makna melenakan itu sehingga semangat kita bisa turun?

Ya Sudahlah!

“Ya sudahlah!” bisa dianggap sebagai bagian dari kumpulan kata-kata indah karena memang menenangkan kita terhadap suatu hal yang sebelumnya membuat kita galau dan risau. Tapi, coba saja bila kita ucapkan terus-menerus setiap kali ada masalah, tentu semangat kita akan ikut turun. Kita juga jadi mudah mencari pembenaran. “Ya sudahlah ya, wong emang sulit!” begitu misalnya.

Terserah!

Kata “terserah” juga sebenarnya tidak masalah. Namun, ada di saat-saat tertentu di mana kita tidak bisa menggunakan kata “terserah”. Seperti misalnya, hal yang ditanyakan pada kita berhubungan dengan prinsip hidup kita, “Agamamu apa sih?” dan kita jawab “terserah!” atau “Menurut kamu free sex itu seperti apa?” dan kita jawab “Terserah” 

Kumpulan kata - kata indah menjadi tidak indah lagi bila dipergunakan di tempat dan kasus yang salah.

Aku, Ya Seperti Ini!

Kumpulan kata-Kata indah juga bisa bermakna mencari pembenaran terhadap diri sendiri. “Aku ya seperti ini!” atau “Aku memang kayak gini kok!” Ini mengindikasikan bahwa kita tidak mau belajar dari orang lain. Itu artinya kita juga merasa bahwa diri kita lebih hebat dibandingkan dengan orang lain. 

Mau Bagaimana Lagi?

Hampir sama dengan yang sebelumnya, “Mau bagaimana lagi!” mengindikasikan bahwa kita tidak mau berusaha untuk menjadi lebih baik. Kita sudah puas dengan kondisi kita saat ini dan tak mau berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi. Kita stagnan dan tidak mau bergerak. Padahal, bumi saja berotasi atau bergerak.

Tak semua kumpulan kata-kata indah bisa membangkitkan semangat. Kenyataannya ada juga beberapa kata-kata yang maknanya mungkin kalem dan lembut namun justru membuat kita menjadi letoy. Padahal, kata-kata yang kita ucapkan dalam kondisi apa pun, bisa mengubah pola pikir kita. Misalnya saja, saat kita sedang santai, coba ucapkan kata-kata yang kurang berkenan. Sedikit banyak kita akan tertular menjadi yang kita ucapkan.

Pun ketika kita sedang marah, katakan kumpulan kata-kata indah yang kira-kira bisa membuat kita tenang. Katakanlah terus-menerus. Apa yang terjadi kemudian? Kita menjadi tenang. Kata-kata memang menjadi “obat bius” paling ampuh untuk diri manusia.

Di samping kumpulan kata-kata indah yang tidak tepat di atas, ada juga beberapa kata yang mungkin sering diucapkan oleh orang-orang di sekitar kita kepada kita dengan tujuan untuk menenangkan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Beberapa kata di antaranya adalah sebagai berikut.

Dia Tak Lebih Baik Darimu

"Dia tidak lebih baik darimu." Kumpulan kata-kata indah tersebut seolah-olah memberikan kita kekuatan dan harapan agar kita bersemangat dan tidak putus asa. Padahal, kata-kata seperti itu bisa berakibat kita meremehkan orang lain dan merasa bahwa diri kita benar sedangkan orang lain salah.

“Kamu lebih cantik.”

“Kamu lho lebih pintar."

“Kamu lho lebih kaya.”

Kumpulan kata-kata indah di atas mungkin terdengar menarik dan membuat kita terbang melayang-layang. Kepercayaan diri kita yang tadinya kendor juga bisa terbentuk kembali. Namun, percayalah, bahwa dalam jangka panjang, kumpulan kata-kata indah semacam itu justru berakibat negatif bagi kita. Kita akan memandang orang lain lebih lemah atau rendah daripada kita. Kita akan menjadi seseorang yang kurang menghargai orang lain.

Secara tidak sadar, kita terbentuk dari kata-kata yang ditujukan pada kita, entah pengaruh itu hanya 1%. Seperti misalnya ketika seorang ibu berkata setiap hari pada anaknya “Kamu bodoh”. Begitu setiap hari. Maka, anak yang tadinya pintar akan menjadi tidak pintar, karena alam bawah sadarnya menyuruh ia untuk menjadi seperti yang dikatakan oleh ibunya.

Seharusnya Kamu yang Lebih Berhak!

"Seharusnya Kamu yang Lebih Berhak!"

Pernahkah sahabat atau kerabat mengatakan kata-kata di atas kepada kita? Kumpulan kata-Kata indah di atas mungkin bermaksud untuk menghibur kita yang sedang sedih. Namun, dampak dari kita yang menerimanya bisa lain, yaitu dampak negatif.

Misalnya, kita mengikuti sebuah kontes kecantikan. Dalam kontes tersebut, sahabat kita juga mengikutinya. Secara kasat mata, semua orang juga tahu bahwa kita lebih cantik daripada sahabat kita yang mungkin terlihat sederhana. Namun, kenyataan berbicara lain. Dewan juri mengatakan bahwa pemenangnya bukan kita melainkan sahabat.

Sebenarnya kita sudah legowo, namun provokator mulai berdatangan dengan mengatakan “Seharusnya kamu lebih berhak menjadi pemenang karena kamu lebih cantik!” atau kata-kata sejenis. Awalnya kita yang sudah ikhlas tersebut bisa berubah menjadi sebaliknya karena kata-kata yang provokatif. Padahal, orang-orang yang berkata seperti itu juga tak bermaksud menjadi provokator karena mereka hanya ingin menghibur kita saja.

Akibatnya, perasaan kita jadi dipenuhi dendam, benci, dan iri. Hubungan kita yang awalnya baik-baik saja dengan sahabat kita yang menjadi pemenang tersebut menjadi rusak karena perasaan yang tidak terduga. Kumpulan kata-Kata indah bisa berubah menjadi bumerang.

Kamu Paling

Biasanya kumpulan kata-kata indah seperti “Anakku emang yang paling pintar.” atau “Kamu memang paling keren.” diucapkan oleh orangtua kepada anaknya. Alasannya beragam. Bisa karena orangtua yang begitu menyayangi anaknya. Bisa juga untuk membuat anaknya percaya diri. Namun, apa pun itu, kata “paling” akan berakibat kurang baik dalam jangka panjang bila didengar atau diucapkan terus menerus. “Anakku paling cantik.” misalnya.

Kumpulan kata-kata indah di atas bisa membuat anak besar kepala dan merasa dirinya paling cantik. Merasa cantik tentu boleh karena manusia dilahirkan dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Tapi, merasa paling, apa pun itu, akan menumbuhkan bibit-bibit kesombongan. Seperti kata pepatah bahwa di atas langit masih ada langit.

Bagaimana Menyikapi Kumpulan Kata-kata Indah yang Tidak Tepat?

Lalu, bagaimana menyikapi kumpulan kata-kata indah yang bisa menjadi momok atau bumerang bagi kita sendiri tersebut?

  • Bersikap wajar. Ketika kita menemui kesulitan di tengah jalan, jangan langsung berkata “Ya sudahlah!” atau kata-kata sejenis. Karena, sekalipun kumpulan kata-kata indah tersebut bisa menenangkan, tapi bila tidak “kuat”, kita bisa terpengaruh untuk menjadi tidak bersemangat. Ada yang berkata bahwa “Bila kita keras terhadap kehidupan maka kehidupan akan lunak terhadap kita. Sebaliknya, bila kita lunak terhadap kehidupan, maka kehidupan akan keras terhadap kita.”
  • Bersikap cuek. Kadang, bersikap cuek dan tidak terlalu memikirkan kejadian buruk yang baru saja kita alami juga akan membuat kita tidak terpengaruh terhadap kumpulan kata-kata indah yang diucapkan oleh orang lain namun dibumbui hal-hal yang bersikap provokatif.

Ternyata, tak semua kumpulan kata-kata indah itu menyenangkan dalam artian memiliki efek yang positif. Memang, tak selamanya yang terlihat baik itu baik, begitu pula sebaliknya. Disuntik ketika sakit tentu saja tak menyenangkan, tapi efeknya kita bisa sembuh. Sama halnya dengan kata-kata, kita tentu akan memilih kata-kata yang baik dan membangkitkan semangat. Namun, ketika itu tak didapatkan, kita akan lebih memilih kata-kata yang apa adanya dan lugas namun berakibat positif daripada kumpulan kata-kata indah dan manis namun berakibat negatif.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Tingkatan Ego dalam Psikologi
  • Pentingnya Mempertahankan dan Meningkatkan Sikap Natural
  • Obat Hati Kala Kecewa Melanda
  • Cabul Ada di Mana-mana, Waspadalah! - ANNEAHIRA.COM
  • Pluralisme dan Pembangunan Karakter - ANNEAHIRA.COM
  • Sifat Supel dan Beragam Keuntungannya
  • Belajar Sederhana dengan Menjadi Backpacker
  • Orang Ganteng dari Berbagai Sudut Pandang
  • Piala dalam Berbagai Peristiwa
  • Sifat dari Zodiak, Berbicara tentang Zodiak dan Ramalan Nasib
  • Orang Terjelek di Dunia - Mencari Kunci Bahagia
  • Konsep Universal dalam kehidupan
  • Menghadirkan Keajaiban Sabar
  • Peran Bimbingan dan Konseling Pribadi Dalam Pengembangan Pribadi Siswa
  • Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Intelegensia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA