logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Chairil Anwar

Menyoal Kumpulan Puisi Puisi Chairil Anwar


Ilustrasi kumpulan puisi puisi chairil anwar 

Ketika seseorang dianggap sebagai seorang ahli dibidangnya, maka setiap karyanya patut diamati dan dicermati sebagai bagian dari pelajaran dan ilmu pengetahuan bagi oarng lain yang hidup setelahnya. Tidak terkecuali seorang Chairil Anwar yang karyanya mungkin bisa disejajarkan dengan karya Kahlil Gibran. Yang berbeda adalah bahwa Kahlil Gibran mendunia. Sedangkan Chairil Anwar mengindonesia. Puisi mereka setara dalam hal pemilihan diksi yang dahsyat. Oleh karena itulah,  sebagai seorang sastrawan puisi, maka sudah cukup banyak tulisan puisi yang telah dituliskan dan dipublikasikan. Dan, dari sekian banyak tulisan tersebut, agar tidak hilang dari kancah puisi, maka disusunlah kumpulan puisi-puisi Chairil Anwar. Dalam kumpulan puisi inilah hampir semua puisi karya Chairil Anwar dikumpulkan untuk didokumentasikan.

Menyelamatkan ‘Harta’ Peninggalan Chairil Anwar

Kumpulan puisi-puisi Chairil Anwar merupakan satu bentuk kepedulian terhadap karya sastrawan terkenal negeri ini. Puisi-puisi itu adalah ‘harta’ peninggalan sang maestro. Ia mungkin tidak kaya dalam sisi harta yang berwujud materiil, namun ia memberikan ‘harta’ yang sangat indah dan sarat makna perjuangan hidup dan kehidupannya di dunia nan fana ini. Apapun yang ditulis oleh Chairil Anwar seolah menawarkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuat orang tersadar betapa suatu keindahan alam itu bisa merefleksikan satu bebak kehidupan seseorang.

Chairil Anwar mampu mencumbui malam dan berkisah tentang malam yang pekat. Dia juga bisa bercengkarama dengan pelabuhan. Ia menatap pelabuhan itu, lalu memberikan sentuhan tentang apa yang ia lihat. Selanjutnya, kata demi kata merangkai makna tentang pelabuhan yang sarat dengan kisah hidup masyarakat pinggiran. Mereka orang-orang yang tak berdaya. Bukannya kalah dalam bersaing, namun, nasib telah membuat mereka berpasrah dan menanti apa yang akan menjadi takdirnya kelak.

Dengan cara mengumpulkan puisi karya tulis Chairil Anwar, maka kita dapat mengumpulkan jejak perkembangan kepenulisan satrawan besar ini. Tentunya untuk hal tersebut, harus berburu tiada henti dan menghalau semua rasa capek saat mengumpulkan semua puisi itu. Banyaknya puisi buatan Chairil Anwar merupakan satu berkah tersendiri. Penggambarannya yang begitu gamblang terhadap keadaan di sekitarnya membuat orang-orang yang hidup setelah generasinya dapat mengetahui seperti apa kehidupan pada zaman penyair besar tersebut.

Membayangkan Karawang dan Bekasi dengan jalanan yang lenggang dan panjang dari satu perumpamaan yang digunakan dalam satu puisi yang sangat terkenal itu, orang bisa tahu kalau jarak itu cukup jauh. Ketika dikatakan tulang-tulang berserakan, itu artinya begitu banyak kematian yang telah terjadi dalam pertempuran demi pertempuran demi membela tanah air tercinta. Menyaksikan kematian bukannya membuat para pejuang surut ke belakang. Mereka bahkan lebih bersemangat lagi karena yakin kalau mati akan dihadiahi kesyahidan dan kalaupun hidup akan menikmati kemerdekaan.

Dari bait puisi dalam Deru Campur Debu, Kerikil Tajam, dan Yang Terampas dan Yang Putus, pembaca bisa memahami keadaan pada saat itu. Judul-judul itu merupakan kumpulan  puisi yang ditulis oleh  Chairil Anwar  yang sempat terkumpul dan menjadi dokumentasi karya sang penyair. Kumpulan puisi inilah yang selanjutnya dijadikan sebagai acuan bagi generasi muda untuk mencari dan memahami perkembangan kepenulisan Chairil Anwar dalam bidang puisi serta gejolak kehidupan dimasa yang sangat keras itu.

Kumpulan Puisi sebagai Penjejak Karya Tulis

Ketika seorang sastrawan menulis puisi, maka setiap saat tulisan tersebut  dikirimkan ke berbagai media massa agar dikenal masyarakat. Karya tulis ini dikirimkan ke media dengan harapan agar masyarakat ikut menikmati hasil karyanya dan disamping itu, mereka dapat memperoleh imbalan sebagai pengganti karya tersebut. Mungkin apa yang dilakukan oleh Chairil Anwar dengan mengirimkan karyanya ke penerbit salah satunya agar para pembaca mengetahui karya itu. Ia ingin semangat juang itu tetap berkobar walau apapun yang terjadi.

Seperti kita ketahui, jika seorang penyair konsen pada penulisan, maka dalam waktu yang relatif singkat dapat menghasilkan banyak karya. Tentunya karya ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja, sebab jika dibiarkan dapat hilang dan tidak terpantau. Dan, hal tersebut berarti tidak ada rekaman hasil karya sang penyair itu. Tentunya hal ini sangat disayangkan sebab karya tulis, khususnya puisi merupakan salah satu karya intelektual yang sangat berharga bagi kehidupan.

Demikian juga halnya dengan hasil karya Chairil Anwar yang tersebar hampir di banyak media massa, tentunya akan hilang begitu saja jika tidak segera dikumpulkan. Dengan adanya kumpulan puisi ini, maka kita dapat mengetahui secara pasti setiap perubahan kualitas kepenulisan sang Chairil Anwar. Kita dapat mengetahui sejak karya pertama hingga karya terakhir. Inilah yang kita harapkan sebagai bentuk kepedulian terhadap Chairil Anwar atau sastrawan di negeri ini.

Kondisi kejiwaan dan keadaan yang terjadi, akan membuat pemilihan kata menjadi berbeda. Setiap saat pasti ada pengaruh yang sangat jelas yang bisa diamati. Pengaruh ini bisa membuat rangkai kata tidak sama. Ketika sang penyair sedang jatuh cinta, tema puisinya tentang wanita dengan segala keindahan yang dikagumi oleh sang penyair. Ketika ia sedang patah hati, kata-kata bernuansa kegelapan dan kedukaan akan menjadi pilihan. Ketika ia menatap nanar pada apa yang disaksikannya dalam perang, jiwanya akan membara. Ia seakan merasakan bagaimana menjadi seorang prajurit yang harus selalu terjaga demi kemenangan dalam satu pertempuran.

Saat keindahan alam yang dipandangnya, bait-bait puisi akan terhidang bagai hamparan permadani. Begitupun ketika sang penyair sedang merasa Tuhan bersamanya dan ia sedang menghadapi kematian, rasa dingin hawa kuburan seakan terasakan dalam sela relung jiwa. Ia yang tak berdaya bertarung dengan penyakitnya merasakan bahwa kematian telah mengintainya dengan perlahan tapi pasti. Ia memohon kepada yang Esa mengenai kehidupannya. Ia menginginkan kehidupan yang panjang dengan kata-kat ‘Aku ingin hidup 1000 tahun lagi’. Ia yang ingin orang tahu betapa ia sangat sayang kepada hidupnya. Meski begitu, ia pun tahu bahwa waktunya tak lama lagi.

Isi Kumpulan Puisi-puisi Chairil Anwar

Jika kita membuka kumpulan puisi-puisi Chairil Anwar yang disebutkan di atas, setidaknya kita dapat mengetahui dan mengatakan bahwa sudah cukup banyak karya tulis puisi yang berhasil ditulis oleh Chairil Anwar sepanjang hidupnya yang tak lama itu. Walaupun ada beberapa puisi yang dimuat ulang untuk kumpulan puisi tersebut, setidaknya ada upaya positif untuk membuat rekaman kreasi penyair Chairil Anwar ini.

Untuk setiap kumpulan  puisi itu Chairil Anwar mempunyai jumlah isi yang berbeda. Hal ini bisa dipahami bahwa perasaan saat menulis satu puisi dengan puisi yang lainnya, tentu saja berbeda. Kadang ada perasaan yang begitu membara. Dilain waktu, perasaan itu tak terlalu berkecamuk sehingga puisi terkesan sangat pendek. Puisi yang dimuat di masing-masing kumpulan adalah sebagai berikut:

Deru Campur Debu

Puisi yang termuat di kumpulan puisi ini adalah Aku; Hampa; Selamat Tinggal; Orang berdua; Sia sia; Doa; Isa; Kepada peminta minta; Kesabaran; Sajak putih; Kawanku dan Aku; Kepada kawan; Sebuah kamar; Lagu siul; Malam di pegunungan; Catetan th. 1946; Nocturno; Kepada pelukis Affandi; Buat album DS; Cerita buat Dien Tamaela; Penerimaan; Kepada penyair Bohang; Senja di pelabuhan kecil; Kabar dari laut; Tuti Artic; Sorga; Cintaku jauh di pulau; Tulisan Chairil Anwar

Kerikil Tajam

Puisi yang termuat adalah Nisan; Penghidupan; Diponegoro; Tak sepadan; Sia sia; Pelarian; Sendiri; Suara malam; Semangat; Hukum; Taman; Lagu biasa; Kupu Malam dan biniku; Penerimaan; Kesabaran; Ajakan; Kenangan; Hampa; Perhitungan; Rumahku; Kawanku dan Aku; di Mesjid; Aku; Cerita; Bercerai; Selamat Tinggal; Dendam; Merdeka; Kepada peminta minta

Yang Terampas dan Yang Putus

Puisi yang termuat adalah Fragmen; Malam; Krawang – Bekasi; Persetujuan dengan Bung Karno; Ina Mia; perjurit jaga malam; Buat Gadis Rasid; Puncak; Yang terampas dan yang putus
Dengan memperhatikan kumpulan puisi milik Chairil Anwar yang ada, maka setidaknya kita mengetahui setiap perubahan yang terjadi dalam proses kepenulisannya. Dan, hal ini merupakan satu bentuk pembelajaran dan pengakraban terhadap dunia kepenulisan, terutama penulisan puisi.

Dan, Anda pasti sudah pernah membaca salah satu puisi karya tulis Chairil Anwar ini. Jika sudah, pasti Anda merasa betapa setiap saat peningkatan kualitas karya Chairil Anwar ini sangat mencengangkan untuk ukuran pemikiran pada saat itu.

 

 

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Apresiasi Puisi Perjuangan Karya Chairil Anwar
  • Makna Puisi Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil
  • Kenali Karya Puisi Beserta Pengarangnya
  • Makna Sahabat dalam Puisi Persahabatan Chairil Anwar
  • Keindahan Antologi Puisi Chairil Anwar
  • Puisi Aku Karya Chairil Anwar
  • Puisi Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar
  • Pelajaran Penting dari Tiga Puisi Makna Kehidupan
  • Pangeran Diponegoro di Mata Chairil Anwar
  • Apresiasi Puisi Doa Karya Chairil Anwar
  • Puisi Puisi Chairil Anwar yang Terkenal
  • Apresiasi Puisi Puisi Karya Chairil Anwar
  • Karakteristik Puisi Lama Karya Chairil Anwar
  • Apresiasi Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar
  • Karya Karya Chairil Anwar yang Melegenda
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA