Bahaya Lahar Dingin
Lahar dingin merupakan jenis ancaman bahaya sekunder dari bencana letusan gunung berapi. Proses bencana ini terjadi justru ketika fase letusan gunung berapi primer sudah berhenti. Meski demikian, ancaman dan dampak yang ditimbulkan tidak kalah mengerikan dengan ancaman pada bencana primer yakni semburan awan panas serta lahar panas.
Salah satu bukti ganasnya lahar dingin sudah ditunjukkan dengan terkuburnya candi Borobudur sebagai akibat letusan gunung Merapi kuno. Selain mengubur Candi terbesar tersebut, bencana sekunder Merapi juga menyebabkan kerajaan Mataram Kuno yang tadinya berpusat di Yogyakarta harus pindah.
Pada masa modern, Merapi kembali membuktikan bahwa semua kisah tentang dampak letusan Merapi yang dahsyat bukanlah isapan jempol semata. Pasca letusan bulan November 2010, Merapi mulai menyebarkan lahar dinginnya ke berbagai daerah yang memiliki kaitan dengan aliran sungai dari Merapi.
Sejak awal Desember 2010, aliran lahar dingin Merapi mulai masuk ke berbagai wilayah di sekitar Merapi. Bahkan di aliran Sungai Putih, aliran lahar dingin Merapi ini menyebabkan putusnya puluhan jembatan yang menghubungkan beberapa desa. Selain itu, arus lalu lintas yang melintasi kawasan tersebut, nyaris lumpuh karena jalan raya yang rusak akibat terjangan material vulkanik seperti batu raksasa dan juga pasir.
Bahaya Lahar Dingin
Tumpukan lahar dingin yang berisi material vulkanik, merupakan ancaman yang tidak boleh dianggap remeh. Karena, apabila hujan turun di kawasan puncak gunung, akan berpotensi mengalirkan tumpukan material yang jumlahnya tidak sedikit. Hal ini harus diwaspadai karena aliran lahar dingin bisa membawa beberapa ancaman pada manusia.
Ada beberapa alasan, mengapa manusia harus mewaspadai akan bahaya lahar dingin ini. di antaranya adalah :
- Lahar dingin memiliki daya terjang yang sangat kuat. Hal ini terbukti dengan robohnya beberapa jembatan yang terbuat dari pondasi beton yang mampu diruntuhkan oleh terjangan lahar dingin.
- Material vulkanik yang berukuran besar. Seperti batu dan juga pasir yang bisa menimbun apa saja yang dilewatinya.
- Lahar dingin bisa terjadi dalam jangka waktu yang lama, karena tumpukan material yang hanyut menjadi lahar dingin tidak terjadi dengan seketika. Namun berlangsung secara bertahap.
- Kawasan yang bisa dijangkau oleh arus lahar dingin, jaraknya bisa lebih jauh daripada jarak yang bisa dijangkau oleh awan panas atau lahar panas. Sehingga, bukan tidak mungkin kawasan yang jauh dari sebuah gunung berapi bisa pula terkena dampak lahar dingin.
Sebagaimana pernah terjadi pada candi Borobudur yang memiliki jarak sekitar 30 kilometer dari puncak Merapi, namun masih bisa tertimbun oleh material letusan gunung Merapi tersebut.






