Latar Belakang Masalah dalam Karya Ilmiah
Ilustrasi latar belakang masalah
Apa itu latar belakang masalah dalam penelitian? Simak penjelasannya. Penulisan karya ilmiah hasil kajian atau penelitian berbeda dengan penulisan karya ilmiah popular yang dimuat di surat kabar. Perbedaan tersebut bukan pada objek kajiannya, melainkan lebih pada sistematika penulisannya.
Karya ilmiah untuk jurnal-jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau desertasi ditulis lebih formal dengan sistematika yang kaku dan baku. Jumlah halaman dalam karya ilmiah pun ada batasannya sesuai dengan kedalaman dan keluasan analisisnya. Karya ilmiah berupa laporan akhir biasanya 20 halaman, skripsi 40 halaman, paper kurang dari 20 halaman, dan tesisi serta disertasi minimal 40 halaman.
Karya ilmiah hasil penelitian hendaknya mengemukakan dengan jelas masalah yang diteliti beserta latar belakang masalahnya, tujuan penelitian, ruang lingkup masalah yang diteliti, manfaat penelitian, telaah literatur, penetuan sumber data dan metode pengumpulan data, serta pengolahan data dan penyajiannya.
Salah satu bagian penting dalam karya ilmiah adalah latar belakang masalah. Dalam latar belakang, penulis mengemukakan sebab-sebab mengapa masalah yang dipersoalkan perlu diteliti dan ditulis. Latar belakang tersebut dapat diperoleh dari pengalaman, kajian literatur, dan kajian teoritis yang dibacanya.
Latar belakang masalah dalam karya ilmiah dapat pula diartikan sebagai uraian berkaitan dengan hal-hal yang menjadi sebab perlunya suatu persoalan atau masalah layak dijadikan objek penelitian. Misalnya, peneliti menganggap penting membahas penggunaan bahasa gaul yang berdasarkan pengamatan awal menunjukkan gejala kekacauan berpikir terutama di kalangan remaja.
Permasalahan tersebut dapat dijadikan alasan atau argumentasi dalam latar belakang sebuah karya ilmiah. Alasan dalam latar belakang tersebut akan lebih kuat jika didukung oleh referensi atau teori keilmuan yang sudah ada. Beberapa hal yang dapat dijadikan alasan latar belakang masalah dalam karya ilmiah di antaranya sebagai berikut.
- Latar belakang masalah yang akan dibahas memiliki arti penting atau peranan bagi masyarakat atau ilmu pengetahuan.
- Latar belakang masalah yang dibahas memerlukan pembinaan atau peningkatan.
- Perlunya masukan sebagai bahan pembinaan atau peningkatan di bidang topik pembicaraan.
- Perlunya penelitian dilakukan baik untuk kemanfaatan praktisnya (keterampilan, pengetahuan) maupun kemanfaatan keilmuan (pengembangan teori).
- Kerelevanan objek penelitian sebagai sumber data untuk dua segi kemanfaatan penelitian.
Latar belakang masalah dalam karya ilmiah termasuk bagian pendahuluan. Setelah latar belakang masalah, poin dalam pendahuluan diikuti oleh pernyataan-pernyataan yang lebih mengarahkan peneliti pada fokus penelitian. Berikut penjelasan mengenai sistematika bagian pendahuluan karya ilmiah.
Latar Belakang Masalah - Bagian pendahuluan
Pada bagian pendahuluan atau awal pembahasan dikemukakan hal-hal yang berkenaan dengan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sumber data. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan berikut!
a. Latar Belakang Masalah
Pada bagian ini penulis mengemukakan sebab-sebab mengapa masalah yang dipersoalkan perlu diteliti dan ditulis. Misalnya, karena masalah yang dibahas mempunyai arti penting bagi masyarakat.
b. Latar Belakang Masalah - Perumusan Masalah
Perumusan masalah harus sungguh-sungguh jelas. Permasalahan yang akan menjadi pembahasan penelitian diajukan dalam bentuk pertanyaan. Merujuk pada pertanyaan itu penulis melakukan langkah-langkah penelitian dan penelaahan sehingga dapat terjawab dengan tepat.
c. Latar Belakang Masalah - Tujuan Penelitian
Dalam tujuan penelitian atau penulisan dikemukakan usaha-usaha dan hasil-hasil yang telah dicapai secara garis besar. Jika karya ilmiah bertujuan menyampaikan pandangan atau penilaian penulis tentang topik yang telah diteliti, tujuan umumnya mengemukakan hipotesis penelitian dan penilaian penulis sesudah penelitian. Adapun tujuan khususnya perlu dikemukakan pertimbangan-pertimbangan yang mendukung penilaian.
d. Latar Belakang Masalah - Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat diuraikan secara umum dan khusus. Misalnya, untuk kepentingan praktis, untuk kepentingan bidang keilmuan atau bidang profesi penulis, dan untuk kepen¬tingan kelompok atau instansi.
e. Latar Belakang Masalah - Penentuan Sumber Data
Penentuan sumber data meliputi populasi dan sampel. Populasi di bidang metodologi penelitian berarti sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel penelitian. Adapun sampel berarti contoh, yakni bagian kecil data penelitian yang dianggap dapat mewakili keseluruhan data yang dianalisis untuk memperoleh informasi tentang seluruh data penelitian.
Contoh Latar Belakang Masalah dalam Karya Ilmiah
Judul Karya Ilmiah:
"Pembelajaran Membaca Cepat dengan Teknik Browsing (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Handayani 2 Tahun Pelajaran 2011/ 2012.)
Latar Belakang Masalah
Era globalisasi dan teknologi ditandai dengan semakin membanjirnya informasi ke seluruh pelosok dunia. Apa yang terjadi detik ini di belahan bumi Asia, kini sudah diketahui oleh masyarakat dunia lainnya. Begitu gencarnya arus informasi yang kita terima khususnya melalui media-media elektronik, seperti televisi dan internet.
Apabila hal tersebut tidak diantisipasi, sedikit demi sedikit akan terdapat pergeseran dari budaya baca ke arah budaya mendengar. Padahal, dalam kegiatan membaca, selain kita mendapatkan informasi, juga terdapat aspek positif lain, yaitu proses pelatihan daya nalar (Riva’ dan Wiati, 2005).
Hal itulah yang membedakan budaya baca dengan budaya mendengar. Oleh karena itu, untuk mengimbangi maraknya media informasi elektronik, kita harus meningkatkan kemampuan membaca kita dari membaca konvensional ke arah membaca yang efektif dan efisien. Selain itu, pesatnya kemajuan mesin cetak saat ini telah memungkinkan penyebaran informasi secara cepat pula.
Dengan adanya mesin cetak, hasil-hasil penelitian serta kemajuan sains dan teknologi dapat didokumentasikan dalam bentuk buku. Penyebaran informasi pun semakin luas karena buku dapat dicetak ribuan bahkan jutaan eksemplar. Orang zaman dahulu percaya bahwa unsur keberuntungan (luck) memegang peranan penting dalam kehidupan.
Sekarang orang mengatakan: Luck is the result of good planning. Good planning is the result of good information system well applied. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keputusan yang tepat, dewasa ini banyak perusahaan menugasi stafnya untuk meneliti informasi yang berupa berita dan tulisan.
Dengan demikian, kini banyak orang sependapat bahwa dengan makin berkembangnya karier seseorang, tuntutan untuk membaca semakin besar, sementara waktu yang tersedia semakin terbatas. Semua harus berpacu dengan informasi dan gagasan yang setiap hari membanjiri meja kerjanya. Informasi yang membanjir akan memperbudak kita apabila kita tidak terampil menggunakannya (Soedarso, 2001).
Kemampuan membaca cepat sangat penting untuk dikuasai agar mampu mengimbangi percepatan informsi yang sangat pesat. Oleh karena itu, kemampuan membaca cepat yang efektif harus menjadi syarat utama dalam penguasaan informasi, terutama informasi tertulis. Akan tetapi, pada kenyataannnya tidak demikian. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa masalah membaca tergolong masalah sepele.
Tarigan (1994: 10) mengemukakan “membaca adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan serangkaian keterampilan-keterampilan yang lebih kecil. Kemampuan membaca yang baik akan menunjang keberhasilan hal-hal yang lainnya.
”Membaca merupakan kegiatan yang multifaktor. Kegiatan membaca membutuhkan konsentrasi, dengan kata lain kegiatan tersebut melibatkan semua faktor dalam diri manusia, misalnya pikiran, mata, konsentrasi, dan keadaan jasmani kita, sehingga kita dapat memahami apa yang kita baca dengan baik.
Membaca adalah kunci menuju gudang ilmu. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Keterampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa keterampilan membaca sangat diperlukan dalam dunia modern, dunia buku (Tarigan, 1994: 135).
Kemampuan membaca dengan baik merupakan prestasi seseorang yang paling berharga. Dunia kita merupakan dunia baca (Bond, Pinker & Wasson dalam Tarigan, 1994). Kian banyak kita membaca kian banyak informasi yang kita peroleh, kian banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Adapun Jordan E. Ayan (dalam Hernowo [ed.], 2004: 35) mengatakan bahwa salah satu tujuan terpenting membaca adalah mengobarkan gagasan dan upaya kreatif. Peristiwa membaca yang terbaik pada hakikatnya adalah siklus hidup mengalirnya ide pengarang ke dalam diri kita. Pada gilirannya, ide kita mengalir balik ke seluruh penjuru dunia dalam bentuk karya yang kita hasilkan, pekerjaan yang kita lakukan, dan orang-orang yang terkait dengan kita.
Sejalan dengan paparan tersebut, Nurhadi mengemukakan bahwa “dalam kenyataannya, minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang memiliki minat baca yang tinggi sudah pasti tergolong bangsa yang maju. Minat tersebut akan ditunjukkan dengan kebiasaan membaca mereka yang tanpa mengenal waktu dan tempat.
Mereka seolah kehausan dan takut ketinggalan informasi. Jelaslah, betapa pentingnya peranan membaca itu. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi wacana, bukan membaca huruf-huruf, kata-kata, atau kalimat-kalimat saja.
Dengan kata lain, kemampuan membaca itu menuntut kita agar mampu membaca dengan kecepatan tinggi dan mampu memahami bacaan secara maksimal. Pengajaran bahasa yang berorientasi pada keterampilan berbahasa pun menuntut cara belajar yang spesifik. Keterampilan menuntut ketepatan, latihan, dan praktik.
Keterampilan berbahasa bersifat mekanistik. Semakin sering berlatih semakin terbiasa, dan semakin fasih dan terampil melaksanakan atau mengguna-kannya. Di sini berlaku semboyan “ajarkan bahasanya bukan tentang bahasanya” (Tarigan, 1994: 136). Berbagai penelitian tentang membaca sudah banyak dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa keterampilan membaca, khususnya kecepatan efektif membaca para pelajar kita, sampai saat ini belum memuaskan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, perlu kiranya dibuat model pembelajaran membaca yang mampu membiasakan siswa membaca. Salah satu model membaca yang dapat digunakan adalah membaca cepat dengan teknik browsing. Teknik browsing ini diharapkan dapat membangkitkan minat siswa untuk membaca dan lebih aktif dalam proses belajar mengajar.
Penelitian ini penulis tuangkan dengan judul “Pembelajaran Membaca Cepat dengan Teknik Browsing (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Handayani 2 Tahun Pelajaran 2011/ 2012.”
Berdasarkan contoh tersebut, unsur yang perlu disampaikan dalam latar belakang masalah sedikitnya mengungkapkan hal-hal berikut.
- Penjelasan mengapa permasalahan tersebut penting dan menarik untuk ditelaah secara ilmiah.
- Menunjukkan beberapa bukti atau pendapat ahli yang menyatakan bahwa masalah yang akan dibahas perlu solusi karena belum ada jawaban atau pemecahan yang memuaskan.
- Permasalahan yang diteliti memberikan manfaat langsung pada bidang kajian yang menjadi lingkup penelitian.
Demikian contoh latar belakang masalah yang bisa penulis sampaikan, semoga bermanfaat!

