Lawang Sewu - Tempat Wisata Semarang Pemacu Adrenalin
Ilustrasi lawang sewu
Jika Anda pernah berkunjung atau justru tinggal di daerah Semarang dan sekitarnya, mendengar nama Lawang Sewu pasti bukan hal yang asing.
Sekalipun Anda belum pernah berkunjung ke Semarang, Lawang Sewu mungkin juga tidak asing bagi Anda.
Keterkenalan Lawang Sewu di lingkungan masyarakat Indonesia tidak lain karena Lawang Sewu adalah salah satu objek wisata terkenal yang ada di Kabupaten Jawa Tengah tersebut.
Sebagai salah satu kota besar, Semarang seolah wajib mempunyai sesuatu yang juga besar. Nilai-nilai budaya Jawa merupakan salah satu hal besar yang dimiliki Semarang. Selain itu, Semarang juga memiliki sebuah tempat wisata berupa bangunan yang berbentuk besar dalam arti sesungguhnya. Bangunan yang dimaksud, apalagi kalau bukan Lawang Sewu.
Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah "seribu pintu". Lawang artinya 'pintu', dan Sewu artinya 'seribu'.
Padahal jika Anda perhatikan dan mau mencermati atau bahkan menghitung pintu-pintu di bangunan itu, jumlah pintu yang ada di bangunan Lawang Sewu sama sekali tidak berjumlah seribu.
Istilah itu hanya digunakan sebagai ungkapan masyarakat Semarang, mengingat jumlah pintu dan jendela dalam bangunan itu sangat banyak. Rata-rata, jendela yang terdapat pada bangunan Lawang Sewu berbentuk raksasa, hampir menyamai besarnya pintu, sehingga masyarakat menganggap jendela raksasa tersebut sebagai pintu.
Jendela yang besar adalah ciri dari arsitektur jaman dulu. Begitu pun yang dimiliki oleh Lawang Sewu. Lawang Sewu dahulunya adalah kantor milik pemerintahan Belanda. Kantor milik pemerintahan Belanda itu bernama Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau disingkat NIS. Kantor tersebut mengurusi berbagai masalah perkereta apian. Sekaligus sebagai kantor pusat kereta api.
Bangunan yang berdiri megah di tengah kota Semarang ini, tepatnya di sekitaran bundaran Tugu Muda dibangun pada 1903. Gedung ini hasil karya dari dua arsitektur asal Belanda yang masing-masing bernama Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag. Gedung yang sangat megah ini selesai dibangun dalam kurun waktu empat tahun. Pada 1907, akhirnya gedung ini pun diresmikan.
Lawang Sewu dan Cerita Mistis
Berwisata ke Lawang Sewu
Tidak lengkap rasanya jika Anda mengunjungi Semarang tanpa menikmati keunikan bangunan tua bernama Lawang Sewu. Bangunan tua ini sangat dikenal oleh para wisatawan yang berlibur di Kota Semarang.
Saat memasuki kawasan bangunan tua Lawang Sewu, pengunjung akan merasakan suasana yang sepi. Di beberapa sudut ruangan, terlihat bagian-bagian bangunan sedang dilakukan perbaikan dan renovasi.
Memasuki pintu masuk, para pengunjung akan disambut hangat oleh petugas-petugas yang mengantarkan pengunjung menuju loket masuk. Untuk dapat memasuki Lawang Sewu, para wisatawan harus membayar tiket masuk terlebih dahulu.
Setelah itu, baru para pengunjung diperbolehkan masuk mengelilingi bangunan gedung tua Lawang Sewu dengan dipandu oleh seorang pemandu. Ada aturan khusus yang diberlakukan di Lawang Sewu, yaitu setiap wisatawan individu atau yang berkelompok wajib didampingi oleh pemandu wisata saat berkunjung ke Lawang Sewu.
Gedung yang besar dan tua, khususnya di Indonesia selalu identik dengan hal-hal yang mistis. Begitu juga yang dialami oleh Lawang Sewu.
Menurut sejarah, selain berfungsi sebagai kantor kereta api, pada jaman penjajahan Jepang, Lawang Sewu juga digunakan sebagai tempat pertempuran ketika melawan Jepang.
Masih menurut cerita yang berkembang di masyarakat, beberapa ruangan yang terdapat di Lawang Sewu pernah digunakan untuk membantai tawanan-tawanan Jepang.
Tawanan Jepang saat itu tentu saja warga Indonesia yang dianggap pemberontak. Mereka dihabisi dan mayatnya konon dibiarkan begitu saja.
Lawang Sewu juga memiliki ruang bawah tanah. Oleh pemerintahan Jepang, ruangan bawah tanah itu digunakan sebagai penjara bagi tawanan-tawanan Indonesia. Ruangan itu gelap, mencekam, pengap dan tidak manusiawi.
Ruangan bawah tanah yang dijadikan penjara oleh para tentara Jepang, terdiri dari dua jenis penjara. Penjara jongkok dan penjara berdiri.
Penjara jongkok memiliki tinggi hanya satu meter. Sehingga para tawanan harus berjongkok selama berdiam di dalam tahanan, selain bejongkok mereka juga harus berdesakan dengan tawanan yang lain.
Berbeda dengan penjara berdiri. Tinggi ruangan tidak terlalu rendah, tapi lebar ruangan layaknya hanya cukup untuk dua orang saja, tapi pada saat penjajahan Jepang, tawanan yang dimasukkan dalam penjara berdiri jumlahnya bisa mencapai empat hingga enam orang.
Ruang bawah tanah milik Lawang Sewu memang saksi bisu atas penderitaan masyarakat Indonesia yang saat itu menjadi tawanan.
Selain digunakan sebagai penjara, ruang bawah tanah juga digunakan sebagai ruangan untuk memenggal kepala para tawanan tersebut. Kepala tawanan yang sudah terpisah dari badan tersebut lantas dilemparkan begitu saja ke sungai yang berada di belakang Lawang Sewu.
Hingga kini, Lawang Sewu masih menyimpan misteri nya sendiri. Wisata malam berkeliling Lawang Sewu sangat diminati bagi mereka yang penasaran akan hal-hal gaib dan menyukai tantangan. Selama berkeliling, mintalah jasa pemandu yang siap menemani Anda menikmati sensasi mistis Lawang Sewu.
Menjelajahi Ruangan-ruangan di Lawang Sewu
Penjelajahan Lawang Sewu dimulai dari pintu utama menuju lantai dua dengan melalui sebuah anak tangga.
Di depan sebuah anak tangga ini ada dinding kaca grafir yang dihiasi ornamen ukiran indah dengan warna-warna original atau masih asli.
Pada bangunan lantai dua, para pengunjung akan diajak berjalan melewati lorong dan pintu oleh pamandu wisata sambil menceritakan sejarah bangunan Lawang Sewu.
Pada saat Lawang Sewu direnovasi, pemandu ini akan menjelaskan bahwa setelah direnovasi, bangunan ini kembali akan difungsikan sebagai kantor PT KAI (Kereta Api Indonesia).
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke balkon gedung Lawang Sewu. Di sini, para pengunjung dapat menyaksikan lalu lintas kendaraan di seberang janal dan Tugu Muda yang berdiri kokoh di tengah jalan.
Setelah itu, pemandu wisata Lawang Sewu akan membawa para pengunjung menelusuri pintu dan lorong yang sangat banyak jumlahnya sampai ke ujung bangunan.
Di sini ada sebuah jembatan penghubung yang menghubungkan ke gedung lainnya. Penelusuran lorong pun kembali dilanjutkan sampai ke sebuah tepi lorong yang di bawahnya terdapat selokan atau tempat pembuangan air yang sudah berumur tua.
Pemandu wisata Lawang Sewu menceritakan bahwa selokan tua itu adalah tempat pembuangan mayat pada zaman penjajahan Jepang. Pada saat penjajahan Jepang, yaitu pada 1942, ruang bawah tanah Lawang Sewu sebelumnya adalah berupa saluran pembuangan air, lalu diubah menjadi penjara bawah tanah sekaligus juga sebagai saluran pembuangan air.
Gedung Lawang Sewu adalah saksi bisu pertempuran rakyat Indonesia dengan pasukan Jepang yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari, yaitu terjadi pada tanggal 14 Oktober 1945-19 Oktober 1945.
Wisata Lawang Sewu dilanjutkan ke bagian atas bangunan yang berbentuk loteng dengan bahan dari kayu. Menurut pemandu wisata, bagian atas bangunan ini dipakai sebagai tempat menyiksa tawanan oleh penjajah Jepang. Lawang Sewu adalah bangunan kuno peninggalan Belanda yang banyak dikunjungi dan sangat cocok dijadikan objek gambar bagi yang ingin belajar fotografi. Lorong panjang dan pintu yang berjajar sangat banyak sering dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk berfoto.

