logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Idul Adha

Amalan Menjelang Lebaran Idul Adha


Ilustrasi lebaran idul adha

Lebaran Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar umat muslim yang agung. Di hari istimewa ini akan Anda temukan kebahagiaan dan hikmah akan kebersamaan. Di dunia ini Anda adalah sama, tidak ada strata dimata Allah. Namun, yang membedakan Anda hanyalah takwa, taat kepada perintah Allah.

Lebaran Idul Adha terletak pada tanggal 10 Zulhijjah, kalender islam. Didalam bulan Zulhijjah ini Anda disarankan untuk banyak-banyak berzikir, tahmid dan tahlil, serta memperbanyak ibadah lainnya.

Jangan sampai Anda sia-siakan bulan indah ini tanpa memanfaatkan kesempatan untuk sale pahala. Beberapa amalan yang disarankan untuk dilakukan menjelang lebaran Idul Adha, yaitu:

1. Puasa Arafah (9 Zulhijjah) 

Puasa pada saat ini, karena tanggal 9 zulhijah saat jamaah haji di seluruh dunia berada di padang arafah.

2. Ibadah Haji dan Umroh

Pada bulan Zulhijjah ini Anda dapat melakukan ibadah haji, bagi yang mampu dan bisa juga melakukan umrah.

3. Perbanyak Takbir dan Zikir Kepada Allah

Perbanyaklah amalan kita pada hari-hari menjelang 10 Zulhijjah ini, karena dalam Quran Surat QS. Al-Hajj:  28 sebagai dasarnya.

4. Momen Untuk Bertaubat

Bertaubatlah kita semua dari maksiat-maksiat dan dosa-dosa lainnya. Ingat, Allah itu Maha pencemburu. Allah cemburu dengan orang-orang yang melakukan sesuatu yang dilarang oleh-Nya, misalnya syirik, berzina, mencuri, berbohong, dan sebagainya, termasuk mengisi ilah selain Allah di hati kita.

Jika ingin memadu kasih, lebih baik menikah dulu, karena apa-apa yang diharamkan didalamnya pada pacaran akan menjadi halal bila Anda sudah menikah, misalnya berpandangan dengan istri atau suami tercinta. Itu akan jadi halal bila sudah menikah.

5. Melakukan Takbir Mutlak dan Takbir Mukoyyat

Mukoyyat adalah hari tasyrik (tgl 10, 11 dan 12 Zulhijah) dimana Anda dilarang berpuasa dihari itu.

6. Berkurban

Berkurbanlah bagi yang berlebih hartanya. Jika harta tidak berlebih, juga boleh berkurban. Asalkan niatnya hanya karena Allah, tidak riya dan tidak sombong. Jika Anda riya dan berpenyakit hati lainnya, maka amalan Anda akan bagaikan debu yang berterbangan, seperti debu merapi atau buih putih ombak di pantai.

7. Shalat Lebaran Idul Adha dan Mendengarkan Khutbahnya

Sesungguhnya khutbah pada hari lebaran idul adha ini memiliki hikmah yang sangat besar dan dalam akan ketaatan hamba Allah.

Hikmah Lebaran Idul Adha

Lebaran Idul Adha adalah salah satu hari raya umat Islam di seluruh penjuru dunia, hari raya besar ini biasa di peringati pada tanggal 10 dzulhijjah di tahun hijriyah. Lebaran Idul Adha yang berarti kembali ke kurban memiliki makna yang amat dalam yang terdapat pada rangkaian kata ini.

Ketika kita merenungi sejarah yang menceritakan sebuah pengorbanan seorang anak yang salih Nabi Ismail, beliau rela untuk disembelih oleh bapaknya (Nabi Ibrahim) atas perintah Allah Swt.

Akibat keikhlasan dari sebuah pengorbanan, maka hal yang terjadi setelah itu di luar jangkauan akal manusia, yaitu tatkala Nabi Ibrahim menyembelih putranya ternyata atas kuasa Allah yang disembelih berubah menjadi seekor kambing (bukan malah Nabi Ismail) dan Nabi Ismail selamat, subhanallah atas segala kekuasaannya.

Dari penggalan sejarah diatas, maka sebagai manusia kita bisa mengambil pelajaran yang amat mulia yaitu pentingnya taat kepada Allah Swt dan berbakti kepada orangtua, dua hal ini yang menjadi motivasi bagi Nabi Ismail di usianya yang waktu itu baru menginjak dewasa. Namun, usia dini tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk bisa bersikap dewasa.

Memang ketika diamati secara sekilas kisah ini sungguh tidak masuk akal bagaimana mungkin seorang ayah yang baik akan menyembelih anaknya sendiri yang sangat salih dan sangat beliau cintai, semua orangtua saya yakin tak ada yang akan melakukan hal itu, namun itulah cobaan yang diberikan Allah pada Nabi-Nya untuk menguji kecintaannya pada Allah Swt.

Inilah yang membedakan antara cobaan seorang Nabi dengan manusia biasa. Dengan keteguhan iman dan cinta mereka berdua akhirnya lulus dari cobaan yang amat berat ini, walau berkali-kali setan selalu menghadang untuk menghalang-halangi.

Ketika kita mencoba menarik pesan yang ada dalam lebaran Idul Adha dalam konteks kekinian, maka sudah saatnya semua elemen masyarakat sadar dengan tugas masing-masing dan selalu ikhlas berkorban untuk kepentingan masyarakat, umat dan bangsa. Islam selalu mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dalam konteks individual maupun sosial.

Sehingga dengan momen Idul Adha, semoga menjadi momen penyadar dan penggugah bagi semua manusia dan remaja khususnya. Bahwa hidup adalah sebuah pengorbanan, kehidupan dunia bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal di akhirat nanti.

Pengorbanan bisa dilakukan oleh siapa saja, para pemimpin berkorban dengan kekuasaanya untuk menegakkan keadilan dan memperjuangkan nasib dan kepentingan rakyat, para remaja dengan kegigihannya dalam belajar dan beribadah untuk mempersiapkan menjadi penerus leluhur, masyarakat pada umumnya juga selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang baik secara individual dan sosial.

Pesan yang terkandung dalam Idul Adha bukan hanya sekedar anjuran menyembelih hewan kurban, kemudian dibagikan kepada orang-orang miskin dan kepada siapa saja yang membutuhkan, tetapi banyak pesan yang tersirat dari simbol seremonial itu, diantaranya anjuran menjadi orang yang mampu atau kaya yang ihklas menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang-orang miskin (dengan berkorban), anjuran untuk saling menyayangi diantara si kaya dan si miskin, anjuran untuk saling tolong-menolong dan menjadi orang yang selalu siap berkorban demi mengutamakan kepentingan agama dan bangsa.

Semestinya pesan-pesan ini bisa bisa diaplikasikan tidak hanya dalam momen Idul Adha, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dan saya yakin bangsa Indonesia akan bisa lebih mudah untuk dalam menghadapi krisis dalam berbagai aspek kehidupan.

Kurban Hanya Diterima dari Orang Bertakwa

Makna kurban bisa kita hayati dari ritual kurban pertama kali yang dilakukan manusia dalam sejarah, yaitu kurban yang dilakukan oleh Habil dan Qabil. Keduanya melakukan kurban sebagai jalan keluar dari perselisihan memperebutkan wanita.

Mereka sepakat, barangsiapa yang kurbannya diterima Allah Swt., dia-lah yang berhak menikahi sang wanita. Qabil berqurban dari hasil kebunnya, sementara Habil berkurban dari hasil ternak. Dan, ternyata akhirnya Allah menerima kurbannya Habil. Cerita dari Habil dan Qabil ini juga menyimpan makna kurban yang bisa dijadikan pelajaran. Penjelasannya dapat kita lihat pada surat dalam Al-Quran berikut ini.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). (QS. Al-Maidah [5]: 27)

Apa yang bisa kita hayati dari kurban dua anak Adam as tersebut? Makna kurban apa yang tersimpan dalam cerita Habil dan Qabil tersebut?  Hal itu dijelaskan dalam ayat lanjutannya:

Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil, "Sesungguhnya, Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah [5]: 27)

Ya, hanya kurban dari orang-orang yang bertakwa yang diterima Allah Swt., dalam hal ini Habil. Karena, sebagaimana yang tertulis dalam sejarah, Habil telah mengurbankan harta terbaiknya, yaitu seekor domba yang sehat dan gemuk, sebagai cerminan ketakwaannya.

Sementara, Qabil mengurbankan harta terburuknya, yaitu sayuran dan buah-buahan yang layu, busuk, dan tidak layak konsumsi, sebagai cerminan kekikirannya. Dari kedua cerita tersebut seharusnya, makna qurban hendaknya sudah dapat dipahami. Bahwa Allah lebih ikhlas terhadap hal-hal baik. Maka dari itu, hewan yang akan dikurbankan hendaknya memiliki ciri-ciri fisik yang baik.

Kurban Bukti Ketundukan terhadap Hukum Allah

Makna kurban selanjutnya adalah sebagai bukti ketundukan total hamba terhadap perintah Sang Khalik, apa pun dan bagaimana pun beratnya perintah-Nya itu.

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (QS. Al-Hajj [22]: 34)

Makna kurban semakin jelas tergambar dalam kisah Ibrahim as. yang tunduk terhadap hukum Allah yang memerintahkannya untuk menyembelih anaknya tercinta, Ismail as.

Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaaffaat [37]: 102-107)

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Materi Khutbah Idul Adha
  • Menelisik Puasa Sunah Idul Adha
  • Ketentuan Pelaksaan Qurban
  • Pentingnya Ucapan Selamat Idul Adha
  • Membuat Materi Khutbah Idul Adha
  • Puasa Idul Adha dan Puasa Arafah
  • Tema Pidato Idul Adha
  • Kartu Ucapan Idul Adha
  • Fikih Hewan Qurban Idul Adha
  • Makna Qurban - Hati-Hati Keliru Memahaminya
  • Hikmah Khotbah Idul Adha
  • Menyampaikan Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa
  • Memahami Makna Idul Adha
  • Teknik Pemotongan Hewan Kurban
  • Khutbah Kedua Idul Adha: Kandungan Materi Khutbah Idul Adha
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA