Mengenal Lembaga Alkitab Indonesia
Ilustrasi lembaga alkitab indonesia
Ya, mayoritas Alkitab yang beredar sekarang di Indonesia berasal dari Lembaga Alkitab Indonesia.
Lembaga Alkitab Indonesia yang berpusat di daerah Salemba, Jakarta, ini memiliki visi “menghadirkan Firman Allah bagi semua orang dalam bahasa yang mudah dipahami agar mereka dapat bertemu dan berinteraksi dengan Allah, dan mengalami hidup baru.”
Untuk mewujudkan visi ini, Lembaga Alkitab Indonesia mengemban misi menghadirkan Alkitab dengan aneka bentuk, format, dan media yang akrab dengan masyarakat.
Salah satu fungsi paling vital Lembaga Alkitab Indonesia adalah menerjemahkan Alkitab; tidak hanya ke bahasa Indonesia, tapi juga ke aneka bahasa daerah yang ada di seluruh negara ini. Di Indonesia, terdapat sekitar 700 bahasa daerah.
Jika Anda mengira satu-satunya produk Lembaga AIkitab adalah Alkitab standar bersampul hitam yang jamak kita lihat sehari-hari, maka Anda keliru. Lembaga Alkitab Indonesia telah melahirkan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah Nusantara: dari Dayak, Sunda, Jawa, Batak,dll.
Selain itu, ada juga produk serial cerita Alkitab bergambar untuk anak, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari/ Masa Kini, Alkitab Anak, Alkitab Edisi Studi (Alkitab dengan panduan penjelasan arkeologi, sejarah, budaya), dan Alkitab Pelangi (yang tiap ayatnya ditandai dalam kelompok warna) dan juga beberapa buku panduan seputar Kitab Suci (PPA Wahyu, Siapa Dia, dll).
Format Alkitab buatan Lembaga Alkitab Indonesia sendiri terdiri atas 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Untuk edisi Kitab Suci umat Katholik, Lembaga Alkitab Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Biblika Indonesia; Perjanjian Lama dan Baru tetap dicetak seperti biasa, dengan selipan Deuterokanonika di antaranya.
Lembaga Alkitab Indonesia lahir tak lama setelah Indonesia merdeka, tepatnya 9 Februari 1954. Peristiwa yang melatarbelakanginya adalah majunya perkembangan bahasa Melayu di Nusantara.
Lembaga Alkitab Belenda yang sebelumnya telah melakukan penerjemahan Alkitab ke bahasa lokal memutuskan untuk membuat terjemahan versi terbaru untuk warga Kristen Indonesia sejak 1952. Setelah Lembaga Alkitab Indonesia lahir, proyek itu pun berpindah tangan.
Proyek ini memakan waktu cukup lama, sehingga untuk sementara Lembaga Alkitab Indonesia mengedarkan versi “Terjemahan Lama” yang terdiri atas Perjanjian Lama Klinkert (diambil dari nama seorang pendeta menonit yang menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu Rendah dialek Semarang pada 1879) dan Perjanjian Baru Bode (diambil dari nama seorang pendeta yang menerjemahkan Alkitab pada 1938).
Dalam pengerjaan terjemahan ini, Lembaga Alkitab Indonesia juga melakukan koordinasi dengan Gereja Katolik Roma, dan dari pertemuan mereka dihasilkan persetujuan dari Gereja Katholik untuk bergabung juga dalam tim penerjemah dan menghentikan proyek terjemahan yang sedang mereka jalankan.
Akhirnya proyek penerjemahan itu rampung pada 1970, lalu diterbitkan bertahap: Perjanjian Baru tahun 1971 dan Perjanjian Lama tahun 1974.

