LBPP LIA Palembang - Kerja Sama Tim dan Pembentukan Pola Pikir
LBPP LIA Palembang adalah sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang telah berusia 16 tahun. Terletak di jantung kota Palembang membuat LBPP LIA Palembang mudah dijangkau. Dengan tidak kurang 2500 pelajar setiap tri semesternya, maka bisa dikatakan bahwa begitu banyak jiwa kader anak bangsa yang mungkin bisa dipengaruhi oleh guru-guru yang mengabdi pada lembaga ini.
Kata kursus yang melekat pada lembaga pendidikan LIA ini, tidak bisa dipandang setengah hati. Ribuan jiwa itu harus dipengaruhi dengan hal-hal yang baik sehingga apa yang mereka dapatkan dari LIA tidak hanya sekadar bahasa Inggris.
Untuk itu pelatihan dan program saling berbagi yang secara berkala diadakan oleh LBPP LIA Palembang, diharapkan akan membuat setiap guru selalu sadar bahwa apapun yang akan mereka berikan di kelas, akan memberikan pengaruh yang tidak sedikit kepada jiwa-jiwa dan pola pikir anak didik.
Peranan Manajemen LBPP LIA Palembang
Para guru tidak akan bisa menjalankan tugas mereka dengan baik tanpa adanya campur tangan pihak manajemen LIA yang mempunyai program kerja yang jelas. Para guru LIA tersebut harus bertanggung jawab secara penuh dengan apa yang telah mereka ajarkan.
Pihak manajemen LIA-pun tidak ingin tinggal diam dalam hal ini. Bagaimanapun manusia adalah tempat lupa dan penuh khilaf. Oleh karenanya, sistem monitor yang dilakukan secara berkala dan terkadang tidak memberitahukan kepada guru, adalah hal yang sering dilakukan. Hal ini bukan saja untuk menjaga mutu pengajaran tapi juga untuk mempertahankan metode pengajaran yang telah ditetapkan.
Di samping sistem monitor, juga ada sistem bimbingan dan pelatihan yang diberikan kepada guru yang dianggap masih kurang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Yayasan LIA. Tentu saja ketiga sistem tersebut dilakukan secara manusiawi.
Akan jarang menemukan guru LIA yang mengabdi lebih dari 15 tahun bila saja sistem yang ada di lembaga tersebut penuh denga tekanan dan tidak memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dalam berkomunikasi dengan para pekerja apalagi dengan para gurunya yang menjadi ujung tombak pengajaran.
Pengajaran di LIA Melibatkan Peserta Didik
Kualitas pengajaran di LIA tidak hanya dijaga dan diawasi oleh pihak manajemen. Setiap 6 bulan sekali, peserta didik diberi kesempatan untuk menilai gurunya melalui pengisian angket yang menyangkut apa saja yang telah dilakukan oleh guru mereka selama di kelas.
Butir-butir dalam angket tersebut sebenarnya adalah semacam tuntunan bagi guru disetiap sesi pengajaran. Misalnya, guru harus mengulas sedikit pelajaran yang telah disampaikan pada sesi sebelumnya. Hal ini berkenaan dengan pola pikir anak agar bisa menyambungkan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran yang akan dia dapatkan selanjutnya.
Guru juga harus memberitahukan apa yang akan dipelajari. Hal ini untuk memberikan contoh kepada peserta didik bahwa apa pun yang mereka lakukan harus mempunyai tujuan yang jelas. Tidak bisa melakukan sesuatu hanya mengikuti arus tanpa ada target yang akan dicapai.
Guru pun harus mampu membuat peserta didik termotivasi belajar. Selain itu, guru pun harus memberi penilaian yang objektif kepada setiap peserta didik. Guru juga tidak boleh menguasai pembicaraan selama proses belajar mengajar berlangsung.
Aktivitas yang diberikan guru LIA juga harus beragam dengan menggunakan beragam teknik dan metode pengajaran. Penggunaan alat bantu mengajar juga harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Beragam persyaratan di atas, bukannya untuk mempersulit para guru LIA. Tapi hal tersebut untuk menjaga agar pengajaran tetap berada pada jalur yang benar dan terukur. Topik dalam buku-buku yang disediakan oleh LBPP LIA pun disesuaikan dengan budaya dan kebiasaan secara global tapi tetap tidak kehilangan keindonesiaannya.
Dalam hal ini, guru LIA harus mampu memberikan pengetahuan lebih yang menyangkut keberagaman budaya di dunia. Dengan mengetahui keberagaman budaya tersebut, diharapkan peserta didik akan paham bahwa mereka akan menjadi warga dunia yang bisa menghormati bangsa lain dengan segala perbedaannya.
Guru LIA juga bekerja dengan memperhatikan tiga fitur pengajaran yang telah ditetapkan oelh LIA. Dengan konsep 3 fitur pengajaran, yaitu pembelajaran yang menyenangkan (fun learning), belajar bagaimana belajar (learning how to learn), dan belajar tidak hanya bahasa Inggris (learn more than English), LBPP LIA Palembang bisa dikatakan merupakan salah satu tempat yang ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa.
Setiap guru LIA diharapkan mampu menjadi ‘A FIESTA TEACHER’. Seorang guru yang berjiwa menyenangkan dan mampu berinteraksi dengan baik dengan peserta didik. Seorang guru yang selalu mau mengeksplorasi pengetahuan. Seorang guru yang sistematik dalam mengajar.
Mengajarkan dari hal yang mudah dengan bahasa yang tidak sulit dipahami. Jadi guru LIA tidak boleh pamer kemampuan bahasa Inggrisnya. Seorang guru yang melek teknologi dan mau menggunakan teknologi ketika mengajar serta seorang guru yang independen. Tanpa mempunyai jiwa mandiri, seorang guru tidak akan mampu atau akan kurang mampu menularkan jiwa mandiri kepada murid-muridnya.
Penguasaan bahasa Inggris adalah suatu hal yang harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memajukan Indonesia. Mau tidak mau bahasa internasional satu ini telah menjadi menu wajib bagi para penuntut ilmu. Akan ada kendala yang tidak sedikit ketika bahasa Inggris tidak menjadi bagian dari diri para pembelajar.
Hal ini telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan yang sering berinteraksi dengan para ilmuwan yang berasal dari negara lain. Penemuan pun banyak ditulis dalam bahasa Inggris. Dengan adanya tuntutan tersebut, pengajaran Bahasa Inggris di LIA diharapkan akan membantu penguasaan bahasa Inggris tersebut dengan mudah dan dalam tempo yang tidak lama.
Tidak itu saja, pengajaran bahasa Inggris di LIA tidak boleh melupakan akar budaya dan keindonesiaan yang menjunjung tinggi nila-nilai relijiusitas. Oleh karenanya, integritas pengajaran yang menggabungkan kerja sama dalam tim, pembelajaran kooperatif, dan pola pikir kritis, diharapkan tidak saja akan membuat anak didik mendapatkan penguasaaan bahasa Inggris, tapi juga nilai-nilai lain. Dengan demikian, pembelajaran tersebut pada akhirnya akan menjadi belajar banyak hal dengan pengantar bahasa Inggris.
LIA Mengajarkan Kerja Sama dalam Tim
Guru LIA harus mampu membuat anak didik bekerja dalam tim dengan solid. Tidak peduli berapa pun jumlah tim tersebut. Walaupun peserta didik hanya bekerja sama dengan salah satu temannya, tetap saja hal tersebut merupakan satu tim.
Guru LIA harus mampu memasangkan peserta didik sedemikian rupa sehingga mereka akan bekerja sama dengan setiap individu yang ada dalam kelas tersebut. Tidak boleh sampai ada geng yang membuat salah satu atau beberapa peserta didik tidak mau bekerja sama dengan peserta didik lainnya.
Untuk lebih membuat peserta didik LIA aktif menggunakan bahasa Inggrisnya, seorang guru bahasa Inggris, tidak boleh berbicara lebih dari 30 menit dari total 120 menit dalam setiap pertemuannya. Hal ini akan membuat peserta didik bisa maksimal bekerja dalam kelompok, baik untuk praktik kebahasaan, memecahkan masalah, mendiskusikan bahan presentasi, atau hanya bertukar informasi (information gap).
Dengan kerja sama tersebut, peserta didik LIA akan merasakan bahwa suatu bahan ajar akan dapat dikerjakan dengan cepat dan tepat ketika dilakukan bersama-sama. Kesempatan bekerja sama ini juga harus mereka terapkan di luar jam belajar di LBPP LIA. Hal ini agar terjaga nilai-nilai kekeluargaan yang telah ditanamkan di dalam kelas.
Sudah terbukti bahwa adanya rasa saling terikat sesama alumni LBPP LIA di mana pun mereka berada. Tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas, tidaklah melenceng jauh dari aktivitas yang sesungguhnya di luar kelas. Hanya saja, di dalam kelas, bahasa Inggrislah yang digunakan sebagai bahasa pengantar.
Kerja sama dalam tim ini juga akan membuat peserta didik terbiasa untuk mendiskusikan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Selain bahwa mereka juga harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Intinya ketika mereka berada dalam satu tim, kesalahan satu orang adalah kesalahan bersama. Kemenangan dalam satu permainan, misalnya, menjadi kemenangan bersama.
Selain bekerja sama dalam tim, peserta didik LIA juga diajarkan belajar secara kooperatif. Pembelajaran kooperatif akan membuat setiap individu dalam satu tim bertanggung jawab terhadap satu hal. Dengan memahami bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab, masing-masing individu akan menyadari bahwa keberadaan mereka sangat penting dan sangat diperhitungkan dalam tim tersebut.
Eksistensi setiap orang harus diakui terutama ketika karyanya bermanfaat bagi kelompoknya. Perasaan ini akan memupuk rasa percaya diri dan keyakinan diri bahwa mereka bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Bila rasa percaya diri ini sudah terpupuk, anak didik LIA akan menjadi lebih kritis dan mau melakukan hal-hal lain melebihi perintah yang diberikan oleh gurunya.
Keinginan melakukan hal yang terbaik dan tidak mudah puas hanya sekadar melepaskan tanggung jawab dari apa yang telah diperintahkan oleh gurunya, akan membuat mereka menjadi pembelajar independen, aktif, kreatif, dan inovatif. Hal ini hanya bisa diraih setelah melalui proses yang panjang. LIA sangat memahami hal ini.
Program yang bervariasi dan sangat beragam yang disediakan oleh LBPP LIA Palembang membuat peserta didik berada dalam tempo waktu yang tidak sebentar. Ada beberapa peserta didik yang berada di LIA selama lebih dari 5 atau 7 tahun. Bahkan kalau mereka mulai dari tingkat dasar yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar, maka itu artinya mereka tumbuh dewasa bersama LIA. Penulis pun merupakan mantan siswa LIA Yogyakarta tahun 1992 yang kini mengabdi kepada LBPP LIA Palembang. Penulis bergabung dengan LIA mulai dari tahun 2000.






