logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Fikih

Agar Lidah Membawa Berkah


Ilustrasi lidah

Lidah merupakan salah satu anggota pancaindra yang dimiliki oleh manusia. Rumahnya berada di dalam mulut dan bertetangga dengan gigi dan gusi. Lidah hanyalah segumpal otot lentur yang melintang dan panjang sehingga dapat digerakkan atau dijulurkan. Normalnya, lidah memiliki ukuran 5-6 cm saja.

Lidah Dan Pemiliknya

Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang sangat bergantung kepada latar belakang si pemilik lidah. Faktor lingkungan, tingkat pendidikan, wawasan, budi pekerti, dan kebiasaan hidupnya sangat mempengaruhi kualitas kata yang dikeluarkan. Kata-kata yang terlontar dari mulut seorang ustadz tentu akan berbeda dengan kata-kata seorang preman. Hal ini dikarenakan perbedaan berbagai faktor yang mempengaruhi kualitas ucapan.

Banyak orang menangis karena si pemilik lidah tidak bisa menjaga lidahnya. Akan tetapi, banyak juga orang yang tersenyum bahagia setelah mendengar beberapa rangkaian kalimat. Semua itu bergantung pada niat dan jenis ucapan yang dilontarkan. Jadi, keselamatan dunia dan akhirat bergantung pada usaha menjaga lidah.

Subhaanallaah, ternyata lidah sangat berperan dalam menghadirkan surga dunia. Coba bayangkan, jika berbagai macam makanan dan minuman yang lezat tidak bisa kita rasakan. Atau, jika semua makanan dan minuman terasa manis, masam, asin atau pahit sekaligus? Tentunya, tidak akan ada makanan yang membuat berselera menyantap suatu hidangan.

Fungsi Lidah

Ditambah lagi fungsi lidah yang amat penting dalam berkomunikasi dengan sesama manusia. Bayangkan, jika Allah tidak menciptakan lidah. Tentunya, kita akan merasa kesulitan mengungkapkan pikiran, perasaan, ataupun sekedar mengeluh tentang suatu hal.

Sebagai bentuk rasa syukur terhadap hasil ciptaan Allah, maka sudah seharusnya kita menggunakan lidah sesuai dengan fungsinya. Untuk mensyukuri kesempurnaan indra pengecap, kita bisa melakukannya dengan selalu menjaga kebersihan lidah dan tidak sembarangan memasukkan makanan. Misalnya, tidak memasukkan makanan atau minuman yang masih panas. Ini bisa membuat lidah terluka.

Untuk mensyukuri lidah sebagai alat ucap, kita bisa memulainya dengan melakukan hal-hal berikut ini.

  1. Membiasakan membasahi bibir dengan berdzikir kepada Allah.
  2. Mengajak orang-orang sekitar kepada kebaikan.
  3. Berkata jujur dan berusaha menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.
  4. Hendaknya pembicaraan selalu diarahkan ke dalam kebaikan.
  5. Tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan.
  6. Tidak membicarakan semua yang kita dengar.
  7. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar.
  8. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.

Cara Menjaga Lisan Agar Tidak Berdusta

Setelah memahami lidah dan fungsinya, tak salah bila penulis mengajak sobat Ahira untuk menjauhkan diri akibat penggunaan lisan yang tidak baik. Ingat, pribahasa yang mengatakan, memang lidah tak bertulang. Artinya, banyak orang yang berdusta. Nah, penulis ingin berbagi ilmu yang didapat dari membaca kitab “bidayatul hidayah” yang dikarang oleh imam al-Ghazali.

Imam Al-Ghazali menuliskan bahwa lidah paling suka tergelincir dalam hal berdusta. Sehingga ia menyatakan bahwa berbohong adalah induk dari segala perbuatan dosa besar. Karena bila telah berbohong, maka akan hilang keadilan kita, akan hilang pula sifat kepercayaan orang lain terhadap ucapan kita. Sehingga, orang lain tidak akan pernah percaya terhadap ucapan kita.

Jika ingin tahu tentang betapa buruknya berbohong itu, maka hendaklah melihat orang yang telah melakukan kejahatan dengan lidahnya melalui berbuat dusta. Atau, Anda bisa melihat apa yang Anda alami ketika didustai oleh orang lain. Karena itu, bila sudah merasakannya, janganlah pernah untuk berdusta. Jika merasa sakit didustai, hendaknya tak usah berdusta.

Hendaklah kita introspeksi diri. Jika dusta yang dilakukan orang lain dianggap buruk, maka dusta yang jika kita lakukan juga akan buruk dianggap oleh orang lain. Maka dari itu, berusahalah sekuat tenaga untuk tidak berdusta. Apalagi Rasulullah Saw. mengategorikan orang yang berdusa termasuk pada golongan orang munafik. Rasulullah Saw. bersabda,

“Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka dia orang munafik, sekalipun dia melakukan shalat dan puasa. Tiga perkara itu adalah: apabila berjanji mengingkari, apabila berkata dusta, dan apabila dipercaya berkhianat.”

Ghibah Juga Termasuk Kejahatan Lidah

Kita juga harus pandai menjaga lisan kita, jangan sampai digunakan untuk membicarakan kejelekan orang lain atau yang biasa disebut dalam bahasa Arab dengan ghibah. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menuturkan bahwa dosa menuturkan kejahatan orang lain lebih besar dari dosa melakukan perbuatan zina tiga puluh kali dalam pandangan agama Islam.

Ghibah adalah membicarakan kondisi orang lain yang jika didengarnya akan membuatnya tidak senang. Jika kita melakukannya, berarti kita telah berbuat ghibah. Meski yang diceritakan benar-benar terjadi. Apalagi di dalam al-Qur’an dijelaskan tentang tercela perbuatan ghibah. Allah Swt. berfirman,

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadany.” (QS. 49: 12)

Pada ayat di atas, Allah Swt telah menjelaskan tentang betapa kejinya melakukan perbuatan ghibah. Karena Allah mengibaratkannya seperti memakan daging saudaranya sendiri. Maka juahilah lidah kita dari menceritakan hal yang tidak baik.

Jauhilah Melaknat dan Mendoakan Jelek

Terkadang, tanpa sadar lisan kita digunakan untuk melaknat orang lain, makanan, binatang dan lain-lain. Sehingga imam al-Ghazali mengingatkan di dalam buku “Bidayatul Hidayah” untuk berusaha keras tidak melaknat apa apa pun.

Demikan halnya, jangan pernah menggunakan lisan kita untuk mengklaim saudara kita seakidah dengan sebutan syirik, kafir ataupun munafik. Sebab, yang mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan batin adalah Allah Swt. karena itu, pesan imam al-Ghazali, janganlah sekali-kali kita masuk dalam masalah yang berada antara hamba dengan Allah.

Karena di akhirat kelak, tulis imam al-Ghazali, bahwa lisan kita ini akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan sampai ditanya mengapa ia melaknat seseorang atau apa pun. Bahkan jika memungkin tak usah melaknat iblis. Cukuplah Allah yang melaknat iblis. Pasalnya, Allah yang tahu bagaimana kejahatan dan kezhaliman yang dilakukan Iblis.

Pelajarilah sejarah hidup Rasulullah Saw. Jangankan mencela orang, mencela makanan pun tak pernah dilakukan Rasulullah. Apabila Rasullah tidak menyukai makanan tersebut, maka ia lebih memilih diam dan tidak memakannya. Rasullah Saw. tak pernah menyebutkan kata tidak enak terhadap makan tersebut.

Seperti halnya melaknat, kita juga tidak boleh mendoakan jelek kepada orang lain. Meski seseorang tersebut berbuat zhalim, tetap saja tak boleh untuk mendoakan jelek untuknya. Cukuplah Allah yang memberikan ganjaran atas perbuatan zhalim yang dilakukannya. Sedangkan kita, cukup bersabar dan tak mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, baik melaknat maupun mendoakan buruk untuknya.

Karena Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang dianiaya, jika mendoakan kepada orang yang menganiaya tentu dikabulkan Allah, sehingga mengimbangipenganiayaan si zalim. Jika masih sisa, maka kelak di hari kiamat akan diminta orang yang dianiaya.

Sehingga masyarakat yang terlalu berlebihan dalam menceritakan kejelekan dan kekejian al-Hallaj bin Yusuf, kemudian seorang tokoh salaf berkata, “sesungguhnya Allah akan membalaskan bagi al-Hallaj orang yang menjelek-jelekkannya, sebagain Allah akan menyiksa al-Hallaj bagi orang yang telah dianiayanya.”

Maka dari itu, penulis mengajak, marilah kita bisa menjaga lidah kita dari mengejek, merendahkan dan menzhalimi orang lain. Jadikanlah lidah ini membawa keberhakan. Jangan sampai ia menuntun kita menjadi penghuni neraka kelak. Apalagi Rasulullah saw. sudah mengingatkan, “Sesungguhnya seseorang yang karena mengeluarkan perkataan dengan ucapan yang mengandung maksud meremehkan (menzhalimi) orang lain, maka, karena ucapannya tersebut, ia dimasukkan ke dalam neraka jahannam selama tujuh puluh tahun.”

 Di dalam hadis yang lain,”Telah diriwayatkan, bawhwa sesungguhnya ada salah seorang yang gugur dalam sebuah pertempuran yang terjadi di jaman Rasulullah saw. Di situ ada salah seorang yang mengatakan, “Untung sekali pemuda yang mati syahid tersebut. Mati dalam pertempuran dan ia pun bakal masuk surga.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Dari mana kamu tahu kalau dia berada di dalam surga? Padahal bole jadi ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadanya, dan pernah berbuat bakhil terhadap sesuatu yang tidak memberikan kecukupan terhadap dirinya.”

Berdasarkan keterangan dua hadis di atas, dapat dipahami bahwa lidah atau lisan sangat potensial mendatangkan bahaya, jika tidak bisa dijaga dan dikendalikan dengan baik. Semoga kita menjadi bagian dari orang yang mampu menjaga lisan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tata Cara Mandi Wajib yang Benar
  • Panduan Singkat Menulis Makalah Agama Islam
  • Wasiat Ulama Mengenai Dzikir dan Shalat
  • Hukum Islam
  • Meraih Bahagia dengan Zuhud
  • Pengorbanan Sahabat Nabi Saw
  • Di Balik Pesona Jilbab Gaul
  • Makalah Dakwah Islam
  • Tema Khotbah Jumat - Ihsan dan Berbuat yang Terbaik
  • Makna Maulid Nabi Bagi Umat Islam
  • Urgensi Fiqih Dakwah bagi Umat
  • Hijab Penjaga Kehormatan Wanita Muslimah
  • Contoh Norma-Norma Agama Islam dalam Hubungan Suami-Istri
  • Tanda-Tanda Ketika Ajal Menjemput
  • Awal Pembentukan Akhlak
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA