logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Lubang Buaya: Sekelumit Misteri, Sekelumit Politik


Ilustrasi lubang buaya

Mudah-mudahan putera dan puteri Indonesia saat ini masing mengenal Lubang Buaya. Bukan dikarenakan di tempat itu tidak jauh darinya terdapat tempat wisata yang dinamakan Taman Mini Indonesia Indah, melainkan di tempat itu, suatu peristiwa menyedihkan di mulai, peristiwa Angkara, kotak pandora made in Indonesia, dan suatu layar drama yang tertutup dari penonton selama-lamanya.

Lubang buaya adalah cermin wajah generasi Indonesia yang akan selalu mewarisi masalah dari para ‘pahlawannya’. Bila ada yang ingin Anda gugat terhadap hidup, apabila lahir satu kosa kata sumpah serapah baru, barangkali bagi orang Indonesia yang memahami alur yang memahami peristiwa sejarah, akan menyertakan kata Lubang Buaya.

Sudut Pandang

Kita ambil sudut pandang yang paling mudah. Lubang Buaya adalah suatu kampung, wilayah, daerah atau bagaimana cara Anda memandang cara orang Betawi menyebut wilayahnya yang merupakan kota rawa, sawah, dan kanal.

Jakarta pada awalnya memang bandar kecil bernama Sunda Kelapa, berbatasan dengan Ibukota Kerajaan Sunda Galuh Pakuan di sebelah timur, tepatnya di Candra Bhaga (kota rembulan), yang kali ini di kenal sebagai Bekasi, akibat dialek ngeyel gaya Betawian, Bhagasasi menjadi Bekasi. 

Kanal-kanal di Jakarta berubah fungsi. Kota dengan seribu sungai mengalir itu menjadi kota padat, di mana tanah merah yang subur dan bergiji menjadi tanah hitam yang mati dan mematikan akibat di hantam dengan oli agar tanah tersebut tidak tumbuh lagi tanaman oleh para pengembang kota.

Beberapa wilayah yang tadinya rawa menjadi bukan rawa, beberapa daerah yang tadinya menjadi habitat menjadi hilang habitat. Begitu pula dengan Lubang Buaya. Dari namanya saja, sudah menjelaskan isinya. Tempat ini adalah di mana buaya berhabitat. Buaya jenis apa? Tentu saja buaya Jawa pemakan manusia.

Seperti yang terlihat di (rawa) Angke, seperti yang muncul di (rawa) Cengkareng. Yang muncul di (rawa) Belong Atau yang pernah telihat mondar mandir di (rawa) Sunter. 100 % pure buaya rawa. Jakarta pernah dibombardir, jakarta pernah di bakar, jakarta pernah mengalami pengepungan, jakarta di urug, dan tidak ada satu buaya pun yang bakal bertahan di tengah hiruk pikuk manusia itu.

Sehingga Lubang Buaya, hanya jadi nama, cerita tentang nama rawa, cerita tentang nama wilayah yang pernah di aliri dan barangkali sampai saat ini masih di aliri oleh sungai Sunter dan sungai Cilangkap.

Jarang ada foklor bercerita mengawali kisah tentang lubang buaya. Tidak seperti Cengkareng misalnya, di mana tokoh Jampang pernah bikin basis dan jadi pahlawan. Orang Sunda di tanah Betawi bawa golok ya jadi jagoan. Atau seperti wilayah Marunda, yang memperkenalkan kepada rakyat kisah tentang Pitung jagoan Betawi.

Pitung ini matinya ditembak oleh Demang Meester, mayatnya di sebar ke lima wilayah, jadi apa yang dinamakan Pitung ini? Tennyata konon Lima orang Jagoan rampok yang beken (Pitu = 5), sehingga mayat si Pitung masuk akal di sebar ke 5 wilayah, dan si Pitung bisa hidup lagi barangkali sebenarnya Belanda salah tangkap, Anda bisa cari tahu sendiri kisah jagoan Betawi itu, dan tersebar kisahnya melalui tanah Betawi, namun tidak satupun yang menyebut keterlibatan tentang wilayah yang bernama Lubang Buaya. 

Wilayahnya memang termasuk wilayah tepian, periferal yang kurang menarik dan kondunsif, terletak di selatan Pondok Gede,  dikepit oleh Kampung Bambu Apus, dan kampung Dukuh, Kampung Rambutan, bahkan jika tidak ada Bandara Halim, sedikit orang bakal ingat nama Lubang Buaya.

Gagasan Informal

Kita ketahui bersama bahwa di tempat itu peristiwa berlangsung pada akhir medio 1965. Awalnya adalah isu Ganyang Malaysia yang dihembuskan oleh presiden Soekarno. Karena emosi akan konsep persemakmuran yang digambarkan sebagai bentuk baru kolonialisme. 

Soekarno yang cenderung semakin pemberang di hari tuanya, menginginkan ada full scale military ops. Dia ingin suatu perang besar di mulai, jika berhasil terhadap Papua, mengapa tidak pula pada semenanjung Malaya?  Namun yang dihadapi bukanlah Belanda dengan limited edition setelah kalah perang di Nusantara. Melainkan Inggris sebagai pemenang perang - termasuk perang perluasan dan aneksasi koloni di Israel melawan Arab.

Petinggi militer Indonesia tahu diri, bahwa bila pingin full scale, bisa bisa jadi scare crow, bisa jadi orang-orangan sawah yang hanya mampu menakuti burung, dan tidak bisa menakuti orang.  Malaysia di asist Inggris sebagaimana mereka melakukan asist pada Israel.

Malaysia tidak terbendung, kecuali Indonesia yang pada waktu itu memiliki kekuatan milter salah satu yang terbesar di Asia, punya alasan untuk all out, dan Indonesia tidak punya itu. Setidaknya para petinggi militer AD menganggap demikian.

Kenyataan ini membuat Soekarno berang.Soekarno berpikir bahwa sebagian petinggi AD, hendak membelot, hendak mempreteli wibawanya. Oleh karena itulah presiden Soekarno ingin menunjukkan who’s the man, pada para petinggi AD. Dengan cara ‘mengundang’ mereka secara paksa di Istana negara untuk di tanyai mano on mano (antara laki-laki dengan laki-laki), tanpa ada protokol. 

Gagasan itu merupakan gagasan informal dari Soekarno. Yang lantas diterjemahkan secara militer oleh beberapa perwira muda Angkatan Darat, dan disusupi atau dibumbui oleh muatan politis oleh para petinggi CC PKI. Sebagaimana nasib rantai komando informal yang kadang kandas karena noise (dalam ilmu komunikasi).

Begitupun nasib pesan informal Soekarno kepada beberapa perwira militer yang setia padanya (termasuk Soeharto). Pesan itu di bajak oleh pesan politik PKI, yang kebetulan dekat dengan beberapa opsir perwira menengah AD (termasuk Soeharto). Perintah hadapkan hidup-hidup, di bajak oleh orang CC PKI Syam Kamaruzzaman menjadi hidup atau mati.

Pangkostrad Soeharto dan Pangdam Jakarta Umar Wirahadikusumah yang telah paham plot informalnya, terkejut setengah mati dengan improvivasi lapangan yang dipimpin oleh Kolonel Untung itu. Jenderal Soeharto sendiri telah diberitahu oleh Kolonel Latief sebagai mantan bawahannya bahwa akan ada pemanggilan informal terhadap para Jenderal.

Kedua orang itu tidak tahu bahwa yang informal itu lantas menjadi berdarah-darah.  Para jenderal petinggi Angkatan Darat di culik dari rumahnya, dalam kondisi mengenaskan. Dan di bawa ke basement pelatihan tentara rakyat yang akan di kirim ke Malaysia di Lubang Buaya. Mereka di bunuh di sana.

Wilayah Fitnah

Karena improvisasi yang buruk, dan berkesan nekat. Maka para jenderal dan perwira AD non target operasi yang awalnya bersikap netral menjadi berang, bahkan murka. Soeharto mengambil posisi melawan. Di bantu oleh para Jenderal yang tadinya ikut mengamankan kota Jakarta dan mempersilahkan sang operator mengatur operasinya.

Siaran Radio RRI pada hari tanggal 1 Oktober 1965, bukan sesuatu yang informal lagi. Tapi pembokongan. Semua perwira Angkatan Darat yang tersisa lantas bersikap tegas kepada para operator. Membubarkan diri atau siap kena hantam. Presiden Soekarno yang tidak kalah terkejut, mengambil alih komando. Segala pimpinan yang ada dilapangan di bentuk kembali, dan akhirnya AD masih punya tampuk pimpinan dan itu diserahkan sepenuhnya kepada Jenderal Soeharto.

Di Lubang Buaya, para operator sepakat membubarkan diri, dan patuh pada arahan Presiden Soekarno –walau sempat terjadi jual beli tembakan. Hal ini membuat para Komando di bawah pimpinan Jenderal Soeharto berhasil leluasa menelusuri wilayah yang jadi markas komando dari gerakan 30 September. Mereka berhasil menemukan sumur tua di Lubang Buaya itu. Dan menemukan tubuh para Jenderal AD terkubur di dalamnya.

Para jenderal itu memang terkena fitnah. Fitnah tentang gerakan kontra revolusi dan kup yang belum terjadi. Dan para jenderal itu memang pahlawan bangsa. Karena berhasil menghindarkan Indonesia dari perang skala penuh yang bagi generasi penerus hanyalah perang demi kejayaan semata dan bukan karena alasan yang lebih adil dan prinsipil sebagaimana amanat UUD 45 sendiri.

Tapi ada fitnah lain mencoreng peristiwa yang ada. Fitnah bahwa terjadi penyiksaan kepada para jenderal. Bercampur dengan fitnah demi fitnah agar satu rezim bisa berdiri dengan langgeng. Hal yang sangat disesali, menemani darah pahlawan dengan cerita yang tidak perlu, dan sebenarnya bisa di selesaikan di meja makan. Benar kata Ratna Sarumpaet. Jadi orang Indonesia itu ribet.

Lubang Buaya Kini

Berdiri di atas tanahnya monumen revolusi. Lubang buaya menjadi semacam wilayah wisata sejarah. Sejarah tentang rumitnya Indonesia? Sejarah yang masih menyisakan tanya, sebagaimana telunjuk tangan seorang Jenderal yang menjadi korban di sana, menunjuk tegas. Di sana? Di mana Jenderal? Kapan Jenderal? Di Lubang Buaya, sang Jenderal menunjuk ke arah angin. Dan bukan wajah.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sejarah Perjuangan Irian Barat yang Panjang dan Berliku
  • Penjelasan Sejarah Kerajaan Kutai Lengkap
  • Peperangan Dunia Ke-1
  • Kisah Pendiri Kerajaan Kalingga
  • Kerajaan Demak - Pusat Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa
  • Tahun Berdirinya Kerajaan Sriwijaya, Masa Kejayaan, dan Pengaruhnya Kini
  • Sejarah Uni Eropa dan Masa Pembentukannya
  • Situs-Situs Peninggalan Kerajaan Cirebon
  • Misteri Candi Budha di Borobudur
  • Sejarah Kerajaan Kutai Martadipura
  • Sejarah Soeharto Menjadi Presiden -Takdir Bangsa yang Tak Terelakan
  • Peradaban Dunia: Mengungkap Peradaban Pompeii yang Hilang
  • Kerajaan Pajang dalam Sejarah
  • Perang Teluk: Peperangan di Teluk Persia
  • Kitab Taurat dan Nabi Musa a.s
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA