Majalah Playboy: Perempuan Sebagai Komoditas

Siapa tidak mengenal majalah Playboy yang dibidani oleh Hugh Hefner? Majalah lelaki dewasa yang sudah mendunia ini memiliki “cabang-cabang” di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang konon disesuaikan dengan budaya negara masing-masing. Banyak yang berdalih tentang hak kebebasan berpendapat untuk mengesahkan keberadaan Playboy secara resmi di Indonesia.
Banyak pula yang menyebutkan bahwa toh bos Playboy, Hugh Hefner, sangat sering membantu orang tidak mampu atau mereka yang bergelut dengan penyakit kronis. Artinya, uang Playboy bisa digunakan untuk kebaikan. Sementara itu, yang tidak suka dengan Playboy tidak kalah sengit membantah. Ada yang berkata bahwa Playboy mempunyai aib begitu besar karena Hugh Hefner dengan mansion model-modelnya ternyata seperti menciptakan harem.
Belum lagi, masalah budaya Timur yang bertentangan sama sekali dengan pameran tubuh ala model-model Playboy. Kalau ada budaya Indonesia yang perempuannya memakai pakaian adat yang terlihat memamerkan tubuh, tujuannya bukan untuk pemuasan hasrat lelaki seperti dalam Playboy.
Perempuan Sebagai Komoditas
Mengapa Playboy (dan rekanannya; majalah dengan tonjolan perempuan berpakaian minim; entah dari luar negeri atau malah dari dalam negeri) layak diberi rapor merah? Pada dasarnya, Playboy melecehkan perempuan. Apapun alasannya, entah karena estetika atau murni demi uang, Playboy menjadikan modelnya sebagai komoditas; perempuan sebagai barang dagangan.
Yang lebih buruk, barang dagangan itu tidak dilihat dari seberapa cerdasnya model atau seberapa baiknya hati model tersebut. Penilaian melulu hanya karena keindahan bentuk tubuh -sekaligus menafikan kemampuan model di bidang lain selain tubuhnya. Bahkan, seolah sudah ada stigma bahwa model Playboy adalah model yang bisa dibeginikan atau dibegitukan. Memang, stigma tersebut tidak sepenuhnya benar. Namun, stigma inilah yang kelak akan menjerumuskan model tersebut sehingga pekerjaannya hanya berkisar di tempat-tempat yang sama dengan Playboy.
Playboy, Emansipasi, Feminisme, Agama
Jika dibandingkan dengan emansipasi wanita atau yang lebih ekstrem feminisme (walaupun ada feminis yang justru menyatakan Playboy menunjukkan bahwa lelaki tunduk pada wanita karena begitu mudah mereka membeli majalah tentang kemolekan tubuh perempuan), jelas tindakan Playboy dan majalah lainnya adalah langkah mundur.
Perempuan diposisikan berada di bawah dan selamanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan pria. Bahkan, posisi perempuan ini lebih rendah daripada bayangan masyarakat tentang perempuan yang ideal. Karena Indonesia berbasis agama dan agama mana pun tidak ada yang merendahkan perempuan, bahkan meninggikannya, tentu Playboy bertentangan dengan prinsip ini.
Kalau kita menolak sebuah ormas karena mereka suka bertindak anarkis dan bertentangan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, tentu aneh kalau kita memuja majalah yang tindakannya lebih anarkis, melecehkan perempuan.






