logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Banten

Beragam Bahan untuk Makalah Suku Badui


Ilustrasi makalah suku baduy

Suku Baduy adalah suku yang berdiam di daerah Pegunungan Keundeng, yaitu di desa Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, propinsi Banten.

Masyarakat Suku Baduy masih memegang tradisi dan adat yang sangat kuat. Sebenarnya, masyarakat tersebut lebih senang menyebut dirinya sebagai "urang Kanekes" yang berarti “orang Kanekes”. Nama Badui pertama kali diberikan oleh seorang peneliti Belanda. Peneliti itu memberi nama Baduy, sebab orang-orang Kanekes dianggap sama seperti orang Badawi atau Bedouin Arab yang hidupnya berpindah-pindah (nomaden). Nama Baduy bisa juga diambil dari sungai Badui dan Gunung Badui yang berada di daerah utara Kanekes.

Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari suku tersebut adalah keengganan masyarakatnya untuk mencampuri atau dicampuri urusan orang luar Baduy. Mereka beranggapan bahwa segala hal yang berada di luar masyarakat Kanekes lebih bersifat duniawi ketimbang ukhrawi sehingga nilai-nilai primordial yang ditanamkan di daerah mereka sejak kecil dianggap akan terganggu apabila mereka ikut campur dalam urusan duniawi seperti yang dilakukan oleh masyarakat modern.

Dengan kekhasan tersebut, masyarakat Baduy memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap nilai budaya masyarakat Indonesia sehingga tidak heran jika banyak kaum akademis yang berusaha membuat berbagai makalah Suku Baduy untuk meneliti lebih jelas bagaimana corak kehidupan masyarakat yang terkenal tertutup tersebut.

Sementara itu, dalam hal politik dan sosial, masyarakat Baduy juga masih memberlakukan sistem pemerintahan lama yang berbasis tradisional. Mereka membagi wilayahnya menjadi tiga bagian sehingga secara pemerintahan, sosial, dan budaya pun ketiganya memiliki perbedaan masing-masing.

Tiga Bagian Suku Baduy

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, masyarakat baduy memiliki tiga bagian wilayah yang merupakan tanda kekhasan mereka. Pembagian ini dibuat berdasarkan aturan dan adat istiadat yang berlaku di daerah Kanekes.Tiga bagian suku Baduy tersebut adalah Bduy Dalam atau biasa juga disebut Kanekes Dalam, Baduy luar yang bisa juga disebut Kanekes Luar, dan Kanekes Dangka. Tiga bagian tersebut dibedakan karena alasan sebagai berikut.

  • Baduy Dalam


Disebut juga kelompok Tangtu. Kelompok ini benar-benar ketat menjalankan tradisi dan adat. Kampung yang termasuk ke dalam Badui Dalam adalah kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana. Ciri khas pakaian yang selalu dikenakan oleh masyarakat Baduy Dalam berupa ikat kepala berwarna putih, dan baju berwarna biru tua atau putih. Penggunaan pakaian tersebut bukan tidak memiliki makna. Pakaian putih yang dikenakan masyarakat baduy dalam merupakan bukti bahwa masyarakat mereka masih memegang teguh prinsip tradisional yang diturunkan oleh para leluhur.

Prinsip yang dimaksud tersebut adalah meliputi segala hal yang bernilai tradisional. Masyarakat Baduy dalam tidak boleh menggunakan segala sesuatu yang bernilai modern untuk kebutuhan apa pun, seperti barang elektronik, barang hasil industri, dan semua yang berbaur dengan zat kimia. Selain itu, masyarakat Baduy dalam juga dilarang menggunakan pakaian yang sudah dijahit secara modern. Pakaian yang dikenakan oleh mereka haruslah apa yang berasal dari alam, dengan cara yang tradisional atau alami, yakni dengan menjahit sendiri tanpa menggunakan mesin jahit.

Keteguhan terhadap nilai tradisional seperti inilah yang tidak dimiliki oleh masyarakat suku Baduy lainnya sehingga perbedaan mendasar ketiga bagian suku Baduy tersebut dapat dilihat dari sistem perekonomian, pemerintahan, sosial, dan budaya yang digunakan oleh ketiganya.

  • Baduy Luar


Disebut juga dengan kelompok Panamping. Ciri khas masyarakatnya, yaitu selalu memakai ikat kepala yang berwarna hitam, sama dengan warna pakaiannya. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Badui Luar adalah desa Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cikadu, dan Cisagu.

Masyarakat tersebut menggunakan pakaian berwarna hitam karena dianggap telah tercemar dari segi budaya, berbeda dengan masyarakat Baduy dalam yang serba putih. Oleh sebab itulah mereka dikeluarkan dari Baduy dalam karena telah melanggar berbagai aturan karuhun yang melarang mereka untuk berhubungan dengan dunia dan kebiasaan modern.

  • Baduy atau Kanekes Dangka


Berbeda dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar, masyarakat Baduy Dangka tidak tinggal di dalam daerah Kanekes. Mereka tinggal di luar wilayah tersebut. Desa yang termasuk dalam suku Baduy Dangka ada dua desa, yaitu Desa Cibengkung atau disebut juga Padawaras, dan Desa Cihandam (disebut juga Desa Sirahdayeuh). Selain telah keluar secara geografis, mereka juga dianggap telah keluar secara budaya karena sudah tidak lagi memegang prinsip budaya leluhur urang Kanekes.

Kepercayaan Masyarakat Baduy

Awalnya, masyarakat Suku Baduy menganut paham animisme. Mereka menyembah nenek moyang mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan mereka dipengaruhi oleh agama Islam, Hindu, dan Budha. Meskipun demikian, mereka masih tetap menjalankan adat dan tradisi yang telah mereka lakukan sejak jaman nenek moyang dahulu.

Arca Domas adalah sebuah objek penting yang dianggap sakral bagi masyarakat Kanekes. Lokasi Arca Domas ini dirahasiakan. Setahun sekali, masyarakat setempat mengunjungi Arca Domas untuk melakukan pemujaan. Yang diperbolehkan mengunjungi Arca Domas hanyalah orang-orang tertentu, seperti ketua adat tertinggi, beserta orang-orang kepercayaannya.

Di sekitar Arca Domas terdapat sebuah batu yang disebut Batu Lumping. Batu tersebut dapat menampung air. Jika pada saat pemujaan batu itu penuh dengan air, maka dipercaya bahwa hujan akan sering turun. Itu berarti panen di Desa Kanekes akan berhasil.

Begitu pula sebaliknya. Jika Batu Lumping ditemukan kosong atau hanya berisi sedikit air, atau airnya berwarna keruh pada saat pemujaan, maka alamat buruk. Hujan akan jarang turun, dan panen kurang berhasil.

Mata Pencaharian dan Sistem Pemerintahan Masyarakat Baduy

Masyarakat Kanekes hidup dari bertani. Selain itu, hutan di daerah Kanekes juga sangat menghasilkan. Berbagai macam buah tumbuh di hutan mereka. Karena itu, mereka hidup dari berjualan hasil bumi dan buah-buahan yang mereka peroleh dari hutan.

Hingga saat ini, masyarakat Kanekes masih melakukan upacara seba. Yaitu upacara tanda patuh pada penguasa. Upacara seba ini dilakukan setahun sekali. Dalam upacara itu, masyarakat memberikan hasil bumi mereka kepada Gubernur Banten, yang dianggap sebagai penguasa setempat.

Selain mata pencaharian, hal yang perlu diketahui saat hendak membuat makalah Suku Baduy adalah mengetahui sistem pemerintahan yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.

Sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan di atas, masyarakat Baduy sangat pantang untuk mengubah segala sesuatu yang sudah ada secara kodrati dan alam. Hal tersebut juga berlaku untuk sistem pemerintahan yang dipergunakan untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Kanekes.

Dengan dua sistem pemerintahan, yakni sistem adat istiadat dan sistem pemerintahan nasional, masyarakat Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut dengan jaro pamarentah. Namun, secara adat istiadat, pimpinan tertintggi yang dianggap mampu mengatur masyarakat Kanekes dengan baik disebut dengan sebutan pu'un. Jabatan tersebut ditempati oleh orang yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat Kanekes sehingga tidak ada jangka waktu yang ditentukan untuk mengetahui seberapa lama seorang pu'un akan memimpin masyarakat tersebut.

Tulisan mengenai Suku Baduy ini dapat digunakan untuk menyusun sebuah makalah Suku Baduy. Namun, untuk menghasilkan makalah dengan kualitas yang baik, sebaiknya Anda mencari tambahan bahan dengan cara mendatangi perkampungan Suku Baduy secara langsung agar datanya lebih akurat.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Peta Banten: Swasembada Beras Ala Suku Baduy
  • Corak Kehidupan Masyarakat Suku Baduy
  • Mengenal kehidupan Suku Baduy
  • Sejarah Suku Badui dan Sebutannya
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA