Makanan Kolesterol: Dibenci Tapi Dibutuhkan
Makanan apa yang paling ditakuti banyak orang saat ini? Salah satunya adalah makanan kolesterol alias makanan dengan kadar kolesterol tinggi. Entah karena iklan, karena kata orang, atau memang melihat atau merasakan sendiri, sebagian orang memberi cap negatif terhadap kolesterol.
Dia dianggap sebagai biang kerok bagi munculnya beragam penyakit menakutkan, semacam penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis), dan sejenisnya. Karena ketakutan itulah, sebagian orang mengumumkan ”perang” dengan makhluk bernama kolesterol. Aneka diet dilakukan untuk memastikan agar zat yang satu ini tidak masuk ke dalam tubuhnya.
Benarkah kolesterol sejahat itu sehingga kita layak menjauhinya?
Tuhan tentu menciptakan segala sesuatu dengan manfaatnya masing-masing sehingga tidak ada kata mubazir. Namun sebelum menjawab pertanyaan di atas dengan ”iya” atau ”tidak”, kita coba sedikit berkenalan dengan apa dan bagaimana kolesterol itu agar kita lebih bijak menyikapinya.
Di dalam makanan yang kita konsumsi, terdapat tiga jenis lemak, yaitu
- kolesterol,
- fospor lipid, dan
- trigliserida (lemak netral).
Kolesterol dikenal sebagai lipid yang tidak larut dalam air. Walau kesannya menakutkan, kolesterol ini memiliki sejumlah manfaat yang sangat diperlukan tubuh, di antaranya:
- berfungsi sebagai bagian penting dari dinding sel,
- merupakan isolasi dari susunan saraf dan otak yang dibutuhkan untuk memproduksi hormon pada korteks adrenal, hormon seks, hormon kelenjar anak ginjal,
- sebagai bahan baku hormon steroid, dan
- bahan baku untuk memproduksi garam empedu.
Bagaimana ceritanya sehingga kolesterol bisa menjadi senyawa pembunuh?
Di dalam tubuh, kolesterol akan berikatan dengan sejenis protein untuk membentuk lipoprotein. Lipoprotein ini kemudian membentuk dua jenis lipoprotein, yaitu low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL).
Kolesterol LDL inilah yang dianggap berbahaya karena memiliki sifat mengental di dalam pembuluh darah. Ketika pengentalan tersebut terjadi di pembuluh darah jantung koroner, aliran darah ke jantung pun akan tersumbat. Hal ini berisiko menimbulkan serangan jantung yang bisa menyebabkan kematian mendadak.
Nah, proses pengentalan akan terjadi apabila kadar kolesterol di dalam darah melebihi batas normal. Kadar kolesterol darah yang normal berkisar antara 150-250 mg persen, di mana nilai kolesterol darah yang ideal adalah 200 mg persen.
Untuk menghindari kondisi tersebut, kita harus lebih arif, bijak, dan cerdas dalam manajemen pola makan. Makanan dengan kadar kolesterol tinggi—semacam kuning telur, jeroan (hati), mentega, keju, daging, dan susu—dapat dan “wajib” kita nikmati, asalkan tetap mengacu kepada azas kepatutan dan proporsionalitas.
Kita pun harus diimbangi dengan asupan serat, antioksidan, dan sumber nitrik oksida yang memadai. Sumber serat mikro yang baik antara lain agar-agar dari rumput laut, sayuran dan buah-buahan. Selain makanan pendamping yang menyehatkan, kita pun memerlukan aktivitas fisik berupa olahraga yang teratur.
Dengan demikian, diet kolesterol secara ketat bukan solusi bijak untuk membebaskan diri dari efek negatif yang ditimbulkannya. Kata kuncinya ada pada pola makan seimbang yang mengacu pada azas kepatutan, termasuk dalam kondisi ekstrim sekalipun.
Sebuah penelitian di Kentucky Medical School, Amerika Serikat, membuktikan bahwa pasien penderita dislipidemia (penyakit lemak darah alias kolesterol tinggi) yang menjalankan diet kolesterol moderat yang disertai dengan mengonsumsi serat solubel dalam bentuk bekatul hermavut 100 gram setiap hari, mengalami penurunan kadar kolestrol darah yang signifikan.
Namun sebaliknya, pasien yang menjalankan diet kolesterol secara ketat—alias mengharamkan kolesterol masuk ke dalam tubuhnya—tanpa asupan serat makanan sama sekali, kadar kolesterol di dalam darahnya pun tetap tinggi.






