Makanan Modern Bercita Rasa Tradisional
Makanan modern? Hmm..Anda cukup bingung dengan istilah itu? Apakah makanan modern merupakan sebutan bagi lawan kata makanan tradisional? Bisa jadi betul. Lantas, jika bukan berkenaan dengan hal itu, lalu apalagi?
Makanan Luar Negeri Sama dengan Makanan Modern?
Anda tidak mungkin berpikir bahwa makanan modern adalah makanan yang tidak terbuat dari bahan-bahan makanan yang lumrah, bukan? Anda juga tidak berpikir bahwa makanan modern menggunakan bahan-bahan rekaan yang sifatnya modern bukan? Tentu saja tidak! Karena makanan modern pada dasarnya sama. Yang membedakan biasanya adalah zaman.
Ya, sebutan makanan modern biasanya berkenaan dengan zaman. Ketika zaman sudah semakin maju, kebiasaan masyarakat juga sudah semakin modern, maka makanan yang dikonsumsi pun berubah menjadi lebih modern. Lalu, apa sih sebenarnya makanan modern itu?
Sepertinya ada yang harus disepakati dalam hal ini. Bagaimana jika sebutan makanan modern dalam artikel ini berkenaan dengan menu-menu luar negeri yang cenderung secara teknologi memang sudah jauh modern? Pengolahannya modern serta penyajian yang juga jauh lebih modern. Ya, setidaknya, makanan-makanan yang konon modern tersebut tidak ada yang disajikan dengan menggunakan daun pisang.
Kenyataannya, kebiasaan yang berkembang di masyarakat untuk penyebutan makanan modern memang mengacu pada berbagai produk makanan luar negeri. Nilai prestise tiba-tiba meninggi ketika seseorang bisa mengonsumsi makanan modern. Berbagai restoran yang menjual berbagai menu makanan modern pun mulai marak. Contohnya adalah maraknya berbagai restoran fastfood di Indonesia.
Entahlah, apakah harus ada sebutan itu? Mentang-mentang teknologi sudah modern, lantas apakah makanan juga harus dibedakan menjadi makanan tradisional dan makanan modern? Rasanya lucu, tapi memang itulah yang terjadi di negara ini. Menyikapinya pun terserah kepada Anda pribadi. Yang terpenting, makanan jangan sampai kehilangan hakikat sejatinya sebagai pengisi perut dan penyuplai nutrisi dalam tubuh.
Seperti yang sudah cukup diketahui bahwa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, jika belum mengonsumsi nasi maka itu belum bisa dikategorikan makan. Sekalipun sudah berbagai jenis makanan masuk dalam perut. Jika Anda termasuk satu di antaranya, sepertinya Anda tidak cocok dengan makanan modern. Hal ini disebabkan karena, sebagian besar makanan berkategori modern cenderung tidak menyuguhkan nasi. Percaya atau tidak.
Mengapa cenderung demikian? Jawabannya sangat logis. Jika kita sama-sama setuju bahwa penyebutan makanan modern ini berlaku untuk makanan luar negeri, maka Anda pasti tahu penyebabnya. Ya, tradisi makan bagi sebagian besar masyarakat luar negeri memang tidak dengan nasi, mereka lebih cenderung memilih roti. Jadi, sangat wajar jika pada jenis makanan modern, nasi sangat jarang ditemukan. Jadi bagaimana? Masih minat mencoba makanan modern? Sesekali coba saja!
Keunikan Makanan Modern
Setiap makanan, pasti memiliki keunikan tersendiri, pun dengan makanan modern. Salah satunya, tidak menyertakan nasi. Keunikan yang dimiliki oleh makanan modern ini bisa jadi memang tidak dimiliki oleh makanan tradisional. Hal itulah yang menjadi daya tarik dari makanan modern itu sendiri.
Kesadaran akan makanan sehat bergizi sudah semakin luas dipahami oleh masyarakat. Tapi cita rasa makanan modern yang semakin memengaruhi mata, hati, dan jiwa masyarakat juga tak bisa dipungkiri begitu saja.
Cita rasa makanan modern itu ditunjukan melalui berbagai cara. Mulai dari kecepatan dalam penyajian, tampilan yang wah serta menggunakan bahan-bahan impor yang cenderung asing di telinga kita. Faktor-faktor yang menjadi identitas dari makanan modern itu, terkadang malah tidak memiliki kandungan nutrisi yang baik. Terutama ketika berbicara tentang cara pengolahannya yang cepat atau biasa disebut fastfood.
Berbeda dengan makanan tradisional. Makanan tradisional lebih dikaitkan dengan tampilan sederhana, penuh sayur yang berserat tinggi, campuran bumbu yang dipikirkan secara matang serta pengolahannya yang benar-benar baik. Tanpa bermaksud membandingkannya dengan makanan modern, kenyataannya itulah yang terjadi.
Makanan Tradisional dalam Balutan Makanan Modern
Melihat maraknya perbandingan makanan modern dan tradisional, secara tidak langsung hal ini membuat makanan tradisional cenderung mulai kalah saing dengan kehadiran makanan modern. Masyarakat cenderung lebih antusias untuk mencoba berbagai menu makanan modern daripada menu tradisional.
Siasat pun diperlukan, terutama bagi Anda yang ingin membuka usaha restoran atau memiliki anak yang sudah gandrung dengan aneka makanan modern. Salah satu caranya yaitu mengemas makanan tradisional dengan citarasa atau identitas makanan modern. Berikut ini adalah beberapa perpaduan antara makanan modern dan tradisional yang patut untuk Anda coba!
1. Makanan Modern - Cokelat Monggo
Jangan salah, meskipun sudah cukup akrab dengan masyarakat Indonensia, cokelat termasuk makanan modern. Cokelat yang dikenal berkualitas bagus datang dari Swiss. Tapi, kali ini kreasi cokelat datang dari Indonesia.
Cokelat yang merupakan makanan modern ini diproduksi di Bantul, Yogyakarta. Makanan ini diolah dengan peralatan modern dan dikemas dengan cita rasa internasional. Maklum, pemiliknya bukan orang Indonesia, tapi sudah begitu Indonesia. Hal ini tercermin dengan penyesuaian rasa yang cocok dengan lidah orang Indonesia. Berbagai rasa, dari rasa pedas, jahe, hingga cokelat bercita rasa yang biasa ditemui di pasaran.
Cokelat Monggo cukup laris dan kini menjadi salah satu makanan modern campuran tradisional dari Yogyakarta selain kaos Dagadu, bakpia Patuk, dan belut Godean.
2. Makanan Modern - Pizza dan Burger Pecel
Pizza rasa pecel. Ini juga merupakan inovasi dan percampuran rasa yang tidak biasa. Bukan hal gampang memadukan makanan modern dengan makanan tradisional. Tapi makanan ini cukup enak dan tidak bikin enek. Apalagi bagi orang-orang yang sangat menjaga penampilan. Makan pizza atau burger yang berkalori tinggi adalah haram. Tapi kalau yang bercita rasa pecel, rasanya tidak akan membuat pinggang melar 3 cm.
Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya, makanan modern bercampur dengan citarasa tradisional. Roti pizza yang mengenyangkan berpadu dengan sambal kacang khas ala pecel.
3. Makanan Modern - Steak Tahu dan Tempe
Makanan modern ini sangat terkenal. Terbuat dari daging sapi dengan bumbu yang menggoyang lidah. Tapi apa jadinya jika makanan dari daging ini diganti dengan bahan-bahan tradisional seperti tahu dan tempe. Ya, makanan tradisional berbalut modern ini cukup terkenal di kalangan para vegetarian. Dengan bumbu-bumbu yang benar-benar lengkap dan racikannya pas, rasa tempe dan tahunya hilang sama sekali. Yang ada hanyalah rasa steak sapi yang sedap.
4. Makanan Modern - Soya Foya (Puding Tahu dan Tempe)
Ini juga salah satu produk turunan dari kacang kedelai. Proses yang telah melewati beberapa kali uji coba benar-benar menghasilkan puding lembut dengan rasa cokelat, stroberi, melon, mixed fruities. Puding pun tergolong sebagai salah satu makanan modern. Berbeda dengan agar-agar bukan, yang citarasanya lebih tradisional?
Bahan dasar tahu dan tempe yang dipakai tidak terasa sama sekali. Percampuran yang sempurna dengan pengelolaan yang bagus yang menggunakan peralatan yang cukup modern, membuat soya foya sangat lembut dan tidak berbau tahu atau tempe lagi. Pudding nan sehat ini juga dijual murah, hanya Rp 2.500 per porsi. Ini baru makanan modern bercita rasa tradisional, penuh gizi tapi tetap nikmat.
5. Makanan Modern - Spaghetti Bihun
Makanan modern yang satu ini juga sudah cukup terkenal. Dengan topping jejamuran Spaghetti sudah sangat terkenal di Indonesia. Harganya yang mahal membuat banyak orang berkreasi untuk mendapatkan spaghetti murah dan sehat tapi tidak mahal.
Caranya, daging cincang diganti dengan jejamuran. Jamur beraneka ragam yang cukup murah diolah sedemikian rupa hingga mempunyai rasa daging giling yang sedap. Mi spaghetti yang mahal pun diganti dengan bihun yang berharga jauh lebih murah. Kemudian semua bahan dimasak bersama. Maka, spaghetti yang notabene merupakan salah satu makanan modern ini berubah jadi makanan tradisional dengan mengandalkan bihun. Sederhana namun menarik, bukan?






