Khasiat Brokoli Sebagai Makanan Penderita Diabetes

Kunci sukses mengelola penyakit diabetes adalah selalu mengontrol kadar gula dalam darah secara teratur, diet makanan tertentu dan senantiasa melakukan olahraga secara teratur. Salah makanan penderita diabetes yang memiliki nilai gizi cukup tapi tetap aman adalah brokoli.
Berdasarkan hasil penelitian dari Universitas Warwick, Inggris, menemukan zat yang bernama sulforaphane dalam sayuran brokoli. Zat ini digadang-gadang memiliki peran besar dalam memulihkan kembali pembuluh darah.
Karena berkaitan dengan memulihkan kembali pembuluh darah, dan menurunkan kadar molekul perusakan sel-sel darah. Mengkonsumsi brokoli secara teratur, sejauh ini menekan penyakit serangan jantung dan stroke.
Dalam penelitan tersebut juga diuji bagaimana pengaruh zat sulforaphane terhadap sel pembuluh darah yang mengandung kadar gula darah tinggi yang selama ini menjadi sebab seseorang menderita diabetes melitus. Sekitar 73 prosen terjadi reduksi oleh kehadiran zat sulforaphane ini.
Bila kadar glukosa dalam darah di atas 120 mg/dl dalam keadaan berpuasa dan di atas 200 mg/dl dalam keadaan 2 jam setelah makan, maka seseorang akan dinyatakan menderita diabetes melitus.
Tanda lain dari seorang penderita diabetes adalah dalam air kencingnya positif mengandung gula. Munculnya penyakit ini lantaran kegagalan fungsi hormon insulin dalam mengatur kadar gula seseorang.
Seorang penderita diabetes melitus dianjurkan mengkonsumsi makan yang mengandung karbohidrat berserat seperti pepaya, kedondong, sayuran, kacang-kacang, apel, tomat, dan salak. Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi sehingga terasa terlalu manis seperti sawo, jeruk, durian, nanas, sebaiknya dihindari.
Sementara bawang merah dan bawang putih yang bila ditambahkan pada makanan diet bagi penderita diabetes penting dilakukan, terutama karena kedua bumbu dapur tersebut terbukti secara signifikan bisa menurunkan kadar lemak dan glukosa dalam darah.
Dalam mengatur diet manakan bagi penderita diabetes melitus, dr. Andry Hartono, seorang ahli gizi mengistilahkannya dengan konsep 3 J, yakni seorang penderita diabetes perlu senantiasa memperhatikan jumlah kalori, jadwal makan, dan jenis makanan.
Cara menghitung berapa kebutuhan jumlah kalori sehari-hari seseorang yang aman adalah dengan mengkalikan 30 dengan berat badan. Misalnya seseorang dengan berat badan 60kg, maka kebutuhan kalori sehari-hari untuk keadaan normal atau tanpa aktivitas berat seperti olahraga, 1800 kalori. Namun apabila menjalankan kegiatan olahraga, maka tambahkan sekitar 300an kalori.
Sementara untuk konsep ”J” yang kedua yakni jadwal makan, dr. Andry Hartono lebih menyarankan pada penderita diabetes untuk lebih sering makan dengan porsi sedang, sehingga jumlah kalori dari hasil makan tersebut lebih merata sepanjang hari. Apabila jumlah kalori bisa diatur merata sepanjang hari, produksi kelenjar ludah dalam perut tidak mendadak.
Lalu, bagaimana dengan jumlah makanan? Beberapa makanan berkalori rendah dan tidak terlalu manis seperti disebutkan di atas, bisa dikonsumi oleh penderita diabtes. Yang perlu dibatasi adalah mengkonsumsi makanan berkalori tinggi seperti nasi, daging berlemak, kuning telur dan jeroan.
Demikian pula makanan yang mengandung kadar lemak tinggi seperti sosis, coklat, dendeng, dan es krim. Sayuran berwarna hijau gelap seperti brokoli, bayam, buncis bisa dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak.
Konsep 3 J tadi sebenarnya bisa ditambah jadi 4 J. ”J” yang terakhir ini adalah untuk ”jangan lupa olahraga”. Hal terpenting dari kegiatan olahraga bagi penderita diabtes adalah terjadinya pembakaran kalori dalam tubuh, sehingga glukosa dalam darah tidak ditimbun karena terpakai untuk energi yang dibutuhkan selama kegiatan olahraga dan sesudahnya.
Namun, berbeda dengan orang yang sehat, pada saat akan memilih jenis olaharaga, kadar dan intensitas olahraganya harus tetap dikonsultasikan dengan dokter, agar jangan sampai salah kaprah dalam memilih dan melakukan jenis olahraganya.
Selain menjaga makan dan olahraga, yang tak kalah pentingnya adalah tetap berdoa. Dengan berdoa, hidup akan senantiasa gembira dan optimis. Telah banyak bukti seseorang yang hidup optimis, bisa mengurangi dampak buruk dari sebuah penyakit.






