Memahami Makna Idul Adha
Memahami makna idul adha menjadi suatu keharusan bagi segenap insan beriman supaya mampu mengejawantah pesan-pesan idul adha dalam laku kesehariannya. Idul adha merupakan hari dimana sesama manusia saling memberi dan berbagai. Idul adha menjadi penanda eksistensi relijiusitas dalam kehidupan nyata manusia.
Makna idul adha sekali lagi penting untuk dipahami secara mendalam oleh setiap manusia. Di bulan haji, dimana idul adha dilakukan, umat muslim yang mampu wajib melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Ibadah haji ini merupakan ritus ibadah yang mengajarkan sikap eglitarianisme ke sesama umat manusia.
Lihat saja, ketika jutaan umat muslim beribadah di tanah suci maka segala status keduniaan ditanggalkan: kaya, miskin, pejabat, rakyat, atau bahkan berkulit hitam dan berkulit putih semuanya sama saja.
Makna Ibadah Qurban
Selain melaksanakan haji, di bulan berkah ini ada ibadah yang merupakan ibadah yang tergolong hablumminannas. Setiap muslim yang mampu harus melaksanakan ibadah qurban sebagai kendaraannya di akhirat kelak.
Anjuran berqurban ini diawali ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah melalui isyarat mimpinya untuk menyembelih putera kesayangannya, Ismail, sebagai bukti untuk menunjukkan bakti dan ketaatannya kepada Allah Swt.
Peristiwa yang menuntut keikhlasan ini mampu memberikan pesan yang mendalam bagi kita mengenai makna idul adha. Betapa tidak, bertahun-tahun Ibrahim merindukan mempunyai seorang putera dari istrinya Siti Hajar.
Akhirnya, Allah pun berkenan mengabukan doa Ibrahim dengan memberikannya seorang anak, yang lantas kita kenal sebagai Ismail. Ibrahim pun sangat bersyukur dan berharap kelak anaknya tersebut akan menjadi penerusnya menyebarkan agama Allah.
Namun, keimanannya diuji Allah. Suatu ketika perintah melalui mimpinya yang seolah nyata untuk menyembelih anaknya datang kepada Ibrahim. Tak syak lagi, Ibrahim berada dalam kondisi dilematis, antara menuruti perintah Tuhan yang berarti ia taat dan teguh mempertahankan keimanannya, dengan mengikuti hawa nafsunya untuk menolak perintah menyembelih anaknya tersebut.
Akhirnya, Ibrahim yang bersedia mengorbankan anaknya untuk disembelih diganti qurbannya dengan seekor qibas. Ismail tak jadi disembelih karena memang hakikat dari perintah Allah tersebut hanya bentuk ujian akan keimanan seorang Ibrahim. Ia pun lulus dari ujian ketaatan tersebut. Dimana kisahnya diabadikan dalam al-Quran surat as-Shaffat : 102-109.
Apa yang bisa kita ambil dan cerna dari kisah tersebut? Bahwa ketakwaan seorang makhluk terhadap khaliknya jangan sampai dikalahkan oleh nafsu yang bisa membutakan hatinya untuk mencintai selain khaliqnya tersebut.
Apa yang ditunjukkan Ibrahim dengan lebih memilih mencintai Allah dibandingkan anaknya sendiri, Ismail mampu menunjukkan kepada kita semua bahwa hal itulah yang seharusnya dilkukan.
Hal lain yang bisa diambil yakni, dengan digantinya perintah dari menyembelih manusia menjadi domba (qibas) menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.
Hal tersebut senada dengan apa yang dijelaskan Imam Syatibi dalam al-Muwafaqat. Dalam kitab tersebut, Syatibi secara gamblang menjelaskan bahwa nilai keuniversalan Islam (maqoshid al syariah) bahwa agama menjamin dan menjaga hak hidup umatnya (hifdzu al nafs).
Demikianlah bahwa kita bisa memetikan banyak makna idul adha sebagai hari pengorbanan bagi umat Islam yang menginginkan keutamaan di sisi Allah.






