Makna Peribahasa
Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu. Peribahasa dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni sebagai berikut.
1. Pepatah
Pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran.
Contoh:
Hidup berakal mati beriman.
(Hendaknya kita berpanjang akal dalam mengerjakan sesuatu).
Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.
(Kebaikan seseorang akan selalu dikenang selama-lamanya).
2. Perumpamaan
Perumpamaan adalah peribahasa yang berupa perbandingan, biasanya menggunakan kata seperti, ibarat, bagai, bak, laksana, dan umpama.
Contoh:
Bagai itik pulang petang.
(Pekerjaan yang dikerjakan dengan santai-santai).
Ibarat seekor balam, mata terlepas badan terkurung.
(Seseorang yang dipinggit; hidupnya selalu diawasi).
3. Pameo
Pameo adalah peribahasa yang dijadikan semboyan.
Contoh:
Esa hilang, dua terbilang.
Sekali di udara, tetap di udara.
Dalam konteks percakapan saat ini, peribahasa sudah jarang digunakan. Padahal, kandungan makna peribahasa sangat dalam. Dengan menggunakan bahasa kias, kritik atau saran yang disampaikan akan dapat diterima oleh lawan bicara. Bahkan, peribahasa dapat memberi gambaran kepada kita cara santun berbahasa.
Berikut beberapa peribahasa dan maknanya yang dapat digunakan dalam konteks pembicaraan.
- Seperti embun di ujung rumput. Artinya, kasih sayang atau cinta yang belum mendalam dan belum tetap.
- Sungguh di mata sudah luput, namun di hati takkan hilang. Artinya, meskipun berjauhan, karena sangat mencintai tetap masih terukir di hati dan tidak dapat dilupakan.
- Kalau ada emas di pinggang, semua jalan menjadi lapang. Artinya, kalau cukup sarana dan biaya segala pekerjaan akan menjadi mudah dan lancar.
- Mengharap hujan dari langit, air di tempayan ditumpahkan. Artinya, mengharapkan keuntungan yang lebih besar, tetapi belum pasti, keuntungan kecil yang sudah di hadapan mata dilepaskan.
- Kalau hidup tidak berilmu, duduk tegak kemari canggung. Artinya, kalau orang tidak berilmu, ia akan mendapatkan banyak kesulitan dalam hidupnya karena setiap akan mengerjakan sesuatu selalu diliputi perasaan takut dan ragu-ragu.
- Duduk seorang bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang. Artinya, memecahkan masalah sendiri tentu akan lebih sulit, tetapi jika dilakukan dengan bermusyawarah kita akan cepat menemukan solusinya.
- Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Artinya, tidak mempunyai daya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan; tidak kesampaian.
- Umpama buah kepayang, dimakan mabuk dibuang sayang. Artinya, perihal sesutau yang disayang tetapi merusak, hendak dibuang sayang karena kita menyenanginya.
- Telah kusut ujung dengan pangkal, karena salah memulai. Artinya, karena kesalahan memulai, suatu pekerjaan menjadi tidak karuan atau kacau.
- Biar lamat asal selamat, takkan lari gunung dikejar. Artinya, setiap pekerjaan tidak usah terburu-buru, yang penting berhasil.






