Sejak Kapan Anda Menyadari Makna Syahadat?
Ilustrasi makna syahadat
Makna Syahadat bukan sesuatu yang main-main. Kata-kata ini benar-benar membedakan keyakinan. Ketika seorang muslim menyatakan selamat hari raya kepada orang lain yang beragama lain, itu pun bentuk pengakuan terhadap apa yang diyakini orang tersebut. Begitu juga dengan kata-kata yang terucap pada saat akad nikah. Ucapan akad nikah itu terdengar sederhana. Namun, itulah ucapan pengikat yang menghalalkan apa yang haram dan mengharamkan yang dulu halal. Sekali lagi bahwa kata-kata itu membedakan.
Proklamasi Hati Atas Ketaatan yang Sesungguhnya
Anda seorang Muslim? Kapan Anda pertama kali mengucapkan dua kalimat Syahadat? Dalam sholat kalimat ini seharusnya diucapkan dengan kesadaran yang sesungguhnya. Ketika pertama kali mengucapkannya, sudahkah Anda menghayati maknanya? Mungkin saat pertama kali mengucapkannya, masih kecil sehingga belum memahaminya dengan sungguh-sungguh walaupun tahu artinya dan maksudnya. Kini setelah dewasa, Syahadat ini harus merupakan proklamasi hati atas ketaatan yang sebenarnya.
Bagi kita yang terlahir dari ibu dan ayah kandung yang beragama Islam, barang kali kita tidak ingat kapan pertama kali mengucapkan Syahadat, yang sebenarnya adalah kata-kata syakral, yang sangat menentukan nasib kita di akhirat kelak. Kita hanya bisa mengira-ngira pertama kali mengucapkannya mungkin waktu pertama kali belajar mengaji di Masjid ketika baru berusia empat tahunan. Atau, bahkan ketika masuk Sekolah Dasar karena ada pelajaran Agama Islam.
Anda yakin sudah mengucapkan syahadat ketika masih sangat kecil dan selalu melafalkannya pada saat sholat. Tapi, jujur saja kapan Anda pertama kali benar-benar menyadari makna dua kalimat Syahadat? Atau, jangan-jangan kebanyakan dari kita, berulang kali mengucapkannya tapi tidak pernah menyadari maknanya! Tidak pernah juga mencoba memberikan hati ketika mengucapkannya. Padahal kalimat inilah yang membedakan antara yang beragama Islam dan yang bukan.
Lafal Dua Kalimat Syahadat, ‘Asyhadu allaailaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullaah’. Artinya: Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Kalimat ini mengandung pengertian atas pengakuan. Pengakuan yang membawa dampak besar pada apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bukan berhenti pada lapaz itu saja. Bakti atas pengakuan itu harus dilaksanakan dengan saksama.
Tidak boleh seseorang yang mengaku sebagai muslim lalu tidak mau tunduk pada peraturan dan tuntunan yang lain. Rukun Islam itu tidak hanya mengucapkan syahadat. Tetapi ada rukun lain yang harus dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga. Selain itu ada juga rukun iman yang harus ditaati. Tanpa memberikan hati dengan ikhlas menjalankan perintah-Nya, maka kehidupan ini tidak akan benar.
Ketika mengkhianati Allah Swt, maka yang terjadi adalah terhalangnya jalan mendapatkan kebaikan. Logikanya adalah orang yang baik akan bergaul dengan orang yang baik. Ketika seseorang itu berbuat tidak baik, maka orang baik ini tidak mau mendekat. Padahal orang baik hanya akan berbuat baik. Mereka menjaga kehidupannya agar tetap baik. Mereka tahu bahwa kalau mereka tidak baik, maka akhir kehidupannya pun tidak akan baik.
Lalu dengan siapa para pengkhianat Allah Swt ini akan bergaul. Tentunya dengan para pengkhianat Allah Swt lainnya. Mereka bergaul bersama dan merasa senang dengan perbuatan jahatnya. Mereka bahkan merencanakan perbuatan jahat lainnya. Hingga akhirnya mereka mati pun dalam keadaan melakukan kebiasaannya yang mengkhianati Allah Swt. Tidak jarang terdengat seorang pezina mati di kamar seorang pelacur. Atau seorang penjudi mati di sarang perjudian. Seorang pemabuk mati dengan memegang botol minuman.
Sebaliknya, orang yang baik itu mati dengan cara yang baik dan tidak menyusahkan orang lain. Matinya menyejukan hati sehingga banyak orang yang mau mati seperti dia. Banyak orang menangisi kepergiannya. Banyak yang mengenang kebaikannya. Inilah refleksi dari keimanan dengan proklamasi kalimat Syahadat itu. Hidupnya diwakafkan untuk membantu orang lain. Tidak ada yang ia harapkan selain kasih sayang dari Tuhannya. Ia tidak mengharapkan bantuan manusia. Ia tidak mengemis kepada manusia.
Ia tahu kalau ia mengemis kepada manusia, maka itu sama dengan mengkhianati Tuhannya. Ia sangat tahu bahwa Allah Swt itu sangat pencemburu dan tidak mau ada satupun umat-Nya yang berpaling dari-Nya. Kalau memang sangat memahami makna dari Syahadat ini, maka seorang hamba akan dengan ikhlas mengikuti semua tuntunan dan meninggalkan semua larangan-Nya. Dalam hidupnya tiada satu aktivitas pun yang diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan-Nya.
Tidak mudah untuk menjadi baik. Tetapi kalau tetap menjadi baik, maka ganjarannya memang bukan main-main. Surga yang di dalamnya mengalir air sungai dengan aneka jenis air. Tidak usah dibayangkan karena bayangan itu tidak akan lebih indah dari yang sesungguhnya. Biarkan hati menuntun ke arah kebaikan dan melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh dan setiap saat bertasbih kepada Allah Swt.
Makna Kalimat Syahadat
Syahadat adalah ikrar (pengakuan) bahwa seseorang telah memeluk agama Islam dan tunduk dengan segala aturan atau hukum yang ditetapkan oleh Allah Swt melalui al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Dalam dua kalimat syahadat, yang pertama adalah pengakuan tentang ke-Esaan Allah Swt, dalam arti, hanya Allah lah Tuhan yang menciptakan dan menguasai alam dan seluruh isinya; dan hanya Allah lah yang wajib disembah.
Syahadat yang kedua adalah pengakuan kerasulan Nabi Muhammad saw. Mengakui kerasulan Muhammad saw sama dengan mengakui adanya Malaikat, Kitab-kitab, hari Kiamat dan semua hukum syari’at yang dibawanya. Oleh karena itu, seperti dijelaskan oleh Syaikh Mahmud Syaltut, Syahadat mengandung dua unsur: Akidah Islam dan Syari’at Islam.
Pengakuan ini harus diikuti dengan terus belajar dan belajar tentang keislaman. Terkadang apa yang dilakukan mungkin saja bukan bersumber dari agama Islam. Kalau tidak bersumber dari referensi utama, yaitu Al-Quran dan hadits, maka ditakutkan merupakan bid’ah. Kalau aktivitas itu bid’ah, maka sedapat mungkin, tinggalkanlah. Bila terus melakukannya, sama saja dengan telah melakukan pengkhianatan kepada Allah Swt dan tidak percaya bahwa Islam ini memang telah sempurna.
Tidak perlu ragu mengatakan kesempurnaan Islam karena kalaupun belum menemukan hadits atau tuntunannya, mungkin hanya karena keterbatasan ilmu. Itu artinya harus menggali lagi. Misalnya, ada serang ibu yang meminta syarat pernikahan berupa emas kepada laki-laki yang melamar anaknya. Sang ibu mengatakan bahwa ini adalah ajaran Islam. Padahal tidak ada syarat itu dalam rukun pernikahan. Jadi, permintaan itu boleh tidak dipenuhi. Kalaupun ingin dipenuhi, hanya sebagai bentuk hadiah kepada orangtua dan tidak akan membatalkan pernikahan.
Syahadat adalah Pernyataan Misi
Islam mengajarkan ikrar Syahadat kepada semua pemeluknya sejak belasan abad yang lalu. Syahadat adalah pernyataan misi. Jika dua kalimat Syahadat itu benar-benar dihayati dan diresapkan dalam hati, dan bukan sekedar diucapkan dalam bibir, maka dampaknya akan luar biasa.
Mengucapkan Syahadat adalah sumpah dihadapan Tuhan. Ketika kita bersyahadat, kita serahkan hidup dan mati kita hanya kepada Tuhan; kita menyadari bahwa jika kita melanggar aturan-aturan-Nya kita akan disiksa. Itulah makna ucapan syahadat yang sebenarnya.
Seiring berkembangnya peradaban manusia, para pemikir Barat mengembangkan pernyataan misi baik dalam bidang politik, ekonomi maupun bidang lainnya. Beberapa contoh di antaranya, seperti dikutip oleh Ary Ginanjar Agustian, pernyataan misi Angkatan Laut Inggris Raya yang sangat populer, “British Rules the Waves” (Inggris lah yang Mengatur Gelombang Samudera).
Pernyataan misi ini konon dapat mengantarkan Inggris menjadi Negara koloni terbesar di dunia pada abad pertengahan masehi. “Tenno Haika” (Demi Dewa Matahari) kabarnya dapat membuat orang Jepang begitu berani hingga rela bunuh diri.
Dalam dunia bisnis, pernyataan “Kapan Saja, Di Mana Saja Minum Coca Cola” diduga keras dapat membawa minuman Coca Cola tersebar ke seluruh dunia. Jika pernyataan-pernyataan yang dibuat manusia bisa dihayati dan dimasukkan dalam hati sehingga dapat mendobrak segala rintangan yang menghadang untuk menuju sukses hidup di dunia.
Maka sudah seharusnyalah pernyataan yang langsung diajarkan oleh Allah SWT, yakni pernyataan dua kalimat Syahadat, kita tancapkan dalam diri kita untuk meraih sukses bukan sekedar di dunia yang fana ini, tapi juga di akhirat yang kekal abadi. Demikianlah, semoga Syahadat yang selalu kita perbaharui setiap sholat itu dapat kita resapi maknanya, agar kita dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Amin. Wallahu a’lam bishshawaab.

