logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Tafsir

Yuk, Cari Tahu Makna Syahadatain!


Ilustrasi makna syahadatain

Hampir setiap hari kita membaca dua kalimat syahadat, minimal 9 kali dalam setiap shalat wajib. Di luar waktu itu barangkali sering juga dibaca oleh banyak orang, dalam doa maupun dalam perbincangan sehari-hari. Kita juga mengetahui bahwa membaca dua kalimat syahadat merupakan rukun Islam di mana orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat ini bukan termasuk orang Islam. Syahadat juga kita ketahui adalah gerbang untuk menuju agama Islam bagi pemeluk agama lain. Setelah membaca dua kalimat syahadat ini, umat yang beragama non Islam akan menjadi beragama Islam. Begitu besar dan kuatnya fungsi dari syahadat ini di dalam segala sendi kehidupan umat Islam. Tapi apakah kita sudah benar-benar memahami maknanya?

Makna Syahadatain - Syahadat, 'Tiket' Masuk Surga yang Mulai Kehilangan Esensi

Saat ini syahadat nampaknya menjadi kalimat yang sering diucapkan, namun semakin hilang esensinya. Padahal, kalimat syahadat adalah kalimat yang mulia dan agung, sehingga menjadi semacam 'tiket' untuk masuk surganya Allah Swt.

Perhatikan saja ucapan Baginda Rasul Saw. berikut ini.

Barangsiapa yang meninggal sedangkan dia mengetahui makna Laa ilaaha illallaah pasti masuk surga. (HR. Muslim)

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tiadalah seorang hamba bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa keduanya tanpa ada keraguan sedikitpun pasti ia akan masuk surgaa. (HR. Muslim)

Begitu pun dengan yang disampaikan oleh Ubadah bin ash Shamit ra. :

Siapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkan neraka atasnya.(HR. Muslim)

Apa yang disampaikan Rasul SAW di atas menjadi gambaran betapa mulia dan agungnya kalimat syahadat sehingga bisa menjadi modal utama untuk memasuki jannahNya.

Abu Jahal pun Paham Makna Syahadatain

Tapi, apakah semudah itu sehingga cukup hanya membaca asyhaduallaa ilaaha illallah wa asyhaduanna muhammadar rasuulullahotomatis seseorang masuk surga?

Baik, mari kita perhatikan apa yang dipahami Abu Jahal tentang syahadatain tersebut:

Suatu saat, Nabi SAW pernah mengumpulkan para pimpinan Quraisy dari keluarganya, Bani Hasyim. Beliau saat itu berkata kepada mereka: "Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, yang hanya dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?"

Kemudian, Abu Jahal menjawab, "Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun akan aku terima."Lalu Nabi SAW berkata: "Ucapkanlah Laa ilaaha illallah dan muhammadan rasulullah."Abu Jahal lalu menjawab, "Kalau itu yang kau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab."

Nah, bukankah dengan pernyataan Abu Jahal tersebut menunjukkan betapa pahamnya dia terhadap makna dua kalimat syahadat yang dimintakan oleh Nabi SAW untuk diikrarkan, sehingga dengan serta merta Abu Jahal menolaknya?

Makna Syahadatain - Makna Dua Kalimat Syahadat

Dalam surat at Taubah ayat 31 Allah Swt. berfirman:

Mereka menjadikan para pembesar dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al Masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Penjelasan ayat di atas bisa kita pahami dari sebuah hadits yang disampaikan oleh Imam at Tirmidzi dari jalan Adi bin Hatim ra. yang berkata :

Aku pernah datang kepada Nabi Saw., sementara di leherku bergantung salib yang terbuat dari emas. Nabi Saw. lalu bersabda, "Wahai Adi, campakkan berhala itu dari tubuhmu!"Lalu aku mendengar Beliau membaca surat al Bara'ah (surat at Taubah ayat 31) : Mereka menjadikan para pembesar dan para rahib mereka sebagi tuhan-tuhan selain Allah.

Nabi Saw. kemudian bersabda, "Benar, mereka tidak menyebah para pembesar dan para rahib itu. Akan tetapi, ketika para pembesar dan para rahib itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka pun menghalalkannya, dan jika para pembesar dan para rahib itu mengharamkan sesuatu, mereka pun mengharamkannya." (HR. at Tirmidzi)

Berdasarkan keterangan di atas maka bisa kita pahami bahwa makna dua kalimat syahadat adalah pemurnian ketaatan, ketundukan, dan pengabdian hanya kepada Allah saja dengan cara menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah sebagaimana yang dijelaskan kehalalan dan keharamannya itu oleh Rasul Muhammad SAW.

Konsekuensi Pengucapan Syahadat

Dari penjelasan di atas, sudah benar-benar jelas bahwa syahadat adalah sebuah pengakuan terhadap keesaan Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Allahlah pencipta langit, bumi, dan seluruh alam seisinya. Abu Jahal tidak mau mengakui syahadat karena tidak mau menjalankan konsekuensinya. Apa saja konsekuensi pengucapan syahadat tersebut? Tentu saja semua aturan yang sudah diberikan oleh Allah harus ditaati. Tidak bisa ketika kita sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi perilaku kita masih jauh dari hukum-hukum agama Islam. Kita masih suka mencuri, masih suka minum-minuman keras, melakukan perzinahan, korupsi, penipuan, dan hal lain yang dilarang oleh agama. Ketika kita sudah mengucapkan dua kalimat syahadat dan perilaku kita masih jauh dari norma agama Islam, berarti masih ada yang salah dalam pengakuan kita. Bisa jadi kita belum sepenuhnya yakin tentang makna syahadat yang kita ucapkan tersebut.

Jika kita ingin mencotoh perilaku dari orang yang benar-benar mengerti dan menghayati makna dari syahadat tersebut, kita bisa melihat sosok Rasulullah. Bagaimana beliau bersikap dan melakukan segala kegiatan sehari-hari, bisa kita jadikan contoh bagaimana seharusnya kita bersikap. Karena Rasulullah adalah suri tauladan yang baik untuk kita semua.

Memegang Syahadat Sampai Akhir Hayat

Setelah kita mengetahui makna dari syahadat tersebut, tidak ada lagi cara untuk membayar keimanan tersebut selain memegang teguh keyakinan akan makna syahadat tersebut sampai akhir hayat kita. Dan hal tersebut adalah harga mati kita sebagai orang Islam. Karena ketika kita sudah meyakinin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah ketika masa hidup kita, dan kita ingkar terhadap keyakinan itu saat ajal menjelang, sia-sialah semuanya. Seperti kisah seorang ulama besar bernama Barsisa. Saat hidupnya, Barsisa sangat taat dan patuh terhadap Tuhan dan mempunyai banyak sekali santri yang belajar kepadanya. Syetan tidak terima dan menggoda ulama tersebut dengan Putri yang sangat cantik yang datang untuk berobat. Berkat bujuk rayu syetan, sang ulama pun menodai sang putri. Raja yang marah, kemudian menyuruh untuk menghukum mati sang ulama. Ulama pun bertobat dan kembali mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi, sungguh malang karena ketika ajal menjelang, syetan bisa menggoyahkan keyakinan tersebut dan membuat Barsisa meyakini akan kemampuan syetan yang bisa menolongnya. Sungguh sangat disayangkan karena akhirnya seorang ulama besar harus meninggal dalam keadaan kufur dan surga yang seharusnya didapatkan selama

Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkan kita memaknai syahadatain secara utuh seperti itu? Bila jawabannya belum, maka seharusnya kita malu kepada Abu Jahal.

Wallahu'alam

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menggali Arti Akhlak dalam Islam
  • 3 Amalan yang Tetap Mengalir Pahalanya
  • Pengertian Akhlak dalam Islam - Pentingnya Akhlak Mulia
  • Mau Tahu Dasar Aqidah Islam Tentang Allah? Mari Mengaji Surat Al-Ikhlas
  • Asmaul Husna dan Manfaatnya
  • Memetik Hikmah Ibadah
  • Hakikat Ibadah: Meraih Hidup Bermakna dengan Amal Utama
  • Tafsir Mimpi Menurut Islam - Enggak Ada yang Aneh-Aneh, Kok!
  • Nasehat Islami untuk Kaum Muslimin
  • Mengenal Macam-macam Akhlak Tercela
  • Memahami Arti Kehidupan, Bekal Sekarang dan Nanti
  • Tafsiran Mimpi Para Nabi
  • Kepastian Akhir Zaman
  • Iblis - Etimologi Sampai Tempat Tinggal
  • Mengenal Nama-Nama Surga
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA