Manajemen Teknologi Informasi dalam Pencegahan Bencana
Ilustrasi manajemen teknologi informasi
Ketika tsunami melanda Mentawai, banyak pihak gerah mengapa peran manajemen teknologi informasi, early warning system yang telah ada tidak berjalan semestinya. Sebenarnya lembaga yang berwenang mengklaim telah menetapakan status bahaya tsunami. Namun, selang beberapa waktu kemudian, justru peringatan itu dicabut. Hasilnya, tsunami meluluhlantakkan Kepulauan Mentawai.
Indonesia tidak hanya sekali saja menghadapi tsunami. Setelah kota Aceh yang disapu ganasnya tsunami. Kita berbenah memperbaiki pengelolaan tanggap darurat bencana. Maka, dipasanglah alat early warning system yang tersebar di beberapa titik rawan bencana.
Pada era terkoneksi sekarang ini peran teknologi informasi tidak bisa dinihilkan. Sedangkan manajamen pemerintahan harus melihat ini sebagai peluang dalam rangka menghadapi bencana.
Manajemen Teknologi Informasi
Ada empat tahapan periode dalam perkembangan komunikasi dan informasi, yaitu pra-mekanik, mekanik, elektromekanik, dan elektronik. Berikut ini periode perkembangan teknologi informasi.
1. Periode Pra-Mekanik
Pada periode pra-mekanik, bangsa Fenisia yang mendiami Timur Tengah (sekarang Lebanon) menciptakan komunikasi dalam bentuk simbol. Saat itu adalah tahun 2000 SM. Sebelum itu, manusia menggunakan gambar untuk menyampaikan pesan di antara mereka.
Bangsa Yunani Kuno mengadaptasi simbol Fenisia dengan menambahkan huruf vokal. Hal ini membuat simbol tersebut lebih mudah digunakan. Bangsa Romawi Kuno kemudian memakainya, lalu menciptakan alfabet yang kita gunakan hingga saat ini.
Pada 600 SM, pembuatan buku dimulai yang dibuat dari papirus yang dilekatkan. Pemuka agama dan pimpinan biasanya menyimpan koleksi buku. Selanjutnya, bangsa Mesir Kuno menciptakan sistem angka. Mereka juga merupakan penemu alat bantu hitung abakus.
2. Periode Mekanik
Pada masa ini, manusia mulai mengembangkan peralatan untuk menyimpan dan merekam informasi. Johann Gutenburg dari Jerman menemukan mesin cetak. Hal ini mempermudah penyampaian informasi saat itu. Tahun 1600, komputer analog pertama diciptakan oleh Blaise Pascal. Komputer itu disebut Pascaline dan merupakan titik awal mesin menggantikan fungsi otak manusia untuk menghitung data.
3. Periode Elektromekanik
Masa keemasan periode ini ditandai dengan penggunaan listrik untuk memberikan energi untuk menjalankan penemuan-penemuan mesin komputer sesudah Pascaline. Pada periode ini pula diciptakan telepon dan kode Morse sebagai alat komunikasi jarak jauh.
Komputer pertama yang digunakan untuk menyimpan program dan data diperkenalkan pada 1948. Nama komputer tersebut adalah Dubbed he Manchester Mark I. Komputer tersebut merupakan awal penemuan teknologi selanjutnya yang mengembangkan versi laptop dan desktop saat ini.
4. Periode Elektronik
Pada 1957, Jean Hoerni mengembangkan transistor planar. Alat ini mampu mengintregasikan sirkuit yang diciptakan pada tahun selanjutnya. Kemudian, pada 1960 Depatemen Pertahanan Amerika Serikat menciptakan ARPANET (Advanced Research Projects Agency NETwork) yang merupakan cikal bakal perkembangan internet. Pada saat itu ARPANET hanya diizinkan untuk pemerintah, penelitian, dan universitas.
J.C.R. Licklider, peneliti dari MIT menyebarkan ARPANET ke jaringan komputer seluruh dunia untuk interaksi sosial pada 1962. Selanjutnya, pada 1968, Andrew Grove, Gordon Moore, dan Robert Noyce berhasil menciptakan mikroprosesor chip untuk pertama kalinya. Mereka menjual chip tersebut ke Intel untuk diproduksi.
Pada tahun 1972, keberhasilan seorang bernama Roy Tomlinson dalam melengkapi Program e-mail yang dia ciptakan sendiri. Tidak dipungkiri e-mail menjadi sangat terkenal bahkan sangat popular sampai sekarang. Sehingga pada akhirnya, jaringan ARPANET terus dikembangkan sampai ke luar Amerika.
Menurut sejarahnya internet juga merupakan pemikiran-pemikiran para ahli yang sangat inovatif dan dampaknya sangat besar bagi pekembangan dunia. Melihat begitu banyaknya kapasitas serta layanan yang luas, sungguh dapat menjangkau seluruh daerah pelosok yang ada di dunia ini.
Dalam penerapannya belakangan ini, Teknologi Augmented Reality memakai sebuah smartphone yang di dalamnya ada CPU, kamera display, accelerometer, kompas, dan GPS. Teknologi ini sudah merembet ke handphone. Jika Anda menganggap Blackberry atau i-Phone sangat canggih, mungkin Anda akan geleng-geleng kepala ketika melihat fitur yang ditawarkan oleh Android Phone.
Smartphone jenis Android Phone memang sangat pintar. Ia bisa membaca banyak hal. Sistem dasar operasi dari Android Phone adalah linux. Ini bisa digunakan dalam banyak hal, salah satunya dipakai untuk menggunakan Augmented Reality. Selain dalam Smartphone, penerapan teknologi Augmented Reality juga ada dalam dunia game.
Yang paling gila adalah kita bisa memainkan game di mana saja. Hanya dengan kamera yang dibuat sebagai mesin bermain sekaligus joystick, kita bisa menggabungkan visual yang ada di dunia realitas dengan visual yang ada di dunia game.
Selain dalam game, Stark Industries, yang berbasis di Jepang telah mengembangkan kacamata yang bisa menggabungkan dunia realitas dan Maya. Jika Anda pernah menonton Iron Man, maka Anda pasti sudah tidak asing dengan visual di mana si Iron Man ini bisa melakukan analisis terhadap lawan dan benda dengan baju Iron Man.
Sedikit banyaknya begitulah kerja kacamata ini. Kacamata ini bisa menganalisis, cuaca, peta, bahkan melakukan teleconference serta menciptakan visual digital. Bayangkan bagaimana canggihnya. Anda seakan-akan punya dunia sendiri yang tidak bisa dinikmati oleh orang lain.
Baru-baru ini Hollywood menciptakan visualisasi baru tubuh artificial yang dikendalikan melalui jaringan satelit menggantikan tubuh yang berbalut daging. Surrogates merupakan bentuk fisik dari kehadiran virtal sybernetik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan motto tidak ada yang terluka, hanya perbaiki saja kabel dalam tubuh Anda.
Gambaran paling ekstrem dari penguasaan tubuh sybernetic mendapatkan puncaknya melalui surrogates. Masyarakat kabel bukan lagi konsep subkultur, melainkan konsep cara berkomunikasi masyarakat masa depan.
Namun, karena masih berada dalam tahap cybernetic yang membutuhkan kendali keyboard, dibanding virtual sybernetic kelak dengan kendali pikiran. Saat ini open source masihlah terbatasi pada formula percakapan, milis, posting, chatting, untuk memperlihatkan bagaimana tubuh internet mampu bergaul sebagaimana kekuasaan alam real.
Ditambah lagi, dalam skala metrik (motoris dan sensoris), tubuh kabel bisa memperlihatkan emosi. Melalui simbol tabelis dan menggunakan sepenuhnya ASCII (karakter yang digunakan dalam komputer) dalam abjad yang memperlihatkan pembayangan realnya. Seperti (TT) untuk memperlihatkan emosi menangis, (XD) untuk tertawa terpingkal-pingkal (:D) tertawa (J) tersenyum, (^^) untuk berbahagia, (:P) untuk kesal dsb, disebut juga emoticons.
Dalam skala yang sama tubuh kabel bisa memperlihatkan indera keenam (istingtif) dengan bantuan fasilitas yang dinamakan plug in/out, download/upload, dan bisa mengubah pikiran siapapun dengan media JPEG, MP3, FLV, dan penggambaran audio visual yang provokatif lainnya.
Mengutip istilah dari Jeremy Black dalam bukunya Media Convergence or Divergence, Britain and the Continent (27:1994), masyarakat dengan budaya yang berbeda-beda, dan media dianalogikan menghadapi sebuah jalur transportasi komunikasi informasi, di mana internet memfasilitasi mobilitas masyarakat yang makin tinggi, pada sebuah ‘jalan tol bebas hambatan informasi’.
Ditambahkan olehnya, penemuan teknologi komunikasi mutakhir adalah cara untuk memberikan sebuah ‘jalan raya komunikasi elektronika’ bagi sebuah ‘bangsa yang dikabelkan’, sangat mengerikan, bukan.
Akan tetapi, kecanggihan teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai pendeteksi bencana yang terjadi sewaktu-waktu. Manajemen teknologi Informasi itu sendiri beragam artinya. Namun, kita akan membahas hal ini, tata kelola manajerial yang menggunakan perangkat teknologi informasi dalam prosesnya. Apa ciri khas manajemen teknologi informasi?
- Terkoneksi. Semua elemen organisasi akan terkoneksi satu dengan yang lainnya. Batasan yang merintangi akan mudah ditembus karena banyak gadget teknologi yang dimanfaatkan.
- Serba cepat. Tidak perlu birokrasi yang berlama-lama. Melalui teknologi informasi birokrasi menjadi “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit?”
- Terintegrasi. Ya, semua elemen organisasi akan terintegrasi secara lebih mudah. Integrasi di sini dalam bentuk komunikasi, hubungan, dan seterusnya.
Manajemen Teknologi Informasi untuk Bencana
Sudah jamak diketahui orang banyak bahwa teknologi informasi mampu mendeteksi dini gejala akan adanya bencana. Jepang sebagai negara ring of fire yang rawan sekali dengan bencana telah menerapkan hal ini. Pada hakikatnya bencana itu sendiri sulit diprediksi dan datang tiba-tiba. Namun, teknologi informasi bisa meminimalisir potensi bencana yang ada. Bagaimana peran manajemen teknologi informasi berkaitan bencana?
- Deteksi dini. Ya, tepatnya early warning system. Manusia tidak bisa mengelak dari bencana. Tapi, ketika mengetahui akan adanya bencana, setidaknya manusia bisa menyelamatkan diri.
- Pemetaan. Gejala alam bisa juga diketahui dari tren yang berlangsung. Pola yang terjadi dalam rentang sekian tahun. Teknologi informasi bisa membantu memetakan hal tersebut.
- Koordinasi. Ketika bencana telah terjadi, peran teknologi informasi sangat vital dalam hal koordinasi.
Peran manajemen teknologi informasi yang paling penting tentunya ialah sistem komunikasi pusat yang 1 x 24 jam. Manusia bisa lalai. Akan tetapi, ketika peran itu dijalankan teknologi informasi, semua potensi kesalahan itu bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Tinggal tergantung user yang menjalankannya.
Sekali lagi manajemen teknologi informasi ini mendesak dilakukan karena pentingnya penanganan bencana yang sangat cepat. Semoga informasi tersebut bermanfaat.

