logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Hubungan Sosial

Relasi Ideal Manusia dan Masyarakat


Ilustrasi manusia dan masyarakat

Benteng terkokoh negara adalah keluarga. Ketika keluarga hancur, negara terkoyak. Hubungan kausalitas ini mencerminkan relasi manusia dan masyarakat. Keluarga adalah negara kecil. Masyarakat adalah negara besar. Interaksi manusia di keluarga dan manusia di masyarakat membentuk nation state. Garis pembeda hanya soal lingkup. Manusia secara manusia sebagai individu atau manusia secara komunal (masyarakat).

Dosa Sosial

Masyarakat kita sedang sakit. Gejala konflik horizontal kian menguat. Tawuran dan kerusuhan kerap terjadi. Korupsi dianggap sebagai sebuah budaya. What a messy life. Laku langgam ini bermula dari bisa karena biasa. "Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang,"" kata Aristoteles.

Manusia terus-menerus berbuat kesalahan personal, namun yang menanggung semua (dosa sosial). Demikian pula dengan perilaku korup, tawuran, free sex, dan sebagainya. Bermula dari satu manusia ke manusia lain. Membuat rantai identitas yang serupa.Nila setitik rusak susu sebelanga.

Meski banyak good person, tidak sedikit bad person. Celakanya, media kerap menyorot ke bad person. Bad news is good news. Demikian pepatah jurnalisme berbunyi. Bad person ini mendominasi news and views di Indonesia. Seolah langit mau runtuh. Indonesia akan kiamat. Tiap hari, masyarakat dihujani berita buruk dan sangat buruk. Good person hanya bisa melongo melihat keadaan ini.

Kolektivitas Sosial

Budaya Timur yang dijunjung oleh kita sudah meluntur. Budaya malu, budaya gotong royong, budaya jujur, dan sebagainya. Budaya Timur kini menjelma menjadi budaya manusia sebagai individu al, budaya konsumtif, budaya hedon, dan sebagainya. Relasi manusia dan masyarakat berjarak bak menara gading. Tinggi. Jauh. Sulit dijangkau.

Kolektivitas sosial berpengaruh pada kohesivitas sosial. Perilaku ronda malam, Jumat bersih, dan sebagainya, sudah mulai ditinggalkan. Kita justru kolektif soal negatif. Bad things comes early. Index korupsi Indonesia tinggi, pengakses konten porno terbesar ketiga, dan "keburukan" lain.

Tidak heran kohesivitas (kepaduan) kita sebagai bangsa melemah. Kita padu sebatas insidental dan temporer. Misalnya, ketika sepak bola meraja, nasionalisme bergemuruh. Namun, setelah itu, kita tidak punya faktor pemersatu kembali. Identitas nation state kita sedang krisis.Kadang, manusia Indonesia sungkan atau malu menjadi Indonesia. Terutama, ketika tinggal hidup di luar negeri.

Kita lebih bangga memakai harajuku style. Senang memakai cosplay. Gandrung pada Super Junior dan kawan-kawan. Namun, kita lupa pada Si Cepot. Kita tidak tahu tari piring. Kita mulai abai pada bahasa ibu. Batik pun baru populer di kalangan luas ketika Malaysia mendaku baju khas Indonesia tersebut.

Kita harus bisa merawat harapan bahwa relasi manusia dan masyarakat Indonesia akan menemui masa emas kembali. Seperti masa prakemerdekaan, anak bangsa tanpa pamrih berjuang. Relasi diikat oleh tali persaudaraan tulus. Tanpa embel-embel materi. Mari kita menjemput kenangan tersebut!

Manusia dan Masyarakat dalam Pandangan Interaksi Simbolik

Setiap masyarakat harus dipandang sebagai keseluruhan organis, di mana manusia sebagai individu merupakan bagian yang tak terpisahkan. Maka, manusia sebagai individu dan masyarakat bukanlah realitas-realitas yang terpisahkan, melainkan merupakan aspek-aspek yang distributif dan kolektif dari gejala yang sama (Layendecker, 1991, dalam Soeprapto, 2002).

Karena manusia sebagai individu dan masyarakat bukanlah realitas-realitas yang terpisah, maka Mead berpendapat bahwa masyarakat tidak dilihat dalam skema teoritis, walaupun secara implisit hal tersebut ada.

Interaksionisme simbolik merupakan konstruksi dari beberapa pengertian mengenai diri sendiri, tindakan, interaksi sosial serta obyek. Beberapa pengertian tersebut memiliki hubungan kuat dengan terbentuknya masyarakat.

Masyarakat adalah sebuah proses sosial yang berbeda-beda. Di dalamnya, manusia sebagai individu secara bersama-sama membentuk joint action untuk menghadapi kehidupan. Bagi Mead, manusia adalah organisme sosial yang aktif. Hal itu lahir dari interaksinya sendiri dengan faktor-faktor stimulan, sehingga dari sinilah manusia melakukan tindakan-tindakan yang dituntut oleh situasi sekitarnya.

Mead beranggapan bahwa masyarakat bukanlah struktur yang dibangun, melainkan sebagai manusia sebagai individu -manusia sebagai individu yang bertemu karena kondisi hidup mereka. Maka, dapat dikatakan hal yang membentuk masyarakat hingga dapat hidup bersama karena adanya penyesuaian tingkah laku dan tindakan antar manusia sebagai individu .

Hal ini terjadi di mana pun masyarakat tersebut terbentuk, karena manusia sebagai individu-individu yang bertemu disebabkan oleh kondisi hidup mereka yang sama dan senasib. Masyarakat di manapun mereka berada tersebut beranggapan bahwa diri mereka adalah manusia yan misalkan di Indonesia sebagai individu individu yang berhadapan dengan kesuburan tanah, berhadapan dengan musim hujan dan musim kemarau, jadi ada semacam satu ikatan sepenanggungan atas tanah.

Karakter Interaksi Orang per Orang

Dalam kaitannya dengan interaksionisme simbolik, seperti yang sudah diketahui, merujuk pada karakter interaksi khusus yang terjadi antar manusia. Sifat ini tentunya khusus terdapat pada kenyataan bahwa manusia menginterpretasikan dan mendefinisikan antara tindakan yang satu dengan yang lainnya

Mengenai hal ini, Mead berpendapat bahwa ada dua hal yang penting dalam memodifikasi terhadap diri manusia sendiri :

untuk mengindikasikan sesuatu, berarti manusia sebagai individu harus melepaskan diri dari setting-nya, memisahkannya dan menjadikannya sebagai obyek. Obyek ini merupakan hasil dari aturan manusia sebagai individu untuk bertindak, dan dia akan membentuk obyek tersebut dari aktivitas yang bersifat berkesinambungan. Proses yang demikian inilah yang dinamakan sebagai interpretasi atau tindakan berdasarkan simbol.

Realitas bahwa manusia membuat indikasi terhadap dirinya adalah bahwa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang dibentuk, bukan sekadar sebagai pelepasan. Tindakan itu sendiri dilakukan melalui beberapa tahapan dan proses.

Mead berpandangan bahwa dalam pembentukan tindakan tersebut selalu terjadi kontak sosial, di mana hal ini sangat vital dalam pemahaman interaksionisme simbolik. Masing-masing manusia sebagai individu memadukan tindakan apa yang akan ambilnya. Mead menyebut ini sebagai ‘mendapat peran’.

Dalam proses mendapatkan peran ini, masing-masing manusia sebagai individu harus bisa memastikan tujuan tindakan manusia sebagai individu yang lain. Dia bertindak atas dasar interpretasi dari tindakan orang lain. Begitulah cara yang mendasar bagaimana suatu tindakan kelompok terjadi dalam masyarakat

Maka dalam bukunya Soeprapto (2002) menyimpulkan bahwa masyarakat dibentuk oleh manusia sebagai individu individu yang memiliki diri sendiri. Bahwa tindakan manusia merupakan konstruksi yang dibentuk oleh manusia sebagai individu melalui dokumentasi dan interpretasi hal-hal penting di mana ia akan bertindak. Bahwa tindakan kelompok terdiri atas perpaduan dari tindakan-tindakan manusia dan masyarakat sendiri..

Hal ini sesuai pula dengan pendapat Joel M. Charon (1979 : 151), bahwa masyarakat - semua kelompok kehidupan- dapat diartikan sebagai individu-individu yang saling berinteraksi satu sama lain. Individu-individu yang nantinya akan membentuk masyarakat ini berkomunikasi dengan melakukan beberapa hal, seperti pengambilalihan peranan, saling menginterpretasikan tindakan satu dengan yang lainnya, mengatur dan mengawasi diri sendiri, serta saling berbagi perspektif. Dalam hal ini kolektifitas sosial dan relasi ideal yang di dasarkan atas ejawantah hukum yang kita kenal sebagai hukum bersama, antar semua ikatan budaya dan adat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia..

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menentukan Tema Makalah Kerukunan Umat Beragama
  • Hubungan Kerjasama Internasional
  • Tugas dan Wewenang MPR
  • Harga Diri - Seberapa Mahal?
  • Penjelasan Kondisi Sosial Indonesia
  • Cara Mengajari Anak Tentang Sopan Santun
  • Tips Menjadi Pria Single Yang Disukai Wanita
  • Sopan Santun Berbicara
  • Mencermati Relasi Individu dan Masyarakat
  • Percik Renungan Kehidupan Seorang Wanita, Semestinya Kita Sehati
  • Menjaga Sopan Santun dalam Berbicara
  • Bersopan Santun dalam Pergaulan Masyarakat
  • Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
  • Adu Domba - Pengkhianatan Paling Kejam
  • Arti Masyarakat Polisi atau Polisi Masyarakat?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA