logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Artikel Umum Islam    Manusia Sebagai Khalifah

Tujuan Hidup Manusia - Manusia sebagai Khalifah

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Manusia sebagai khalifah. Pernahkan Anda sadari bahwa manusia sebagai khalifah? Mungkin Anda pernah bertanya, untuk tujuan apa Anda hadir di dunia?

Inilah pertanyaan klasik yang telah menggelitik rasa ingin tahu manusia sejak ribuan tahun lalu. Sadar ataupun tidak sadar, terucap ataupun tidak terucap, setiap manusia akan mempertanyakan hal ini dalam hidupnya, minimal ketika ajal hendak menjelang.

Adapun para filsuf, dengan kekuatan nalar dan logika, menghabiskan waktunya untuk mencari jawaban paling benar dan paling memuaskan. Namun, di antara mereka tidak ada kata sepakat dalam masalah ini sehingga lahirlah berbagai aliran pemikiran dalam filsafat.

Setiap aliran berusaha memberikan jawaban sesuai pemikiran para pendiri pendukungnya. Namun, jawaban yang diberikan hanya memuaskan sekelompok manusia —pendukung aliran tersebut— dan tidak memuaskan kelompok manusia lainnya.

Di tengah kebimbangan, ketidakjelasan, dan keinginan untuk mendapatkan “kepastian” dalam menjalani hidupnya, datanglah agama membawa solusi dan ajaran yang lebih meyakinkan dan memuaskan dahaga keingintahuan manusia, khususnya terhadap hal-hal di luar kemampuan indra dan akal pikirannya.

Agama memberi informasi yang meyakinkan sekaligus menenangkan manusia tentang proses penciptaan manusia sejak di alam ruh, alam rahim, hingga manusia lahir ke dunia.

Agama memberikan panduan tentang hak dan kewajiban manusia di alam yang ditempatinya tersebut, seperti untuk tujuan apa dia hidup, bagaimana menjalani hidup, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan dalam hidup, dan sebagainya.

Agama pun memberikan informasi tentang kehidupan setelah kematian manusia di dunia. Semua ini tidak mungkin dapat terjawab oleh akal dan indra manusia yang serba terbatas.

Dengan demikian, pertanyaan untuk apa manusia lahir ke dunia, dapat dijawab dengan merujuk kepada agama —khususnya Islam— sehingga jawaban yang didapatkan lebih pasti dan lebih memuaskan.

Manusia sebagai Khalifah

Untuk apa kita hidup? Kita dapat merujuk kepada Kitab Suci Al-Quran. Ada banyak jawaban yang diungkapkan Al-Quran yang saling menguatkan dan melengkapi. Tiga di antaranya dapat kita sebutkan di sini.

Pertama, manusia sebagai khalifah diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Al-Quran menginformasikan, “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzâriyât, 51: 56).

Ayat ini dengan gamblang menyebutkan bahwa tujuan hidup manusia sebagai khalifah adalah untuk mengabdi dan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Manusia sebagai khalifah, dalam kedudukan sebagai hamba, dituntut untuk mendedikasikan segala yang dilakukannya sebagai persembahan kepada Tuhan.

Dengan demikian, tidak ada lagi batasan antara yang sakral dan tidak sakral (profan) sebab semua aktivitas manusia berada dalam kerangka penghambaan kepada Allah. Itulah mengapa, keikhlasan menjadi landasan suatu amal dan kesuaian amal dengan yang disyariatkan menjadi penyempurnanya.

Kedua, manusia diciptakan untuk mempersembahkan amal-amal terbaik dalam kerangka ketaatan kepada Tuhan. Inilah aplikasi nyata dari proses penghambaan manusia kepada Tuhannya. Bukankah seorang hamba dituntut untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhannya?

Dalam QS Al-Mulk, 67: 2, Allah swt berfirman, “(Dialah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”

Berdasarkan ayat ini, kita mendapatkan informasi bahwa manusia tidak diciptakan untuk tujuan yang sia-sia. Manusia diciptakan untuk mempersembahkan karya-karya terbaik —sesuai kapasitas dan kemampuan dirinya— dalam kerangka penghambaan kepada Allah.

Hidup adalah ujian yang menuntut manusia serius dalam menjalaninya. Hidup adalah perlombaan dalam melakukan kebaikan sehingga diketahui mana pemenang dan mana pecundang.

Ketiga, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ketika hendak menciptakan Nabi Adam, Allah swt berfirman kepada para malaikat, ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’ …” (QS Al-Baqarah, 2: 30).

Allah swt tidak memberikan amanah ini kepada siapa pun, selain kepada manusia. Dari pemilihan ini saja kita bisa melihat bahwa kekhalifahan adalah amanah yang berat sekaligus bergengsi. Mengapa?

Manusia sebagai khalifah memiliki kedudukan sebagai “wakil Allah” yang bertugas untuk mengelola alam raya sebaik mungkin sesuai keinginan Allah sebagai pemberi amanah sekaligus yang diwakili.

Dengan demikian, manusia sebagai khalifah di bumi dituntut untuk menciptakan harmoni, baik dengan Allah sebagai pemberi amanah, dengan alam sekitar sebagai objek yang diamanahkan, dan sesama manusia sebagai partner dalam menjalankan amanah tersebut.

Semua tuntutan dapat dijalankan dengan baik apabila manusia mampu mengembangkan potensi akal beserta perangkat pendukung yang ada dalam dirinya. Itulah kelebihan manusia yang tidak dimiliki makhluk lainnya, hatta malaikat sekalipun (QS Al-Baqarah, 2: 31-32).

Manusia sebagai Khalifah - Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 30

Allah Swt., menciptakan manusia di dunia untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Arti dari manusia sebagai khlaifah adalah manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi penguasa dan mengatur semua yang ada di dunia, mulai tumbuhan, hewan, sungai, air, hutan, laut, dan lain-lain. Manusia sebagai khalifah harus dapat memanfaatkan semua yang ada di muka bumi ini demi kemaslahatannya.

Manusia yang mampu menjalankan hal-hal yang telah disebutkan tersebut, menandakan sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi sudah sungguh-sungguh dilaksanakan dengan baik oleh manusia itu, khususnya manusia yang beriman kepada Allah Swt., dan Rasul-Nya.

Jadi, simpulan dari kandungan Surat Al-baqarah ayat 30 yang ada hubungannya dengan manusia sebagai khalifah adalah sebagai berikut.

  • Allah Swt.,memberitahukan pada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (wakil Allah) di bumi, yaitu manusia sebagai khalifah.
  • Allah memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
  • Malaikat meragukan kemampuan manusia sebagai khalifah dalam mengemban tugas sebagai manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia sering membuat kerusakan dan menumpahkan darah sehingga manusia sebagai khalifah itu kurang tepat.
  • Malaikat beranggapan bahwa manusia sebagai khalifah tidak pantas dan yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah.
  • Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat.

Peran Manusia sebagai Khalifah

Manusia sebagai khalifah Allah memiliki dua peran penting yang diamanahkan serta dilaksanakan manusia hingga hari kiamat datang. Peran pertama manusia sebagai khalifah adalah al’imarah (memakmurkan bumi) dan peran kedua manusia sebagai khalifah adalah ar ri’ayah (menjaga bumi dari upaya perusakan yang datang dari semua pihak).

Manusia sebagai Khalifah - Memakmurkan Bumi

Manusia sebagai khalifah memiliki kewajiban bersifat kolektif yang di bebankan Allah Swt., yaitu manusia sebagai khalifah harus dapat mengekplorasi kekayaan bumi untuk kemaslahatan umat manusia. Hasilnya harus dinikmati secara adil, merata, dan tetap menjaga kekayaan alam agar tidak punah sehingga dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Manusia sebagai Khalifah - Memelihara Bumi

Peran manusia sebagai khalifah dalam memelihara bumi artinya juga ikut memelihara akidah dan akhlak manusia berkaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan demikian, kita akan terhindar dari perbuatan jahiliyah, seperti merusak alam. Perlu diingat, jika sumber daya manusia rusak, alam pun akan berpotensi rusak.

Itulah tujuan dan peran manusia sebagai khalifah.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Meneladani Sikap Politis Rasulullah pada Perang Badar
  • Kaos Dakwah, Syiar Tanpa Menggurui
  • Materi Ceramah Agama Islam: Ujian Iman
  • Realisasi Contoh Dakwah Singkat Sehari-hari
  • Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW - Asratul Kiraam, Secercah Cahaya dari Surga
  • Aa Gym, Ustadz dan Pengusaha
  • Agama Islam Sebagai Agama Penutup
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA