logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Keluarga    Pernikahan    Mahar Pernikahan    Mas Kawin Pernikahan

Uniknya Mas Kawin Pernikahan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Pernikahan di atas muka bumi memang selalu menjadi suatu hal sakral yang selalu dinantikan oleh setiap orang. Setiap orang, tiap daerah, setiap suku dan setiap bangsa selalu mempunyai aturan dan tata cara yang unik dan berbeda-beda yang menunjukkan perbedaan budaya dan tingkat adaptasi antara alam dan manusia.

Makna Mas Kawin

Makna dari mas kawin pernikahan  yang kadang kala disebut dengan mahar adalah suatu pemberian dari pihak calon mempelai laki-laki kepada pihak calon mempelai wanita, yang mana pemberian ini dimaksud untuk menjunjung atau menghargai pihak wanita. Di dalam ajaran agama Islam sendiri, hal ini ditujukan untuk menghormati derajat wanita dengan pemberian mahar ini.

Di Indonesia sendiri yang memiliki 33 provinsi, belasan suku pastilah juga berarti puluhan adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Meski berada di dalam satu pulau namun antara propinsi yang satu dengan yang lainnya sudah berbeda adat dan istiadatnya.

Pergeseran Nilai

Perubahan jaman dan perkembangan teknologi ikut berpengaruh pula pada pergeseran nilai budaya, meski adatnya tetap dijunjung dan dilaksanakan. Seperti di Papua, pada beberapa waktu lalu penduduk setempat masih menggunakan babi sebagai mahar atau mas kawin perkawinan adat mereka.

Namun setelah mengenal dan beradaptasi dengan budaya lain, terutama Islam, nilai-nilai itu mulai bergeser. Kini penduduk mulai menyukai piring Cina yang mempunyai motif beragam untuk dijadikan mahar, dan juga dilengkapi dengan pemberian buah pinang.

Di Ende Flores, propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mahar atau mereka sebut dengan belis diberlakukan sangat tinggi sekali. Belis dihitung begitu mahal sekali, dan kebanyakan pemuda di Endepun merasa keberatan dengan besar dan mahalnya beban belis ini.

Antara mahar atau biasa mereka sebut belis sangat berkaitan dengan sistematis kehidupan bermasyarakat. Artinya bila tanpa belis berarti tak ada pernikah, bila pernikahan umum atau pernikahan gereja tak terjadi maka tak mungkin keluar akta pernikahan.

Bila akta pernikahan tak punya, maka bila ada bayi-bayi yang lahir tanpa melalui pencatatan perkawinan mereka, maka anak-anak mereka tak bisa memperoleh akte kelahiran. Dan itu artinya juga akan menghambat pada pencantuman status social mereka di kemudian hari.

Di pulau Adonara Kabupaten Flores Timur - mahar atau belis bahkan kadang berupa ternak-ternak mereka seperti kuda atau kerbau. Gading perak gajah pun kadang-kadang dijadikan belis bagi masyarakat di Ende, Flores karena dianggap sangat berharga.

Tradisi Unik Daerah

Adat Karo di Sumatera Utara menitik beratkan upacara perkawinan dengan nilai simbolis. Di Karo pakaian adat yang paling dikenal dan sangat menjadi cirri khas mereka adalah ulos. Ulos bagaikan sebuah simbolis bagi masyarakat adat Karo khususnya maupun masyarakat Batak di Sumatera Utara umumnya.

Pada upacara perkawinan adat Batak yang digelar biasanya mahar diletakkan di atas ulos yang disebut dengan uis nipes yang berfungsi sebagai piring atau alas; yang diistilahkan oleh orang Batak sebagai ‘pinggan pasu’ tempat meletakkan mahar bagi perempuan Batak yang dilamar oleh seorang lelaki Batak.

Lain di tanah Karo – Sumatera Utara, lain pula di Ternate – Nusa Tenggara Timur. Adat Ternate lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam, sehingga dalam adat istiadat atau kebiasaan mereka lebih banyak mengadopsi ajaran Islam.

Penyerahan mahar bagi wanita Ternate disebut sebagai kata bido se hana maija.   Kata bido se hana maija, bisa diartikan sebagai upacara dalam tata cara adat Ternate pada saat utusan dari pihak keluarga mempelai laki-laki yang disebut baba se ema; menghantarkan semua kebutuhan dalam upacara perkawinan itu kepada pihak keluarga mempelai perempuan yang disebut yaya segoa.

Ijab Kabul dalam tata cara upacara adat perkawinan Ternate adalah inti dari rentetan upacara perkawinan itu sendiri. Ijab Kabul dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki atau baba se ema, dengan tambahan bawaan berupa bunga, lilin dan karo mangale.

Kemudian mahar atau mas kawin yang dibawa oleh pihak mempelai laki-laki atau baba se ema – yang isinya berupa seperangkat alat sholat, perhiasan wanita dan segala kebutuhan mempelai wanita. Mahar tersebut diterima oleh pihak mempelai wanita atau yaya segoa dengan lantunan do’a.

Biasanya kedatangan pihak mempelai laki-laki atau baba se ema akan disambut meriah oleh pihak mempelai wanita atau yaya segoa dengan iringan hadrat dan tabuhan tifa, juga musik tabuh-tabuhan rebana. Rebana sangat kental dengan budaya Islam yang melekat erat pada kehidupan dan adat istiadat di Ternate.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA