Masa Pemerintahan Gus Dur: Singkat, Tapi Berkelas
Apakah Indonesia cukup sukses pada masa pemerintahan Gusdur? Meskipun hanya memimpin kurang dari 2 tahun (tepatnya 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001), Gus Dur memberikan pesona baru dalam dunia politik Indonesia.
Kebijakan-kebijakannya yang kadang terlalu progresif sering membuat orang sibuk menebak, apa yang sedang dipikirkan Gus Dur selama waktu-waktu tersebut. Setidaknya, ada tiga catatan menarik dalam masa pemerintahan Gus Dur yaitu (1) Plesir ke luar negeri, (2) Penghapusan Penderitaan Kaum Minoritas, dan (3) “Perdamaian” dengan Israel.
Plesir ke Luar Negeri
Salah satu tindakan Gus Dur yang paling sering dikritik pada 1999 hingga 2001 adalah “hobi”-nya berkunjung ke luar negeri. Tidak kurang dari negara-negara ASEAN (mulai dari Thailand hingga Brunei Darussalam), Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, Yordania, Republik Rakyat Cina, Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Italia, India, Korea Selatan, Timor Leste, Afrika Selatan, Iran, Pakistan, dan Mesir, dikunjungi Gus Dur sepanjang masa pemerintahannya yang singkat.
Sebenarnya, tujuan Gus Dur adalah memperbaiki citra Indonesia di mata negara-negara tersebut sekaligus membuka peluang kerjasama (terutama dalam perdagangan). Akan tetapi, tidak semua orang menyukai pola politik luar negeri seperti ini. Gus Dur sering dianggap hanya membuang uang negara.
Penghapusan Penderitaan Kaum Minoritas
Gus Dur melakukan banyak terobosan untuk mengangkat kaum minoritas. Misalnya, membolehkan perayaan imlek yang selama masa Soeharto dilarang. Gus Dur juga sempat meminta agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 tentang pelarangan Marxisme-Leninisme, dicabut. Hal ini cukup kontroversial mengingat bagaimana pun sepanjang era Soeharto, PKI (yang berkaitan dengan Marxisme-Leninisme) sudah dihitamkan.
Orang awam juga berpendapat bahwa PKI termasuk dalam golongan orang tidak beragama (walaupun ada Komunis-Islam), yang sulit diterima di Indonesia yang menjunjung “Ketuhanan yang Maha Esa”. Dengan membuka keadilan untuk kaum minoritas, sebenarnya Gus Dur menunjukkan adanya persamaan derajat antarsesama warga negara Indonesia.
“Berdamai” dengan Israel
Barangkali, hal yang paling kontroversial dalam pemerintahan Gus Dur adalah “perdamaian”-nya dengan Israel. Seperti yang kita ketahui, umat Islam Indonesia sangat antipati terhadap negara penjajah Palestina tersebut atas dasar solidaritas sesama muslim. Akan tetapi, bukannya bersikap memusuhi Israel, Gus Dur justru berusaha membuka hubungan dengan negara tersebut.
Tentu saja rakyat Indonesia marah. Bahkan, duta besar Palestina untuk Indonesia saat itu, Ribbhi Awad, sangat kecewa. Gus Dur hanya mengatakan, sangat aneh jika Indonesia tidak bisa “bekerjasama” dengan Israel, karena negara tersebut berbasis pada agama sedangkan Indonesia bisa bekerjasama dengan negara-negara ateis seperti RRC dan Rusia.
Gus Dur yang sangat menjunjung tinggi kebebasan umat beragama sebenarnya menekankan bahwa Islam tidak boleh melihat segala sesuatu yang berbau Barat adalah kesalahan. Toh bekerjasama dengan Israel bukan berarti membenci atau melucuti dukungan Palestina. Bahkan, dengankerjasama dengan Israel, bisa jadi sikap Israel akan melunak pada Palestina mengingat Gus Dur dikenal sebagai jago diplomasi.
Dari ketiga poin di atas, mungkin kita dapat berkesimpulan bahwa meski masa jabatan Gus Dur sangat singkat, ia telah membawa Indonesia ke dalam taraf demokratisasi yang lebih baik lagi.






