Masalah Budaya

Mempermasalahkan budaya, sama pentingnya dengan menjaga apa yang paling dekat dengan diri kita sendiri, semisal menjaga alat kelamin. Tentu saja ungkapan sarkastis itu serius. Setiap budayawan mengerti bagaimana kebudayaan itu dipandang sebagai gerbang, di mana setiap orang yang melaluinya akan mengalami dua keadaan, menderita atau bahagia.
Kebudayaan yang membawa penderitaan bagi orang banyak, bisa Anda katakan sebagai antitesa budaya, pengetahuan yang menjerumuskan orang untuk menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain. Misalnya NAZI-isme yang dibawa Hitler. Absolutisme sebagaimana pernah di Jawa dibawa pimpinan Amangkurat III. Atau demokrasi dan komunisme yang membuat satu bangsa terpecah jadi dua di semenanjung Korea.
Kebudayaan yang baik, muncul tidak hanya dari pengetahuan, melainkan dari conscience hati nurani. Baik-buruk adalah pertimbangannya, dibandingkan salah dan benar. Misalkan dalam hipotesis ini: menghukum nenek yang mencuri itu tidak baik, walau perbuatannya salah –penyelesaiannya memakai nurani dan bukan lagi hukum.






