logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Keluarga    Pernikahan    Pernikahan

Selayang Pandang Masalah Perkawinan


Ilustrasi masalah perkawinan

Masalah perkawinan seperti mendaki seven summits, puncak pegunungan tertinggi di dunia. Bukan hanya sekali mendaki dan turun lagi, melainkan turun naik seven summits tiada henti. Bukannya memberikan gambaran rumitnya masalah perkawinan, melainkan memberikan sedikit pengertian betapa tantangan dalam perkawinan itu penuh liku, onak, dan jurang. Jika masalah tersebut terselesaikan, kebahagiaan seperti berada di puncak salah satu seven summits akan dirasakan.

Empat Masalah Umum dalam Perkawinan

1.    Finansial

Bicarakan tetek-bengek persoalan keuangan dengan terbuka dan kepala dingin. Kalau tidak, kecurigaan akan selalu hadir dan membawa virus pertengkaran yang tak ada ujung pangkalnya. Kalau suami istri bekerja, itu artinya ada dua sumber dana. Walaupun begitu, suami tetap harus berpikir bahwa dialah yang bertanggung jawab penuh untuk semua pembiayaan di rumah.

Dana dari istri hanyalah sebagai tambahan. Kalau ingin pembiayaan dibagi bersama, tidak jadi masalah. Lakukan dengan kesepakatan bersama. Bila perlu, masalah keuangan ini keluar dari satu pintu saja. Dalam artian, suami memberikan sepertiga penghasilannya kepada istri. Dengan syarat, istri mempunyai kemampuan manajerial keuangan yang fantastis.

2.    Pekerjaan Rumah Tangga

Walaupun istri tidak bekerja, suami hendaknya ikut serta dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga. Selain untuk menunjukkan kepedulian terhadap kerja sang istri, sebagai pelajaran kerja sama dan demokratisasi di rumah. Apalagi, bila ada anak-anak. Alangkah indahnya bila semua anggota keluarga mempunyai kewajiban sendiri-sendiri dan bekerja sama untuk membuat pekerjaan rumah selesai dalam waktu yang singkat.

Suami hendaknya tidak merasa canggung untuk ikut mencuci pakaian atau menyapu rumah. Apalagi, kalau istri juga bekerja. Mempunyai pembantu sekalipun, bekerja sama membersihkan rumah akan membawa keromantisan dan keharmonisan pasangan suami istri tersebut. Perlu diingat bahwa keadaan rumah berantakan dan kondisi istri terlalu lelah akan memicu pertengkaran yang berujung pada ketidakbahagiaan keduanya.

3.    Mertua dan Ipar

Tidak jarang, masalah perkawinan dimulai dari ketidakharmonisan hubungan antara mertua dan menantu. Saudara ipar pun dapat menjadi batu sandungan dalam perkawinan. Agak sulit memberikan teori mengapa mertua, terutama ibu mertua, mempunyai masalah dengan menantu perempuan.

Bisa jadi karena sang ibu merasa tersaingi oleh menantu perempuannya dalam menarik perhatian anak laki-laki kesayangannya. Bisa juga karena sang ibu merasa bahwa menantu perempuannya belum tentu mampu membahagiakan anak laki-lakinya. Bagaimanapun keadaannya, para istri harus tahu bahwa kedudukan seorang ibu lebih tinggi dibandingkan seorang istri.

Jadi, para istri harus bisa memposisikan dirinya sebagai seorang wanita yang selalu mengingatkan suaminya untuk selalu menghubungi ibunya. Hal ini akan membuat sang ibu jadi sayang pada istri anaknya. Para suami pun hendaknya tahu bagaimana mendamaikan hubungan antara kedua wanita yang sama-sama dicintainya tersebut.

4.    Hobi dan Pekerjaan

Hobi dan pekerjaan yang berbeda bisa menjadi sumber masalah apabila keduanya tidak bisa saling memahami dan mengerti. Akan lebih indah jika suami istri mempunyai hobi yang sama. Mereka bisa melakukannya bersama-sama. Teman-teman mereka pun sama. Kalau masalah pekerjaan, terkadang teman lawan jenis suami atau istri yang terlalu akrab juga bisa memicu kecemburuan. Jadi, harus ada rambu-rambu yang jelas dalam hal ini.

Siapkan Mental Sebelum Menikah

Penulis sengaja terlebih dahulu mengupas tentang masalah perkawinan. Tujuannya, agar yang ingin menikah bisa melakukan persiapan sejak dini. Sehingga keributan dalam rumah tangga bisa diperkecil porosnya. Empat kesalahan masalah di atas tak terlebih kurang lantaran tidak saling memahami sebelum terjadinya akad nikah.

Terkadang, pasangan dalam rumah tangga sebelum menikah tak ingin membicarakan masalah-masalah di atas. Yang sibuk mereka bicarakan adalah tentang acara pernikahan. Seharusnya, sebelum pernikahan terjadi. Mesti ada kejujuran . Mesti ada keterbukaan akan apa yang bakal diterima nantinya.

Misalnya saja dalam masalah finansial. Calon suami harus menceritakan secara detail tentang pendapatan yang didapatnya. Jika calon isteri juga bekerja, maka calon suami sebelum terjadi pernikahan sudah sepakat untuk saling membantu. Maksudnya, pendapatan yang didapat digabung lalu difungsikan untuk membayar segala kebutuhan.

Demikian halnya juga dengan sifat masing-masing kedua orang tua juga harus diceritakan. Tujuannya, agar nantinya tidak terkejut bila sudah menikah dan sempat hidup bersama mertua. Sayangnya, kebanyakan pasangan yang menikah hanya memikirkan tentang mereka berdua, tanpa ada berpikir sedikitpun bagaimana caranya agar setiap pasangan bisa masuk di dalam keluarga pasangannya.

Karena itu, penulis menyarankan bagi yang bakal  menikah. Ceritakan saja detail keluarga Anda sebelum terjadi akad nikah. Jangan sampai masalah keluarga menjadi pemicu terjadi masalah perkawinan yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian.

Demikian halnya dengan masing-masing pasangan juga harus menceritakan seperti apa karakteristik masing-masing pasangannya kepada kedua orang tuanya. Pasalnya, jangan sampai ada perbedaan yang wajar sehingga membuat timbulnya pembicaraan di belakang hari. Intinya jangan sampai terjadi perceraian lantaran kekurangjujuran dari masing-masing pasangan.

Masalah Perkawinan: Waspadai Orang Ketiga

Sudah bukan cerita baru, salah satu masalah perkawinan yang berakhir hingga perceraian lantaran ada orang ketiga. Yang dimaksud orang ketiga bukan saja selingkuhan, orang yang sengaja ingin merusak rumah tangga juga termasuk orang ketiga. Kejadian ini realita dan sangat sering kali terjadi.

Misalnya saja teman fitnes. Ia melihat kesuksesan yang diraih suami R sehingga ia merasa iri. Pasalnya, apa saja yang dibutuhkan si A selalu diberikan oleh suaminya. Sayang suami si R selalu dilihatnya. Karena kecemburuannya yang begitu tinggi, akhirnya pun menyusun siasat untuk merusak rumah tangga si R.

Pertama diawali dengan mengajaknya jalan-jalan, lalu membuatnya hingga mabuk. Si R pun mulai dibenci oleh suaminya, lantaran suka mabuk-mabukan. Hingga akhirnya suaminya marah besar. Selama ini ia dimanja, ketika suaminya marah ia merasa suaminya sudah tidak lagi cinta kepadanya.

Ia pun mulai mengadu kepada temannya. Ia menceritakan apa yang terjadi. Teman si R pun mulai menghasut. Ia menuduh suaminya marah lantaran suaminya juga demikian. Ia membantah bahwa suami tidak suka mabuk-mabukan, tapi teman si R tak putus asa. Ia terus menghasut dan mengatakan bahwa jika ia sayang tentunya tak akan memarahimu hingga memaki-makimu.

Mulailah diterima oleh si R. Jika memang sayang, seharusnya suaminya menasehatinya bukan malah memarah-marahinya. Karena kesal, ia pun mengajak teman fitnesnya untuk ketemuan lagi. Akhirnya ia mabuk kembali dan pulang dengan kondisi mabuk.

Lantas suami si R ketika membuka pintu rumah dan mendapati isterinya mabuk, langsung marah-marah dan mengusirnya. Suaminya marah lantaran ia tak ingin anak-anaknya tahu kalau ibunya sudah suka mabuk-mabukan. Namun, si R memandangnya lain. Ia menilai suaminya makin tidak sayang dengannya.

Untuk menghilangkan rasa kesalnya, ia pun mencoba menelepon teman fitnesnya dan akhirnya diminta datang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, si R dibujuk dan diberikan obat penenang hingga akhirnya tertidur. Setelah itu, si R menjadi orang yang suka mabuk-mabukan dan suka meminum pil. Tentu saja, suami si R makin marah. Namun si R menanggapinya bahwa suaminya tak sayang lagi dengannya.

Apalagi, sejak suka mabuk-mabukan, suami si R memutuskan kartu kredit yang dimilikinya. Ia tak mau lagi memberikan kartu kredit dan menutupnya. Makin tampaklah di dalam pandangan si R bahwa suaminya makin tidak sayang. Apalagi ketika ia menceritakan kepada teman fitnes, malah menanggapi lebih parah dari apa yang dipikirkan si R.

Ia pun menyarankan coba minta untuk melihat BlackBerry milik suaminya. Jika sekarang sudah terkunci menjadi tandalah bahwa ia sudah tidak sayang dan sudah memiliki wanita yang selalu dekat dengannya. Apa yang dikatakan teman fitnesnya ternyata bertepatan.

Ia pun mulai menduga yang tidak-tidak. Ia mulai kesal dengan suaminya. Bukan hanya mabuk-mabukan lagi yang dilakukan si R, tapi ia juga sudah menjadi pecandu narkoba. Ia malah memakai narkobanya di dalam rumah. Ia betah di dalam kamar mandi lebih dari 5 jam.

Suaminya pun menyelidiki apa yang dilakukan si R di kamar mandi. Ketika ia tahu, maka ditamparnya si R agar menjadi orang yang sadar. Si R malah mengadu kepada temannya dan diajak mengadu ke kantor polisi menuduh bahwa suaminya telah melakukan tindak kekerasan di dalam berumah tangga.

Suaminya sudah menduga bahwa ini tidak mungkin dilakukan oleh si R. Karena ia mengetahui karakter isterinya yang takut ketemu polisi. Tanpa diduga, ia bukan saja menerima panggilan dari polisi, tapi juga menerima panggilan dari pengadilan bahwa isterinya mengajukan permohohan untuk dicerai.

Kisah yang penulis ceritakan ini adalah kejadian nyata, meski hingga kini belum ditentukan putusan pengadilan. Apakah perceraian terjadi atau tidak. Namun yang pasti, bahwa masalah perkawinan  bukan tidak mungkin ada hasutan dari orang lain. Yaitu, orang ketiga yang ingin merusak rumah tangga.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tips Pengantin Baru
  • Pengertian dan Macam-macam Mahar Pernikahan - ANNEAHIRA.COM
  • Dampak Negatif Kawin Kontrak
  • Memilih Konsep Pernikahan Sederhana
  • Tips Membuat Rundown Acara Pernikahan
  • Syarat Menjadi Konsultan Perkawinan
  • Nikah Siri dan Nikah Kontrak
  • Pengertian Perkawinan dan Syarat-Syaratnya
  • Berbagai Tips Perencanaan Pernikahan
  • Plus Minus Perkawinan Campur
  • Pernikahan Muslimah - Mempersiapkan Pernikahan untuk Muslimah
  • Hal Penting Tentang Pernikahan
  • Pernikahan Abadi, Sebuah Nasehat Pernikahan
  • Tips dan Nasihat Pernikahan
  • Tips dan Trik Tingga di Rumah Mertua Indah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA