logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Sosiologi Budaya

Masalah Sosial Budaya, Indonesia dalam Tekanan Impor Asing


Ilustrasi masalah sosial budaya

Betapa luasnya cultural studies, membuat penulis kesulitan untuk melakukan pemilahan terhadap gagasan dalam cultural studies yang akan dibedah ini. Namun penulis secara subyektif merasa perlu untuk merekronstruksi ulang pemahaman tentang sejarah modernitas yang menjadi awal kelahiran dari cultural studies. Cultural studies memang banyak berbicara  tentang budaya massa sebagai bagi masalah sosial budaya  yang selalu diidap oleh masyarakat modern,  tapi  budaya massa itu sendiri lahir jauh sebelum penelitian dan displin  cultural studies digunakan.

Sebagai metode, cultural studies merupakan teori yang dapat diperandaikan sebagai trolley, kereta belanja dipasar swalayan. Yang menghamparkan obyek penelitian manusia kelas pekerja, di bahana industrialisasi, negara bangsa, kapitalisme berikut effeknya. Tidak ada keketatan metodelogis, tidak ada ketaatan struktural, yang ada hanya sekumpulan teori pinjaman dari berbagai disipllin ilmu.  

Indonesia Negara Terbelakang?

Masalah sosial budaya yang bisa di lihat dari sudut pandag Cultural Studies, adalah masyarakatnya itu sendiri. Saat ini menjadi modern hanya sekedar memperlihatkan gaya hidup yang jorjoran. Dan itu sama sekali tidak ada keterkaitannya, dengan kualitas isi dari masyarakat itu sendiri.

Masyarakat lampu neon kita bisa menamainya; kerumunan ribuan manusia yang memenuhi boulevard-downtown di tengah belantara reklame, horison etalase, deru klakson kendaraan, percakapan singkat telepon selular, langkah kaki yang bergerak cepat –shifting dari outlet ke outlet, gesekan kartu kredit, peralihan cepat memori otak  memilah-milah produk yang ditawarkan.

Ya, masyarakat lampu neon merupakan masyarakat kebudayaan massal dalam perputaran global. Modernisasi menyajikannya, media meliputnya, dan konsumen menghabisi nilainya, hal semacam itu tidak dapat didaur ulang dalam argumentasi sosial sederhana, kecuali jika kita ingin memaksakan diri menyederhanakannya sebagai suatu proses yang namanya: Belanja.

Orang menjadi konsumer, tapi lupa mengisi jiwanya. Ruh bangsanya hilang, dia menjadi bagian dari kebudayaan global. Karena tidak memiliki identitas lagi, dia lantas menjadi terbelakang. Semakin sering suatu bangsa membelanjakan sesuatu, maka semakin hilang pegangannya. Karena hal yang seharusnya bisa berdiri sendiri menghasilkan sendiri, malah bergantung pada apa yang dihasilkan oleh bangsa lain.

Kapitalisme Sebagai Kolesterol Jahat

Satu lagi masalah sosial budaya yang kita hadapi. Yakni kapitalisme. Manusia di dalam cengkraman kapitalisme mendapati dirinya bergerak dalam aturan “isi ulang/recharge”. Kepentingan pribadi menyempit pada seberapa banyak produk yang ditawarkan, dan hal semacam itu terjadi dalam berbagai dimensinya. Dia harus kembali, kembali dan kembali mengeluarkan nilai eksponensial atau berdasarkan kelipatan gain/keuntungan yang ia dapatkan, dari transaksi kartal maupun virtual melalui transfer rekening. Dalam hal itu, pembagian tingkat kebutuhan menjadi acak –tidak dikenali lagi mana yang ditempatkan sebagai kebutuhan pertama (primer), kedua (sekunder) atau ketiga (tersier). Mengapa?

Ini terjadi karena pilihan produk semakin banyak, berikut ritual di balik penggunaan produk itu. Sesuatu yang kita makan untuk bertahan hidup harus sebanding lurus dengan image dan latar tempat kita melangsungkan proses makan itu. Memakan sesuatu bagi seorang manusia menjadi tidak lagi sederhana –bukan sekadar mangap lantas nyam-glek, tapi bagaimana table mannernya, dimana tempatnya, ada bonusnya atau tidak? Dan lagi, makna bercampur dengan nama dan identifikasi permukaan, misalkan kata kenyang, yang tidak lagi dikendalikan oleh kebutuhan otonom ragawi manusia, tetapi identifikasi tentang makanan yang mengenyangkan, misalkan produk susu tertentu yang mampu menggantikan kebutuhan makan sehari.

Kebutuhan, lambat laun, tidak lagi menjadi kebutuhan –lebih tepatnya pembutuhan. Ini semacam inseminasi selera individualistik kepada selera publik yang dipenetrasikan dengan bantuan media massa. Dalam tingkatannya sendiri suatu benda atau jasa akan beranjak dari sesuatu yang dibutuhkan atau tidak, pantas atau tidak didasarkan atas selera partikular di mana individu merasa nyaman dengan pilihan pribadinya, sampai yang paling banal: mewah atau tidak –mengenainya selera khas milik individu telah disimbolisasi sedemikian rupa secara massal. Dan jika proses pembutuhan ini teramat ideologis: Proses pemindaian menuju identitas poskolonial akan mudah dikenali dan disematkan padanya. Berulang-ulang proses itu berlangsung, dan tidak terkendali lagi.

Kalau Beli Jangan Yang Murah!

Dengan demikian secara garis besarnya modernisasi merupakan kumpulan dari praktik kompleksitas produksi, konsumsi, dan distribusi. Budaya massa lahir dan berperan dalam arus produksi dan konsumsi itu. Meskipun demikian dalam studi sosial budaya massa digambarkan rendahan (kitsch) dan tidak dapat disamakan dengan pencapaian modernisasi yang luhur dan adiluhung. Sentimen ini didasarkan atas citra massal yang melekat pada budaya massa. Artinya, apa yang dibelanjakan orang adalah hasil pabrik. Pabrik tidak peduli pada keintiman, yang penting penjualan. Dan yang semacam ini tidak di atur oleh pemerintah. Barang produk pabrikan yang jelek membanjiri Indonesia karena murah, dan karena rakyat Indonesia dididik untuk beli yang murah. Modernisasi hanyalah penyebaran yang serba murahan.

Penalaran teori-teori sosial dan ekonomi tentang pertumbuhan dan penambahan income perkapita di Indonesia sama seperti menalar mengapa seseorang menjadi Indonesian Idol, hanya karena orang Indonesia memilih demikian, padahal kualitas itu berdasarkan gesekan para ahli, juri dalam Indonesia idol hanya bisa komentar.  Maka dari itu, pembangunan dan akal sehat di Indonesia itu jalan sendiri sendiri. Kritik jalan terus, pemerintah dan rakyat Indonesia jalan sendiri sendiri

Komodifikasi Mental.

Masalah sosial budaya yang begitu merusak orang Indonesia ini dipelihara oleh para pesaing Indonesia, yakni negara asing. Mereka berdagang pada bangsa ini sambil melemahkan sendi sendi kebangsaan Indonesia berkerjasama dengan para importir pengkhianat bangsa, yang sempat membuat harga tempe dan tahu naik, karena Indonesia bergantung pada impor kedelai.  Belum lagi, mereka membombardir Indonesia dengan kebutuhan palsu. Kita butuh tempe, kita butuh teknologi tanam kedelai, mereka malah mengirim Bintang Pop dan aksesoris budaya yang menenggelamkan budaya lokal. Ian Craib dalam bukunya Teori Sosial Modern menjelaskan :

“Kekuatan-kekuatan produktif yang sekarang lebih menghasilkan kemakmuran uang sedemikian besar daripada menciptakan konflik dengan pemilikan pribadi, mereka bisa digunakan untuk menguatkan kembali pemilikan pribadi: kemakmuran digunakan untuk menghasilkan produk-produk yang memboroskan dan kebutuhan palsu” 

Kebutuhan-kebutuhan palsu, argumen tentang kebutuhan palsu bukan untuk melakukan elitisasi kebutuhan atau upaya untuk menyeragamkan kebutuhan, melainkan kritik terhadap sumber produksi yang mendominasi pola pikir konsumen Indonesia sendiri.

Keseragaman dalam pilihan untuk membeli atau tidak –bukan seperti menderetkan berbagai merk dalam pasar swalayan- menjadikan individu harus menjadi pembeli dalam pengertian yang pasif. Dalam permisalan bahasa Indonesia sederhana: Sabun bisa dibuat dengan berbagai macam merk dan kita terdorong untuk inisial dalam memilih sabun, tapi intinya tetap sabun –kebutuhan yang tidak menentukan kualitas untuk disebut kebutuhan, dan dengan membelinya kita telah menjadi bagian dari masyarakat. Berkaitan dengan kebutuhan palsu, mengutip Bre Redana semuanya adalah produksi komoditas, serta citra yang melekat padanya adalah keniscayaan, wilayah selainnya bahkan realitas sendiri mengalami pemiskinan dan kebangkrutan menjadi wilayah yang “tidak disadari” lagi.

Para pemikir yang mengamati gerak modal di era kapitalisme mutakhir, sejak lama melihat tumbuhnya budaya konsumen ini dalam konteks perpanjangan kontrol korporat atas jalan hidup (way of life) masyarakat. Stuart Ewen  pada pertengahan tahun 1970-an sudah menyatakan :

“Pebisnis yang punya pandangan yang jauh mulai menyadari pentingnya mengelola bisnis mereka tidak semata-mata untuk urusan produksi barang, tetapi berkisar penciptaan  publik yang mau membeli dan keinginan psikis untuk mengkonsumsi.”

Masalah sosial budaya kita, adalah tidak mau menyetop budaya membeli. Stop beli! Bikin sendiri. Kita punya bahannya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Suku Bangsa di Indonesia sebagai Budaya Tak Ternilai
  • Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia
  • Masalah Hidup adalah Masalah Kebudayaan
  • Mitos Ilmu Pengasihan
  • Parang Dengan Senjata Tradisional Banten
  • Lagu Nasional – Mengenal Lagu Kebangsaan Berbagai Negara
  • Sejarah Gunung Krakatau yang Fenomenal
  • Marxisme sebagai Teori Kebudayaan Sosial
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA