Sekilas Tentang Kehidupan Masyarakat Jawa
Ilustrasi masyarakat jawa
Masyarakat Jawa
Masyarakat adalah sekelompok orang yang tinggal bersama-sama di suatu tempat, kemudian melakukan interaksi sehingga melahirkan aturan-aturan tertentu, bahasa yang menjadi alat komunikasi, dan terikat dengan kesepakatan-kesepakatan tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup mereka dan kelompoknya.
Berdasarkan definisi tersebut, masyarakat Jawa bisa diartikan sebagai sekelompok orang dari suku Jawa yang tinggal bersama-sama di suatu tempat dengan menggunakan bahasa Jawa dan terikat aturan-aturan yang disepakati bersama sebagai orang Jawa untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Penyebaran Masyarakat Jawa
Menurut data statistik, sebanyak 41,7 persen penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Mereka tersebar di berbagai daerah Indonesia, seperti Banten, Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, dan daerah-daerah lainnya.
Pembagian Strata Sosial
Menurut Clifford Geertz, antropolog Amerika terkenal, dalam masyarakat Jawa, selain dikenal unggah-ungguh bahasa atau perbedaan-perbedaan kata berdasarkan lawan bicara, dikenal pula pembagian golongan dalam masyarakat atau strata sosial. Pembagian kelas sosial ini pada 1960an terbagi ke dalam tiga kelompok besar yang imbasnya masih terasa dan berpengaruh sampai sekarang.
Ketiga kelompok masyarakat Jawa tersebut adalah kaum santri, abangan, dan priyayi. Kaum priyai ditujukan kepada sekelompok orang yang berasal atau setidaknya punya hubungan kuat dengan kalangan keraton atau para bangsawan. Kaum santri adalah kelas masyarakat yang menganut agama Islam taat. Kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau para penganut Kejawen.
Sebelum Mengenal Islam
Sebelum agama Islam dikenal di Tanah Jawa, dalam masyarakat saat itu telah tumbuh dan berkembang agama Hindu serta Budha. Jauh sebelum itu, masih banyak penganut kepercayaan animisme yang kemudian dipengaruhi agama Hindu dan Budha. Kelompok ini menjelma menjadi kelompok pengamal Kejawen.
Agama
Belakangan ini, masyarakat Jawa mayoritas menganut agama Islam. Namun, dalam kuantitas kecil, ada juga yang menganut Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kejawen. Satu hal yang unik dan terjadi di masyarakat Jawa adalah mereka menyerap budaya luar, kemudian ditafsirkan menurut kaidah dan nilai-nilai yang berlaku di Jawa. Dengan sikap seperti ini, seringkali kepercayaan seseorang menjadi tidak jelas.
Mata Pencaharian
Mayoritas masyarakat Jawa bermata pencaharian sebagai petani. Namun, di perkotaan, mata pencaharian masyarakat Jawa sangat beragam, tidak hanya sebagai petani. Hampir seluruh bidang profesi, baik tradisional maupun modern, ditekuni masyarakat Jawa.
Kesenian
Seni wayang yang bercikal bakal dari agama Hindu menjadi kesenian yang sangat populer dalam masyarakat Jawa. Saat Wali Songo berdakwah di Tanah Jawa, kesenian ini dipakai sebagai alat dakwah yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam. Selain seni wayang, membatik dan membuat keris adalah kesenian yang lekat pula dengan masyarakat Jawa.
Kebudayaan Masyarakat Jawa
Suku bangsa Jawa adalah suku bangsa terbesar di indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta atau lebih. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa tengah dah Jawa timur, tetapi di provinsi Jawa Barat banyak ditemukan suku Jawa, terutama di kabupaten Indramayu dan Cirebon yang mayoritas masyarakatnya merupakan orang-orang Jawa yang berbahasa dan berbudaya Jawa.
Dan di wilayah-wilayah lain juga terdapat populasi mereka. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, yaitu seperti osing dan tengger. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara yang biasa dikenal dengan ungguh-ungguh. Hal tersebutlah yang membedakan antara bahasa jawa yang dianggap kasar dan halus.
Sedangkan kepercayaan masyarakat Jawa yaitu sebagian besar menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama protestan dan khatolik juga banyak. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Selain itu juga ada penganut agama Buddha dan hindu, ada pula agama kepercayaan masyarakat Jawa yang disebut sebagai agama kejawen.
Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme. Sedangkan profesi suku jawa di indonesia mempunyai pekerjaan disegala bidang, terutama pegawai negri sipil dan militer. Orang jawa agak lemah dalam bidang bisnis dan industri, dan tidak asing lagi masyarakat Jawa lebih menonjol di bidang pertanian sebagai petani.
Masyarakat Jawa memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus, akan tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Ini disebabkan karena mereka tidak ingin terjadi konflik.
Oleh karena itulah mereka justru cenderung diam dan tidak membantah bila terjadi perbedaan pendapat. Namun tidak semua orang Jawa memiliki sikap tertutup, banyak juga terdapat masyarakat suku jawa yang memiliki watak lugas, terbuka, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi.
Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pada tahun 1960-an seorang pakar antropologi Amerika yang bernama Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok yaitu kaum santri, abangan dan priyayi.
Kelompok santri adalah penganut Islam yang taat, sedangkan kelompok abangan adalah kelompok penganut islam secara nominal atau penganut kejawen, dan kaum priyayi adalah kaum bangsawan atau yang sering kita sebut sebagai kaum darah biru. Orang Jawa juga terkenal dengan budaya seninya terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabrata.
1. Upacara Mendhem Ari-Ari
Bagi orang Jawa, ada kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara bayi tersebut oleh karena itu ari-ari dirawat dan dijaga sebaik mungkin, misalnya di tempat penanaman ari-ari tersebut diletakkan lampu sebagai penerangan. Artinya, lampu tersebut merupakan simbol pepadhang bagi bayi. Pemagaran di sekitar tempat penanaman ari-ari dan menutup bagian atas pagar juga dilakukan agar tidak kehujanan dan binatang (seperti katak) tidak masuk ke tempat itu.
2. Upacara Brokohan
Upacara Brokohan merupakan upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut hadirnya warga baru dalam keluarga, yaitu si bayi sebagai ungkapan rasa syukur. Seluruh upacara kelahiran ini bertujuan agar sejak saat kelahiran sampai pertumbuhan masa bayi selalu mendapat karunia keselamatan dan perlindungan dari Tuhan. Unsur kata brokohan berasal dari kata bahasa Arab barokah yang mengandung makna: mengharapkan berkah.
Upacara Brokohan diselenggarakan pada sore hari setelah kelahiran anak dengan mengadakan selamatan atau kenduri yang dihadiri oleh dukun perempuan (dukun beranak), para kerabat, dan ibu-ibu tetangga terdekat. Setelah kenduri selesai, para hadirin segera membawa pulang sesajian yang telah didoakan. Biasanya sesajian sudah dikemas dalam besek, yaitu suatu wadah yang terbuat dari sayatan bambu.
3. Upacara Puputan atau Dhautan
Dhautan atau puputan berasal dari kata dhaut atau puput yang berarti lepas. Upacara puputan atau sering disebut juga dengan dhautan diselenggarakan pada sore hari untuk menandai putusnya tali pusar bayi dengan mengadakan kenduri selamatan.
Kenduri selamatan sebagai ungkapan rasa syukur dipimpin oleh kaum dengan dihadiri oleh para kerabat dan bapak-bapak tetangga terdekat. Sesajian yang perlu dipersiapkan pada upacara puputan ialah sega gudangan: nasi dengan lauk pauk sayur mayur dan parutan kelapa, jenang abang, jenang putih, dan jajan pasar.
Waktu penyelenggaraan upacara puputan tidak dapat ditentukan secara pasti karena putusnya tali pusar masing-masing bayi tidak sama. Adakalanya tali pusar lepas setelah bayi berumur satu minggu, adakalanya kurang dari satu minggu.
Upacara puputan ini ditandai antara lain dengan dipasangnya sawuran, yaitu bawang merah, dlingo, bengle yang dimasukkan ke dalam ketupat, dan aneka macam duri kemarung di sudut-sudut kamar bayi. Selain itu dipasang juga daun nanas dipoles warna hitam putih, dedaunan apa-apa, awar-awar, dan girang, dan duri kemarung. Di halaman rumah ditegakkan tumbak sewu. Di tempat tidur bayi diletakkan benda-benda tajam seperti pisau, gunting.
Bayi perempuan setelah tali pusarnya lepas, pusarnya ditutupi dengan biji ketumbar sedangkan laki-laki ditutupi dengan biji merica dengan dilekati obat tradisional Jawa berupa ramuan benangsari bunga nagasari, dan lain-lain yang ditumbuk sampai halus. Tali pusar yang barusaja putus dibungkus dengan kain banguntulak untul bantal si bayi sampai bayi berumur selapan
4. Upacara Sepasaran
Upacara Sepasaran merupakan suatu upacara yang menandai bahwa bayi telah berumur sepasar atau lima hari. Sepasar merupakan satu rangkaian hari Jawa, yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, Paing. Upacara sepasaran biasanya diselenggarakan secara sederhana. Upacara sepasaran dilakukan pada sore hari dengan melakukan kenduri yang disaksikan oleh keluarga dan tetangga terdekat. Kenduri atau sesajian selamatan kemudian dibawa pulang oleh yang menyaksikannya.
Namun bagi golongan masyarakat tertentu, sepasaran justru merupakan upacara paling meriah yang diselenggarakan oleh keluarga untuk menyambut hadirnya bayi di tengah keluarganya seklaigus pemberian nama bagi si bayi. Kemeriahan ini tergantung pada kemampuan masing-masing keluarga untuk menyelenggarakan pesta.

