logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Kelompok Sosial

Pembentukan Kepribadian Melalui Masyarakat Multikultural


Ilustrasi masyarakat multikultural

Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam bentuk fisik, warna kulit, bahasa, dan budayanya. Jika perbedaan itu disikapi dengan positif ketika berdampingan sebagai masyarakat multikultural, akan bermanfaat sekali karena tiap kelompok masyarakat memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang memiliki keramahan, ketegasan, jiwa dagang, dan kelebihan lain yang jika dikolaborasikan akan bermanfaat untuk menciptakan kesejahteraan semua kelompok masyarakat.

Masyarakat Multikultural - Pembentukan Kepribadian Manusia sebagai Makhluk Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial maksudnya adalah manusia itu selalu membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan orang lain dalam menjalani kehidupannya.  

Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia memerlukan sosialisasi dengan orang lain. Sosialisasi adalah proses di mana seseorang mempelajari cara hidup masyarakat untuk mengembangkan potensinya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok, sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Proses tersebut dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu lingkungan keluarga. Manusia ketika lahir dunia, akan menyesuaikan dirinya dari lingkungan keluarganya. Seiring dengan pertumbuhannya, dia akan menyesuaikan dengan lingkungan yang lain yang lebih luas, sampai pada lingkungan yang luas lagi. Selama proses penyesuaian tersebut, manusia sebagai seorang individu belajar menjadi seseorang yang mempunyai kepribadian unik.

Melalui sosialisasi, seseorang akan berkembang menjadi pribadi atau makhluk sosial. Kepribadian merupakan suatu kesatuan integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalui proses sosialisasi. Dapat dikatakan bahwa kepribadian mengacu pada seluruh ciri-ciri khas dan sifat-sifat yang mewakili sikap atau tabiat.

Manusia pada dasarnya bukanlah organisme yang bereaksi secara otomatis atas rangsangan dari lingkungan dan badannya, melainkan seorang pribadi yang berpikir tentang apa yang akan dibuat, mempertimbangkan tindakannya, dan akhirnya memutuskan apa yang akan dilakukannya.

Setiap orang dalam masyarakat multikultural akan memperoleh tipe-tipe sosialisasi yang sangat mirip, baik yang berasal dari rumah ataupun sekolah, akan banyak ciri kepribadian yang hampir serupa.

Kepribadian tidak hanya dapat dilihat dari ciri-ciri fisik saja, seperti rambutnya atau kulitnya, tetapi juga ciri lainnya, seperti kebiasaan dan sikap seseorang terhadap lingkungannya.

Kepribadian terbentuk, hidup, dan berubah sejalan dengan proses sosialisasi. Ada beberapa faktor yang menentukan kepribadian seseorang, yaitu warisan biologis, linkungan fisik, kebudayaan, dan pengalaman kelompok atau individu.

Sifat-sifat biologis manusia yang bersifat warisan memberikan andil yang besar pada tahap perkembangan kepribadian seseorang. Hal tersebut menentukan batas-batas seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Lingkungan fisik berpengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang. Lingkungan menentukan tingkat kebutuhan seseorang yang harus dicapainya untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan hidupnya.

Lingkungan diperkotaan dengan di pedesaan tentu saja berbeda. Orang yang hidup di lingkungan perkotaan mempunyai kepribadian yang modern dan lebih percaya diri, tapi individualistis.

Berbeda dengan seseorang yang hidup di lingkungan pedesaan yang lebih sederhana, pemalu, dan mengutamakan kebersamaan atau gotong royong untuk membantu sesamanya.

Selain itu, kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Untuk dapat hidup dan bergaul dengan baik dalam suatu kebudayaan tertentu, semua masyarakat mengembangkan tipe kepribadian tertentu yang selaras dengan kebudayaan mereka.

Manusia mengubah dan  menyesuaikan diri dengan alam dan kebudayaannya. Manusia mengubah alam melalui kebudayaannya, agar kehidupannya dapat berjalan dan kebutuhan hidupnya tercapai. Kebudayaan diwariskan dari generasi ke generasi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Sebagian besar perkembangan kepribadian manusia merupakan produk pengalaman pribadi yang diperoleh dalam suatu kelompok. Nilai, norma, dan kepercayaan yang ada dalam suatu kelompok juga membantu terbentuknya kepribadian.

Tanpa adanya pengalaman kelompok tersebut, kepribadian tidak akan berkembang. Meskipun seseorang menjadi anggota kelompok yang sama dengan orang lain, tapi pengalaman mereka dalam kelompok tersebut tidak selalu sama. Perbedaan pengalaman inilah yang menjadi perbedaan kepribadian antara seseorang dengan orang yang lain.

Dari penjelasan tersebut, manusia sebagai makhluk sosial memiliki kepribadian yang berbeda. Perbedaan tersebutlah yang menjadikan lingkungan yang multikultural. Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai masyarakat multikultural.

Masyarakat Multikultural

Pada dasarnya, masyarakat akan selalu hidup dalam multikultural meskipun tinggal di daerah asalnya sejak dilahirkan sampai sekarang karena kebudayaan selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman.

Sementara masyarakat memiliki perbedaan dalam menyikapi perkembangan, ada yang langsung menerima, menunggu sampai kebanyakan orang mengikuti perkembangan, atau justru menolak sama sekali. Perbedaan sikap ini akan berpengaruh terhadap kebudayaan masing-masing kelompok masyarakat.

Karena kepribadian tersebut, yang sudah dijelaskan di atas, manusia hidup dalam banyak perbedaan. Perbedaan tersebut dapat berdampak positif atau negatif, tergantung pada sikap manusia itu sendiri. Kepribadian seseorang juga dapat mempengaruhi hasil dari perbedaan tersebut.

Ciri Masyarakat Kultural

Para sosiolog menjelaskan ciri-ciri masyarakat kultural dengan mengindentifikasi sebab dan memprediksikan akibatnya berdasarkan kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun ciri-ciri masyarakat kultural, yaitu sebagai berikut.

  • Primordial, yaitu meskipun kelihatannya masyarakat bersatu di daerahnya masing-masing dan berinteraksi, tapi lingkungan pergaulan yang lebih akrab akan lebih sering dengan orang-orang yang berasal dari daerah yang sama karena memiliki ikatan batin atau kaitan emosional, memiliki banyak kesamaan, dan lebih mudah berkomunikasi.
  • Mempunyai pemimpin tradisional, yaitu lembaga resmi dan formal seringkali mengalami kesulitasn ketika mengatur masyarakat multikultural karena terdapat lembaga nonstruktural yang mengatur masyarakat. Jadi, ada semacam pemimpin tradisional yang justru lebih ditaati dan dihormati karena faktor kedekatan (proximity).
  • Sulit mendapatkan kesepakatan, yaitu untuk mengatur masyarakat secara umum diperlukan aturan yang disetujui oleh berbagai pihak demi menciptakan rasa memiliki dan keuntungan bersama. Sayangnya karena masyarakat multikultural berbeda persepsi, pengalaman, dan pengetahuan, kesepakatan itu menjadi sulit didapatkan.
  • Rawan konflik, yaitu masih berkaitan dengan kesulitan mendapatkan kesepakatan. Tidak jarang pula perbedaan persepsi tadi bisa menciptakan konflik karena kesalahpahaman atau hal sepele, seperti bahasa dan nada suara. Setelah terjadi konflik, bukan hal yang mudah untuk menyatukan kembali kedua pihak yang telah berseteru.
  • Dominasi politik salah satu kelompok masyarakat, yaitu ketika terdapat kelompok masyarakat yang mendominasi, secara psikologis terdapat keinginan untuk memaksakan kebijakan politik demi keuntungan kelompoknya. Dengan kata lain, praktek politik menjadi tidak demokratis lagi, sebab tidak ada kelompok lain yang berani menempatkan diri sebagai pemberi saran dan pengkritik kebijakan politik.

Konflik di setiap negara juga selalu ada, termasuk di Indonesia. Hal tersebut sudah terjadi sejak nenek moyang sampai sekarang. Akan tetapi, berbeda tempat dan konfliknya. Masalah utama yang terjadi adalah konflik karena perebutan tempat dan kekuasaan dan hal itu sampai sekarang masih terjadi di dunia, termasuk di Indonesia.

Masyarakat Multikultural - Faktor Multikultural

Multikultural atau beraneka budaya tentu tidak terjadi dengan sendirinya (taken for granted), tapi ada penyebabnya yang mengakibatkan masyarakat, seperti dipisah-pisahkan oleh kebudayaan yang unik. Faktor multikultural yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  • Letak geografis, yaitu geografis mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kebudayaan, misalnya masyarakat yang tinggal di pegunungan cenderung ramah sementara masyarakat yang tinggal di pantai cenderung keras.
  • Kondisi iklim, yaitu bukan saja geografis yang memengaruhi kebudayaan suatu masyarakat, iklim pun mempunyai pengaruh yang sama. Masih mengambil contoh seperti di atas, iklim pegunungan yang sejuk memengaruhi masyarakat menjadi ramah. Sementara iklim pantai yang panas menyengat bisa mempengaruhi kontrol emosi.
  • Budaya asing, yaitu globalisasi mempunyai peranan yang cukup banyak dalam mengubah kebudayaan masyarakat manapun, meskipun tidak mutlak, apalagi kebudayaan luar negeri begitu mudahnya diakses karena kemajuan teknologi informasi. Kebudayaan asing akan dipraktekan oleh sebagian masyarakat, meskipun sering terdapat benturan dengan kebudayaan lokal.

Indonesia termasuk negara yang multikultural karena negara Indonesia memiliki masyarakat yang berbeda suku, budaya, bahasa, agama, dan adat istiadat. Akan tetapi, perbedaan tersebut harus dapat disikapi dengan baik dan positif.

Apabila perbedaan tersebut tidak dapat ditanggapi secara positif, maka akibatnya negara ini menjadi kacau, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Jadi, tanggapi perbedaan tersebut dengan positif, sehingga dampaknya akan menjadi baik.

Jadi, meskipun negara Indonesia ini merupakan negara multikultural, tapi jadikanlah perbedaan tersebut menjadi pelajaran dan pengembangan pribadi. Kepribadian dibentuk karena adanya masyarakat multikultural. Jangan sampai perbedaan tersebut menjadi perpecahan antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Demikianlah penjelasan mengenai pembentukan kepribadian manusia melalui masyarakat multikultural. Semoga informasi yang diberikan memberikan manfaat bagi pribadi dan masyarakat Indonesia.

Redam Konflik Sosial pada Masyarakat Multikultural

Masyarakat multikultural merupakan suatu keberagaman budaya, suku, bahasa, maupun etnik yang berdiri sendiri. Masyarakat multikultural saling berkaitan dengan subsistem yang bersifat primordial. Bentuk primordial ini semacam kepercayaan yang dipercaya pada seseorang sejak kecil. Kepercayaan primodial dipengaruhi oleh tempat di mana ia tinggal, seperti pengaruh tradisi, adat istiadat maupun kepercayaan lingkungan setempat.

Indonesia disebut sebagai masyarakat multikultural, sedangkan kulturalisme adalah suatu idiologi pemersatu keanekaragaman budaya, etnis, dan suku yang ada di Indonesia. Ada beberapa macam bentuk kulturalisme, yaitu multikultural isolasionis, akomodatif, otonomis, interaksi dan kosmopolitan

Bentuk multikulturalime isolasionis merupakan suatu kelompok kultural yang terbagi sebagian kecil kelompok mereka saja. Multikulturalisme akomodatif adalah adannya kultur dominan yang membuat suatu akomodasi untuk kelompok kultur minoritas.

Pada masyarakat multikulturalisme, akomodasi ini bersifat plural. Pada multikultural otonomis, adalah kelompok kultur dengan kebudayaan yang dominan untuk menuju kesetaraan dan mempertahankan kehidupan yang sama dengan kelompok dominan.

Bentuk kulturalisme dalam masyarakat multikultural yang terakhir adalah interaksi dan kosmopolitan. Interaksi menekankan pada kelompok plural yang lebih memfokuskan pada cara hidup yang lebih otonom dan lebih menekankan pada perspektif distingtif.

Terakhir adalah multikulturalisme kosmopolitan. Kosmopolitan ini biasa dianut oleh kelompok liberal yang lebih menekankan pada kebebasan. Paham ini berusaha untuk menghilangkan persepsi terhadap batas kultural yang selama ini dipercayainya.

Bentuk dan Konflik Masyarakat Multikutural

Masyarakat multikulutral ini bersifat bebas. Tidak membatasi apa pun, seperti agama, ras, dan lain-lain. Ini artinya lebih bersifat fleksibel. Inilah bentuk dari keanekaragaman negara kita. Menurut Van Den Berghe, penyebab terjadinya konflik masyarakat multikultural disebabkan oleh hal-hal berikut.

1. Adannya Segmentasi Kelompok yang Berbeda Kultur

Misal, agama Islam yang terlalu fanatik terhadap aliran yang dianutnya. Orang yang menganut agama terlalu fanatik menyebabkan mereka membatasi diri terhadap komunitasnya. Mereka membatasi informasi dan membatasi orang yang berbeda keyakinan dengan mereka akibat dari kefanatikan.

Fanatisme ini berbentuk kelompok maupun pada satu wilayah lingkungan. Kefanatikan itulah yang dapat menyebabkan terjadinya konflik seperti perpecahan. Kefanatikan ini menyalahkan aliran lain dan agama lain salah serta menjadikannya sebagai musuh.

Terkadang adannya agama dapat menimbulkan perpecahan umat karena adanya agama pulalah negara ini terbentuk dan saling bersatu. Semua itu bergantung dari pembentukan sosial dasar dalam menuju masyarakat multikultural yang terpenting.

2. Pengembangan Nilai Dasar yang Kurang

Kurangnya rasa kesadaran menunjukkan bahwa strata kesadaran dan pengetahuan yang dimilikinya terbatas. Keterbatasan inilah yang biasannya menyebabkan terjadinnya suatu konflik. Masyarakat multikultural itu dibentuk dengan nilai dasar yang beranekaragam kebudayaan, keyakinan, dan suku. Banyaknya pilihan semacam inilah yang mungkin membuat masyarakat terlena dan binggung dengan bentuk keanekaragaman. 

3. Sering Mengalami Konflik

Masyarakat multikultural sering mengalami konflik disebabkan adanya hal-hal berikut.

a. Bentuk Geografis

Bentuk geografis menentukan perilaku seseorang terhadap dunia senyatannya. Indonesia terdiri atas berbagai macam pulau. Setiap pulau dipisahkan lautan, selat, dan samudra. Tidak heran jika bentuk geografis ini ikut andil besar terjadinya konflik

b. Pengaruh Budaya Asing

Mudahnya akses dan menariknya negeri kepulauan Indonesia, serta bentuk masyarakat multikultural inilah yang memberikan nilai mahal bagi orang asing untuk dipelajari. Mudah bagi para pelancong berlibur di Indonesia menikmati berbagai macam keindahan dan kultur. Sadar atau tidak sadar, turis datang berlibur membawa budaya mereka.

Contoh sederhana terjadinya pengaruh luar adalah berbagai macam jenis pakaian dari luar yang mini dan terbuka. Karena di negara kita dari Sabang sampai Merauke berisi masyarakat kultural, sulit bagi pemerintah memberi pengawasan terhadap pengaruh luar yang masuk.

c. Bahasa

Psikologi lintas budaya sangat mempengaruhi komunikasi antara orang dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Bahasa merupakan jembatan untuk memahami kebudayaan lain karena suatu bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat. Bahasa mampu memberikan reinforcement kepada kebudayaan.

d. Kondisi Alam yang Berbeda

Dalam ilmu psikologi lintas budaya, kondisi alam antara satu dengan yang lain sangat memengaruhi. Hal ini karena adannya perbedaan alam yang mengharuskan seseorang itu mampu beradaptasi dengan lingkungan yang lain.

Misalnya kondisi alam yang berbeda ini terjadi adannya stereotip yang selama ini telah berkembang. Orang Jawa itu dikenal orang yang sopan, lembut, dan ramah. Berbeda dengan orang Batak yang dikenal lebih kasar ditimbang dengan orang Jawa.

Saat makan, orang Batak terbiasa makan dengan porsi makan yang banyak. Sebaliknya, orang Jawa jika makan lebih sedikit dibandingkan orang Batak. Perbedaan lain seperti mengeluarkan mimik wajah. Coba perhatikan, orang Jawa sangat murah senyum dan ramah kepada orang lain meskipun di hatinya sedang banyak masalah.

Contoh lain, ketika menghadiri suatu perjamuan ada orang Jawa yang kakinya terinjak oleh orang lain tanpa disengaja, orang Jawa tersebut tidak marah. Sebaliknya, malah ia meminta maaf kepada orang yang menginjak kakinya dan memberi tahu bahwa kakinya terinjak. Seharusnya yang meminta maaf itu orang yang menginjak, bukan yang diinjak.

Begitupun dengan orang Batak, ketika kakinya terinjak, mungkin dengan spontan akan marah atau membalasnya dengan menginjak lebih keras. Inilah bukti adannya perbedaan kondisi alam yang berbeda dari satu ke yang lain.

4. Terjadinya Integrasi yang Dipaksakan

Integrasi merupakan bentuk pengendalian sosial dasar untuk meminimalisir terjadinya konflik sosial. Jika integrasi ini dipaksakan, justru akan menimbulkan konflik dan pertikaian. Hal ini karena timbul suatu perasaan yang terpaksakan.

Faktor keberagaman dan kemajemukan masyarakat multikultural di Indonesia menganut asas pluralisme. Hal ini disebabkan letak geografis Indonesia berpulau-pulau dan terpisahkan satu sama lain. Jika dilakukan upaya pemersatuan secara mutlak, sangat sulit. Dengan demikian, bentuk kemajemukan inilah yang akhirnya melahirkan kultur atau kebudayaan.

Bentuk kebudayaan masyarakat multikultural terlihat dengan adannya kemajemukan bahasa, suku, dan agama. Misalnya seperti suku Jawa dengan suku Sumatera. Dua suku ini mempuyai perbedaan yang kontras, berupa bahasa, adat, dan kepercayaan.

Jika kemajemukan multikultural mengalami titik puncak, yaitu semakin banyak perbedaan, maka semakin besar peluang terjadinya pertentangan, konflik sosial, dan integrasi. Mengapa masyarakat multikultural rawan terjadi pertentangan semacam ini? Hal ini disebabkan lunturnya nilai toleransi antarsesama dan hilangnaya empati.

Struktur sosial masyarakat multikultural terdiri dari atas struktur sosial, yaitu struktur sosial yang terinterseksi (intersected social structure) dan struktur sosial yang terkonsolidasi (consolidated social structure).

Struktur sosial yang terinterseksi bersifat loyal. Dalam dunia keseharian, loyalitas mempengaruhi interaksi sosial dan kebudayaan. Perilaku yang loyal melahirkan timbal balik atau melakukan pertukaran silang informasi. Ini biasa disebut sebagai cross-cutting affiliation dan cross-cutting loyalities.

Struktur sosial yang terkonsolidasi ini biasa lebih bersifat tertutup karena komunikasi yang dilakukan hanya orang-orang yang mempunyai latar belakang, ras, dan suku yang sama. Selebihnya mereka menutup komunikasi dari luar sehingga di dalam struktur sosial biasa terjadi tumpang tindih dan terjadinya bias komunikasi.

Masyarakat multikultural yang mengalami bias komunikasi akan menimbulkan faktor-faktor kecil dan mampu menyulut terjadinya konflik. Konflik yang disebabkan karena adannya keterbatasan dan terjadinya tumpang tindih parameter akan mengarah pada perpecahan, perbedaan, dan konflik sosial. Pemicu terjadinya konsolidasi pada masyarakat multikulutral ini disebabkan adannya pembagian kasta maupun sejenisnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Konsep Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
  • Merintis Pembangunan Masyarakat Harmoni
  • Mempertanyakan Masyarakat Bahari Indonesia
  • Perkembangan Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Belajar pada Masyarakat Pedesaan
  • Mencermati Pengertian Masyarakat Tradisional
  • Viking Bandung, Kemapanan Kelompok Suporter Terbesar
  • Mengenal Forum Bebas Indonesia
  • Viking Bonek Satu Hati - Kebersamaan Sejati Duo Suporter Indonesia
  • Rumah Dunia Banten: Sosial Bermodal Kreativitas
  • Mengenal Pendekatan dalam Perilaku Organisasi
  • Antusiasme Sepak Bola Masyarakat Perkotaan
  • Bola Mania Adalah Konsumen yang Loyal
  • Bobotoh Persib - Pendukung Fanatik Persib Bandung
  • Ciri-ciri Masyarakat Kota dan Desa
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA