logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Kelompok Sosial

Belajar pada Masyarakat Pedesaan


Ilustrasi masyarakat pedesaan
Desa sering dianggap cerminan konservatif (kolot). Bermukim di desa berarti bermukim di “ruang lain”. Tanpa teknologi. Minus internet. Nihil mall. Desa adalah wilayah tertinggal. Modernitas masih menjadi barang mewah di sini. Namun tak semua tentang desa itu kolot. Justru orang kota dan orang-orang yang mengaku lebih modern tetap bisa belajar pada desa. Terutama masyarakat pedesaan. Kehidupan desa itu dianggap masih sangat sederhana.

Lingkungan yang Mengubah

Di beberapa tempat masyarakat pedesaan sudah tidak terlalu kolot lagi. Bahkan ada desa yang telah berubah menjadi sebuah kota kecil seiring dengan perubahan zaman. Desa yang dahulu cukup sunyi dan sudah tidak ada lagi aktivitas diluar rumah setelah sholat Isya’, sejak masuknya satu perusahaan besar dengan berbagai kegiatan bisnis, akhirnya desa tersebut menjadi sangat ramai. Perekonomian meningkat. Fisik bangunan yang dari kayu berganti dengan bangunan modern dari yang biasa hingga bertingkat empat.

Pasar yang dahulu hanya ramai pada hari-hari tertentu dalam seminggu, kini buka sepanjang hari. Bentuk pasar telah lebih modern, lebih bersih, dan beberapa ruko mengelilinginya. Sawah dan kebun pun sudah banyak yang berubah fungsi. Cara pandang masyarakat terhadap diri mereka dan masa depan mereka juga telah berbeda. Mereka sudah melek teknologi. Ponsel, internet, dan semua fasilitas menunjang kehidupan masyarakat kota yang modern, telah mereka nikmati. Akhirnya mereka tidak lagi menjadi orang desa.

Perkembangan kehidupan yang dipengaruhi oleh berbagai hal itu telah mengubah segala tatanan dan struktur kehidupan yang ada di pedesaan. Jangan mengharapkan menjumpai orang-orang yang lugu yang tidak melek informasi. Masyarakat yang semula dianggap tidak banyak tahu itu, kini berpandangan sangat maju. Apalagi kalau mereka telah terpapar gaya hidup yang tidak baik dari pengaruh yang dibawa oleh orang-orang yang dianggap orang kota.

Keberadaan tempat hiburan di desa malah lebih menyeramkan daripada yang ada di perkotaan. Gaya berpakaian dan gaya bergaul orang-orang yang dahulu dianggap orang desa  ketika pergi tempat hiburan malam sederhana di kota kecil itu sangat mengkhawatirkan. Narkoba jenis koplo dengan mudahnya didapatkan. Permainan organ tunggal bisa menjadi ajang maksiat yang tiada terbendung. Bahkan para penyanyi yang diiringi oleh organ tunggal itu bisa menari dengan sangat berani. Pakaiannya pun sangat terbuka.

Kalau orang mengira bahwa kehidupan desa itu tenang dan damai serta jauh dari berabgai hal yang akan mengganggu pikiran, sebaiknya tidak lagio berpikir seperti itu. Kini banyak desa yang telah berubah. Memang masih ada beberapa desa yang benar-benar mempunyai karakteristik seperti pedesaan yang dibayangkan banyak orang. Persawahan yang membentang. Rumah-rumah tradisional. Para petani yang ke sawah dan ke ladang pada pagi hari. Pemikiran masyarakatnya yang sangat sederhana dalam memnadang kehidupan.

Bahkan ada beberapa pemerintah daerah yang menjadikan kehidupan pedesaan di daerahnya menjadi objek wisata. Mereka membuat sebuah program Desa Wisata. Kehidupan pedesaan itu dipelihara dengan baik dan malah menjadi ‘jualan;’ yang utama. Orang-orang desa dilatih agar bisa menjadi tuan rumah yang baik. Ada beberapa rumah yang dipilih agar bisa menjadi guest house yang cukup layak walaupun tidak mengubah bentuk keasrian dan keaslian rumah.

Misalnya beberapa desa di daerah Gunung Kidul dan Sleman, Yogyakarta. Program Desa Wisata itu cukup menarik banyak pengunjung yang berasal dari dalam dan luar negeri. Mereka ingin  menikmati bagaimana rasanya bercocok tanam, sarapan dengan tiwul, getuk, dan makanan tradisional lainnya. Mereka juga ingin merasakan bermain di bawah terang bulan purnama. Program ini tentu sangat menarik baik warga desa maupun orang yang berkunjung.

Warga desa malah harus bersikap apa adanya dan tidak boleh mengubah perilakuknya. Mereka cukup menjadi diri mereka sendiri. Orang kota yang menikmati suasana desa yang asri itu pun bisa memahami dan mengerti bagaimana warga desa itu hidup. Bagaimana pergaulan antarwarga yang saling peduli dan saling kenal. Warga desa yang masih bergotong royong dalam banyak hal bisa memberikan gambaran bagaimana seharusnya manusia harus bersikap dengan sesamanya.

Bila Berkunjung Ke Desa

Warga pedesaan yang masih sangat sederhana, pasti akan memberikan nuansa berbeda ketika dikunjungi untuk pertama kalinya. Jangan langsung memberikan penilaian apapun. Mulailah membuka mata dan hati dan hargailah apapun yang menjadi peraturan di desa itu. Bila mereka mempunyai berbagai peraturan, ikutilah. Melanggar aturan artinya menyakiti hati mereka. Padahal mereka hanya bertahan dari semua gempuran pengaruh daerah yang ada di sekitar mereka.

Misalnya, ketika berkunjung ke masyarakat Baduy Dalam yang ada di Provinsi Banten, hendaknya tidak gegabah melakukan apa yang biasa dilakukan. Masyarakat Badui yang tidak menggunakan semua teknologi apapun, masih hidup dengan sangat sederhana. Mereka tidak mengenakan alas kaki dan tidak ingin menikmati listrik. Mereka menjaga hutannya dengan hati. Kalau pendatang tiba-tiba melakukan larangan yang mereka terapkan, hati mereka pasti sedih dan tercabik-cabik.

Sebelum datang ke daerah yang seperti itu, carilah banyak informasi dan banyak keterangan tentang mereka. Kearifan lokal harus sangat dihormati. Bila tidak, mungkin saja terjadi kekecewaan yang mendalam sehingga mereka tidak mau menerima kedatangan orang luar lagi. Jangan dianggap kalau kekecewaan itu akan mudah terlupakan. Mereka mungkin tidak akan langsung marah. Tetapi rasa sakit hati mereka akan bertahan lama. Mereka mungkin akan mengadakan satu acara ‘Bersih Desa’ demi melindungi desa mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Begitu juga ketika berkunjung ke Kampung Naga, tempat tinggal Orang Rimba di Jambi, kampung-kampung tradisional di Papua, Sulawesi, dan lain-lain. Dengan mengetahui adat istiadat, para pengunjung bisa mempersiapkan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyinggung perasaan warga desa yang dikunjunginya. Berpakaianlah yang rapi dan pantas. Walaupun ada beberapa desa yang warganya hanya mengenakan pakaian seadanya, jangan terlalu kaget.

Tampil biasa saja agar mereka tidak terlihat aneh. Bila mereka menyuguhkan makanan yang sekiranya tidak halal dimakan, berilah mereka pengertian. Biasanya mereka bisa mengerti dan tidak akan memaksakan diri memberikan makanan itu kepada tamunya. Kalau ingin memberi sesuatu kepada mereka, telitilah dahulu apakah barang yang akan mereka terima itu benar-benar tidak menyinggung perasaan mereka.

Hal Lain yang Patut Diketahu Tentang Desa

Tinggal di kota metropolitan telah mengubah jati diri seseorang. identitas dia sebagai bangsa komunal telah tergerus menjadi bangsa individual. Untuk bisa mengembalikan perasaan kemanusiaan, mengunjung desa bisa menjadi solusi.Inilah nilai yang bisa masih bisa dipelajari dari warga pedesaan. Warga pedesaan masih memegang teguh nilai lokal. Local wisdom itu menjelma dalam mitos, pepatah, dan norma hidup. kearifan lokal berbasis pada nilai yang berkembang di masyarakat.

Misal di kampung naga tidak boleh sembarang orang masuk ke hutan. Di masyarakat Baduy yang anti modernitas. Nilai ini bukan trend semata. Tapi, semacam prinsip hidup. Masyarakat modern hidup dengan aturan hukum. Tapi, luput menaati. Tidak atas kesadaran sendiri dan bersifat memaksa. Ilegal logging dan ilegal fishing merajalela. Lingkungan dirusak. Padahal aturan hukum ada. Seharusnya orang kota  malu bahwa hukum modern kalah oleh kearifan lokal.

Warga pedesaan masih gotong royong. Tenggang rasa masih terawat. Ikatan sosial terjaga kuat. Misal ketika tetangga sakit silih menjenguk. Hari raya tiba saling berkirim opor dan ketupat. Tetangga satu dengan yang lain mengenal dan bertegur sapa. Apakah Anda mengenal nama tetangga? Maukah Anda menjenguk tetangga yang sakit? Semua harus mengakui bahwa kolektivitas sosial di perkotaan sudah tergerus. Budaya individualis mendominasi laku langgam sehari-hari.

Budaya ronda malam cukup diganti oleh petugas keamanan. Budaya minggu bersih diganti oleh petugas kebersihan. Orang lupa bahwa kohesivitas sosial tidak bisa ditakar oleh materi. Kolektivitas sosial lahir dari kebersamaan yang tulus dan tanpa pamrih.


Masyarakat pedesaan punya panorama alam yang mempesona. Hamparan sawah yang hijau. Hutan asri yang terbentang luas. Desa adalah tempat meditasi bagi jiwa yang suntuk. Menyatu dengan alam. Merasakan gemiricit burung. Membuat teduh hati dan pikiran.

Masyarakat modern dijejali mall. Bangunan tingkat tinggi. Properti mewah. Ruang terbuka hijau justru minim. Semua by design bukan by nature. Alam di perkotaan relatif jarang. Itu sebabnya trip and vacation jadi pilihan. Masuk ke pedesaan bisa melepas penat. Napak tilas kehidupan dulu. Kala alam masih hijau. Tanah belum dijamah. Enjoy!
 

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Hal Penting di Balik Berdirinya Suatu Himpunan
  • Bola Mania Adalah Konsumen yang Loyal
  • Viking Bonek Satu Hati - Kebersamaan Sejati Duo Suporter Indonesia
  • Ciri-ciri Masyarakat Kota dan Desa
  • Bobotoh Persib - Pendukung Fanatik Persib Bandung
  • Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Perkembangan Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Menyikapi Keanekaragaman Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Viking Bandung, Kemapanan Kelompok Suporter Terbesar
  • Konsep Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
  • Pembentukan Kepribadian Melalui Masyarakat Multikultural
  • Mencermati Pengertian Masyarakat Tradisional
  • Mengenang Tragedi Poso yang Memilukan
  • Mengenal Pendekatan dalam Perilaku Organisasi
  • Rumah Dunia Banten: Sosial Bermodal Kreativitas
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA