Rekam Jejak Sejarah Kerajaan Mataram
Ilustrasi mataram
Pusat kerajaan Mataram terletak di Yogyakarta, Surakarta dan Jawa Tengah. Kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Mataram Hindu yang telah memerintah daerah ini dari abad ke-8 sampai abad ke-10. Kerajaan ini memiliki tanah yang sangat subur sehingga dapat mendukung beberapa bangunan candi, seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
Berdasarkan seorang arkeolog Belanda, DR. Krom, pada abad sebelumnya sebelum kedatangan agama Hindu, orang Jawa terkenal akan:
- Irigasi (sawah) atau pertanian
- Perikanan
- Astronomi
- Penenunan
- Batik
- Gamelan
- Wayang
Kerajaan ini diperintah oleh orang Jawa yang mengadopsi agama dan budaya Hindu. Sebelum kedatangan agama Hindu, orang Jawa telah memiliki budaya dan kepercayaannya sendiri. Kebudayaan Hindu Jawa merupakan hasil dari pertemuan dua peradaban, yaitu adat dengan Hindu. Pengaruh Islam diawali pada abad ke-15 yang masuk ke dalam peradaban masyarakat Jawa dan kembali menghasilkan percampuran budaya.
Kerajaan Mataram I pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kemungkinan, ini dikarenakan letusan Gunung Merapi yang menghancurkan dan menutupi beberapa candi dengan debu dan bebatuan, seperti Candi Borobudur dan Candi Sambisari.
Beberapa ilmuwan menganalisis bahwa pusat kekuasaan dipindahkan ke arah timur adalah karena perang yang terjadi di antara penguasa. Meskipun pusat pemerintahan di pindahkan ke Jawa Timur, tetapi para penguasa merupakan keturunan atau keluarga yang berasal dari penguasa kerajaan ini.
Kerajaan pertama didirikan di lembah sungai Brantas di mana pertanian berkembang karena memiliki tanah yang subur. Rajanya adalah Mpu Sindok, yang telah meninggalkan banyak catatan pada batu dan Raja Dharmawangsa. Di bawah kepemimpinannya, epik Bharatayudha diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuno.
Dari 1019 sampai 1042, Airlangga merupakan salah satu raja terbesar di Jawa Timur. Kerajaan Kediri masih ada sampai 1222, diikuti oleh Kerajaan Singhasari (1222-1292) dengan wilayahnya sampai Malang sekarang ini.
Kerajaan Majapahit (1294-1400)
Majapahit didirikan oleh Wijaya. Majapahit merupakan kerajaan Indonesia yang paling kuat, dengan ibukotanya terlatak di Trowulan (dekat Surabaya). Majapahit mencapai masa keemasannya di bawah Raja Hayam Wuruk (1350) dengan maha patihnya yang sangat pintar Gajah Mada. Pada masa itu, daerah kekuasaan Majapahit hampir mencakup seluruh wilayah Indonesia sekarang ini.
Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Ia bersumpah bahwa ia tidak akan pernah makan rempah-rempah (palapa) sebelum dia mampu menyatukan seluruh kepulauan Indonesia di bawah payung kekuasaan Majapahit. Satelit komunikasi pertama Indonesia diberi nama Palapa untuk menghormati Gajah Mada.
Kerajaan Demak (Jawa Tengah)
Setelah runtuhnya Majapahit, pusat kekuasaan dialihkan ke Demak (30 km) sebelah timur Semarang, Jawa Tengah, yang ditandai dengan kemunculan Islam di Jawa. Setelah jatuhnya Majapahit pada 1478, beberapa orang yang tidak setuju dengan Kerajaan Demak melarikan diri ke Bali dan di sekitar pegunungan Bromo (Tengger) dan menjaga keyakinan mereka sampai dengan saat ini.
Demak terkenal dengan Wali Songo (sembilan pemimpin Islam) dalam proses pengislaman. Kerajaan Hindu terakhir di Kediri ditaklukkan pada 1527. Pada saat yang sama, Sunda Kepala dibebaskan dan namanya diubah menjadi Jayakarta - Kota Agung (sekarang Jakarta). Raja pertamanya adalah Raden Patah, ayahnya adalah Raja Majapahit yang menikah dengan ibu muslim Je’ampa. Raja kedua adalah Patiunus, dan ketiga adalah Trenggano.
Kemunculan Demak dan Islam di Jawa disebarkan oleh Wali Songo, sembilan pemimpin agama. Di antaranya adalah Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunang Gunung Jati (Faletehan). Islam menjadi agama resmi kerajaan dan memberikan kode moral dan sosial. Pada saat yang sama, filosofi dan tradisi Jawa masih terus berlanjut.
Kerajaan Pajang
Trenggano merupakan raja terakhir Demak, Joko Tingkir telah memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang (10 km barat Solo) pada 1540. Joko Tingkir (anak dari desa Tingkir) menjadi penguasa dengan gelar Sultan Hadiwijoyo.
Kerajaam Mataram II
Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama (1584-1601). Ayahnya, Pemanahan (Ki Ageng Mataram) merupakan kepala prajurit di Pajang, kakeknya adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit.
Penambahan berasal dari kata sembah -artinya salam hormat- yang dilakukan dengan telapak tangan, ujung jari menghadap ke atas dan menyentuh ujung hidung. Ini adalah cara penghormatan kepada tetua mereka, atasan mereka terutama keluarga kerajaan. Sehingga, panembahan adalah orang yang sangat dihargai, dipuja bahkan disembah.
Panembahan Senopati dengan anaknya Sutowijoyo merupakan raja legendaris dari kerajaan ini. Cerita dari Panembahan Senopati dipenuhi dengan cerita tentang kekuatan fisik dan hal gaib. Saat ini, istana lama (Kotagede) yang berjarak 5 km tenggara Yogyakarta dan kuburannya menarik ribuan peziarah dan dianggap oleh banyak orang sebagai tempat suci Dinasti Mataram.
Tempat-tempat tersebut adalah:
1. Parang Kusumo
Di pantai selatan Parangtritis (20 km selatan Yogyakarta), di mana dia menerima wahyu ilahi dan membuat perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul (dewi tertinggi laut selatan) bahwa ratu harus melindungi raja-raja Mataram dan rakyatnya dari perbuatan jahat. Beberapa menganggap, bahwa setiap dinasti raja Mataram melakukan menikah dengan ratu, lebih tepatnya pernikahan spiritual atau perjanjian.
2. Bambang Lipuro
Tempat ini terletak 10 km selatan Yogyakarta, di mana Sutowijoyo muda menerima wahyu ilahi, yang dikenal dengan Lintang Johar.
3. Dlepih Kahyangan
Tempat ini terletak 68 km tenggara Solo dan merupakan tempat peristirahatan, di mana dia mengubah Hutan Mentaok menjadi sebuah kerajaan yang sangat kuat.
Dlepih Kahyangan juga dikaitkan dengan penasehat bijaksana seperti ayahnya sendiri Pemanahan, Ki Ageng Giring (ayah angkatnya), pamannya Juru Mertani dan Penjawi. Dia juga sangat menghormati Sunan Kalijogo, yang mengatakan kepada Sultan Pajang - Hadiwijoyo, ayah angkatnya untuk memindahkan dengan segera Hutan Mentaok seperti yang telah dikanjikan pada Pemanahan dan Suto Wijoyo.
Sultan Hadiwijoyo enggan melepaskan Mentaok setelah mendengarkan ramalan Sunan Kudus yang menyebutkan bahwa suatu hari nanti kerajaan ini akan menjadi sebuah kekuatan yang mulia dan kuat. Sunan Giri mengatakan bahwa pendirian kerajaan ini adalah kehendak Tuhan. Memang benar, kerajaan ini meluaskan wilayah kekuasaanya karena memiliki kekuatan militer yang yang kuat.
Pada 1588, pusaka Pajang yang merupakan simbol kekuatan raja dibawa ke Mataram, diikuti dengan penaklukkan Demak (1588), Madiun (1590), Kediri, Ponorogo dan tempat lainnya di tempat-tempat bagian selatan Jawa Timur (1591).
Raja kedua Mataram adalah Panembahan Sedo ing Krapyak (1601-1613) dimana kota suci Kudus berada di bawah kerajaan ini. Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah raja ketiga (1613-1646), yang merupakan prajurit raja terbesar di Jawa. Di bawah kepemimpinannya, Mataram mencapai puncak kejayaannya, mendominasi semua bagian Jawa kecuali Banten dan Batavia.
Perang melawan koloniaslisme Belanda di Batavia mengandung banyak pelajaran budaya bagi Indonesia. Sultan Agung memusatkan kekuatannya di pedalaman, dia tidak mengapresiasi para pedagang. Dia pindah ke ibukota Kerta, Selatan Kotagede. Kuburannya di bukit Imogiri dikunjungi oleh banyak peziarah, yang percaya pada kekuatan suci supranatural. Kalender bulan Jawa yang sekarang digunakan diciptakan oleh Sultan Agung dengan menggabungkan kalender Jawa dan Islam.
Penerus Sultan Agung adalah:
- Susuhunan Amangkurat I (1646 -1677)
- Susuhunan Amangkurat II (1677 -1703)
- Susuhunan Amangkurat III (1703 -1708)
- Susuhunan Pakubuwono I (1704 -1719)
- Susuhunan Amangkurat IV (1719 -1726)
- Susuhunan Pakubuwono II (1726 -1749)
Terus terlibat dalam serangkaian perang internal di Jawa dan perang melawan Belanda VOC (Perusahaan Hindia Barat) telah melemahkan kekuatan Kerajaan Mataram. Ibu kota kerajaan ini dipindahkan beberapa kali, yaitu ke Plered (dekat Kerta) oleh Amangkurat I tahun 1647, ke Kartosuro (10km) barat Solo oleh Amangkurat II tahun 1680, dan ke tepi Sungai Solo oleh Pakubuwono II tahun 1743.

