logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Komunikasi    Materi Pelatihan Jurnalistik

Sekilas Materi Pelatihan Jurnalistik

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Bagi warga yang tinggal di kota besar. Dalam suatu kesempatan, pastilah selalu ada tawaran pelatihan jurnalistik. Entah datang dari kampus, dari media massa, atau dari LSM yang berkepentingan, terhadap pembinaan warga masyarakat.

Lalu, apakah yang hendak dihasilkan dari sebentuk pelatihan jurnalistik yang paling sederhana? Ramah tamahkah? Pesan dan kesankah? Sehingga dalam bahasa seorang maestro jurnalis H. Mahbub Djunaidi, jangan-jangan materi pelatihan jurnalistik sama rasanya dengan nasi goreng restorasi stasiun. Tidak manis, tidak asin, bahkan tidak ada rasa nasi gorengnya, semuanya netral.

Artinya, setiap pelatihan jurnalistik tidaklah memberikan suatu combo venue, sebuah kejadian langka yang menyenangkan para pesertanya, dan memasuki suatu ruang gegap gempita macam apa yang bisa ditawarkan jurnalisme. Sama tajamnya dengan material di seputar workshop life skill semacam ESQ, atau pelatihan kepribadian dengan jenis how to how to.

Bukan Menjadi Tukang

Jurnalis memang tukang. Di jurusan jurnalistik pada suatu universitas, bahkan mereka dilatih untuk menjadi tukang pencari berita. Tapi dalam pelatihan jurnalistik, tujuannya adalah mencoba memahami apa yang bisa dilakukan warga negara kepada negara melalui pengenalan bermedia.

Sejatinya, pendidikan kejurnalistikan yang diberikan kepada umum, adalah pendidikan untuk melek media massa. Di dalamnya diberikan lifeskill untuk bisa membedakan mana berita baik dari materi pemberitaan yang baik, atau mana berita buruk dari materi pemberitaan yang baik.

Di dalamnya juga bisa disertakan kemampuan untuk memahami jurnalistik sebagai hobi sehari-hari. Melalui materi fotografi, menulis blog, dan mendesain web. Bukan sekadar hobi tentu saja. Karena bisa menghasilkan uang pula.

Yang utama untuk melek media adalah program yang dinamakan literasi media. Peserta diminta untuk bisa menggunakan fungsi analisis wacana yang ada pada dirinya. Memahami mengapa sesuatu bisa disebut isu dan layak diberitakan. Memahami kerja media, dunia wartawan yang penuh tekanan, dan dunia media massa yang dikuasai keinginan pemodalnya.

Bilamana itu terlalu keras, maka cukup diberikan pengarahan untuk mencoba melakukan filter media. Artinya, memilih untuk membaca lebih dari satu surat kabar sebagai perbandingan, dan menghapus satu channel TV di televisi sebagai kritik, kepada media. 

Sehingga ketika lulus dari pelatihan dan mendapatkan sertifikatnya, yang diperoleh adalah pemahaman menjadi seorang warga negara yang tajam, kritis, dan fungsional. Terlebih dari itu pula dipersenjatai oleh pena. Lebih berseloroh lagi, negara perlu khawatir apabila rakyatnya kebanyakan mengikuti pelatihan jurnalistik. Bila sebanyak yang bayar pajak, rubuhlah satu rezim yang doyan mengacau.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Jurnalisme Sastrawi - Perpaduan Antara Aturan Jurnalistik dan Sastra
  • Pelatihan Jurnalistik: Mencetak Ego Jurnalis
  • Membaca Pesan Komunikasi Nonverbal
  • Pengertian Kode Etik Jurnalistik dari Beberapa Ahli
  • Pengertian, Komponen, dan Teori Komunikasi
  • Etika Humas: Pertarungan Kejujuran dan Kebohongan
  • Langkah-Langkah dalam Proses Komunikasi
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA