Benjamin Keldani, Menguak Misteri Muhammad

Dalam pandangan Islam, Muhammad adalah nabi yang telah diisyaratkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Tertulis dalam bahasa dan literature kuno keagamaan.
Misteri ini diungkapkan lewat penelitian seorang mualaf, mantan pastur Katholik Roma dari sekte Uniate-Chaldean bernama Prof.David Benjamin Keldani.
Meruntuhkan semua misteri di balik bahasa-bahasa kuno yang menjadi rujukan ajaran Gereja sebagai sebuah kitab suci. Isyarat-isyarat kenabian Muhammad, dimunculkan dari literature Bible.
Penelitian Awal Keldani
Tahun 1904, di sela melakukan tugas pendidikan dan penerangan sebagai utusan British and Foreign Unitarian Association ke Persia, Keldani berdiskusi dengan ulama-ulama di kampung halamannya, Persia. Salah satu kawan diskusinya adalah Jamaluddin Effendi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ahad Dawud.
Penelitian panjang secara etimologi dalam menguak misteri Muhammad dalam Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dari bahasa Arami, bahasa Latin atau Vultage, dan dalam versi bahasa Yunani Kuno. Menyimpulkan kebenaran ramalan kedatangan Muhammad.
Dalam Perjanjian Lama. Nama Maleakhi memiliki arti malaikatku atau pesuruhku, yakni seseorang yang bertugas menyampaikan suatu pesan kepada orang lain.
Ramalan dalam Maleakhi
Ramalan mesianik yang terkenal dari Maleakhi, adalah “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku, Dengan mendadak Adon yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya, Utusan Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, ia datang, firman Tuhan Semesta Alam,” (Maleakhi 3:1).
Nubuat Maleakhi mengindikasikan tiga kualifikasi, sebagai Massanger of Religion, Lord Commander, dan Messanger of the Convent. Orang yang diramal itu harus “datang ke Baitnya secara tiba-tiba”, “sangat dinantikan manusia”, serta “begitu diinginkan dan dirindukan”.
Tak ada satupun dari agama Kristen dengan berbagai sektenya, orang yang sesuai indikasi dalam ramalan Maleakhi, termasuk sosok Yesus. Hanya Muhammad sebagai manusia mulia yang sesuai dengan ramalan Maleakhi.
Dalam perjanjian Baru, Pshittha menerjemahkan kata Yunani “Eudokia” (dibaca Ivdokia atau Ivthokia) sebagai Sobhra Tabha yang artinya harapan atau penantian yang baik. Dalam versi latin Vulgate, diterjemahkan sebagai Bona Voluntas, berarti kehendak baik.
Keldhani melihat kata Yunani “eudokia” adalah representasi harfiah dari kata substantif Ibrani Himdah, berarti: “kegembiraan, kenikmatan yang baik, hasrat, kemolekan, dan kemuliaan”. Sejarah membuktikan akhlaq dan tabiat Nabi Muhammad sangat mulia dan terpuji.
Memiliki tugas menyempurnakan agama Allah. Islam datang menciptakan ketentraman, kedamaian, kebaikan, keamanan, dan keselamatan disertai kepatuhan mutlak kepada Allah.
Istilah Barnasha dalam literature kristiani artinya Anak Manusia. Ini bukan gelar seperti Mesias yang dapat disandarkan setiap raja, imam atau nabi, imam tinggi, dan raja yang telah diurapi. Dia adalah proper noun atau kata benda nama diri yang dikhususkan merujuk pada nabi terakhir.
Karyanya yang diterbitkan oleh Sahara Publisher, berbahasa Indonesia dengan judul "Menguak Misteri Muhammad SAW". Adalah hasil refleksi iman dan intelektual yang menegaskan pembenaran Muhammad sebagai Nabi dan Islam sebagai agama yang harus dipilih.






