logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Fikih

Menuntut Ilmu dalam Pandangan Islam


Ilustrasi menuntut ilmu dalam pandangan islam

Tidak ada agama selain Islam, tidak ada kitab suci selain Al-Quran, tidak ada nabi selain Nabi Muhammad saw yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, memuji orang-orang yang menguasainya, dan memuliakan orang yang mengamalkannya. Itulah mengapa, menuntut ilmu dalam pandangan Islam wajib hukumnya.

Tidak akan diterima ibadah seorang hamba apabila ia melakukannya tanpa dasar ilmu. Dengan demikian, ilmu menjadi faktor yang menentukan kualitas suatu amal, sekaligus penentu diterima tidaknya amal yang bersangkutan.

Terkait hal ini, Rasulullah saw pernah ditanya tentang dua orang, yaitu seorang ahli ibadah dan seorang ahli ilmu. Beliau bersabda, "Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, dan para ikan mendoakan pengajar kebaikan pada manusia'." (HR At-Tirmidzi).

Dalam redaksi lain, Al-Bazzar meriwayatkan dari Aisyah, "Sesungguhnya, para pengajar kebaikan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai oleh ikan-ikan di lautan."

Ibadah ritual merupakan sebuah amal yang istimewa, namun lebih istimewa ilmu dan orang-orang yang memilikinya. Dalam hadits di atas, Rasulullah saw lebih mengutamakan keutamaan ahli ilmu daripada ahli ibadah bagaikan keutamaan diri beliau dengan orang yang paling rendah di antara para sahabat.

Perumpamaan ini serupa dengan ungkapan "bedanya bagaikan langit dan bumi". Artinya, antara kedua keduanya memiliki derajat yang jauh berbeda.

Ada banyak hadits yang menguatkan hal ini, antara lain, "Dua rakaat shalatnya seorang yang berilmu lebih baik daripada seribu rakaat shalatnya orang bodoh". Hadits lain menyebutkan pula bahwa tidurnya seorang berilmu itu lebih bernilai daripada shalatnya orang jahil. Apa artinya? Ilmu merupakan panduan manusia agar dapat melakukan suatu amal sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, baik prosedur yang bersifat fisik maupun non fisik; baik yang bersifat fikih maupun akhlak.

Dengan ilmu, seseorang dapat lurus niatnya, benar menjalankannya, dan optimal manfaat dari amal ibadah yang dilakukannya. Nah, hal-hal semacam ini sulit untuk dilakukan oleh orang-orang yang jahil alias tidak berilmu.

Keutamaan seorang cendikia akan semakin berlipat apabila ia mau mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Allah Azza wa Jalla mengutus Rasulullah saw ke dunia, salah satunya adalah untuk mengajari manusia tentang apa-apa yang tidak diketahuinya (QS Al-Jumu'ah, 62:2).

Dengan demikian, para pengajar ilmu dan kebaikan pada hakikatnya melanjutkan dakwah Rasulullah saw, yaitu mengajari orang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari yang sesat menjadi selamat, dari yang mengerti menjadi paham, dari yang lalai menjadi taat, dari yang menyimpang menjadi lurus.

Orang berilmu yang menyebarkan ilmunya dengan ikhlas dapat diibaratkan sebagai pembawa cahaya terang di kegelapan malam. Walaupun gelap, ia mampu berjalan menuju ke tempat tujuan tanpa mengalami kesulitan.

Dengan cahaya yang dimiliki, ia pun bisa menerangi orang lain yang tersesat karena gelapnya malam. Maka wajar, apabila semua makhluk di langit dan di bumi memintakan ampunan baginya.

Ada satu kisah tentang keutamaan bagi para pengajar dan yang mempelajari ilmu. Rasulullah saw pernah masuk ke dalam sebuah majelis. Di dalam majelis tersebut beliau melihat dua kelompok jamaah. Kelompok pertama sedang khusyuk berzikir dan kelompok kedua tengah serius mengkaji ilmu.

Rasulullah saw berkomentar, "Kelompok pertama adalah kelompok yang baik. Semoga Allah mengampuni mereka. Sedangkan kelompok kedua yang sedang mengajar dan mempelajari ilmu, semoga Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus."   

Kadang kita lupa untuk apa menuntut ilmu itu, dan kita harus tahu juga hukumnya menuntut ilmu dalam agama islam. Dalam Al-Quran dan Al-Hadist ada beberapa kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu, agar mereka menjadi pintar,  jauh dari kejahatan dan kebodohan. Ilmu bisa diartikan sebagai usaha mendapatkan ilmu baik dengan jalan melihat atau mendengar. Kewajiban dalam menuntut ilmu ada dalam hasi seperti berikut:

"Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan". (HR. Ibn Abdulbari).

Dari hadist diatas maka bagi orang islam diwajibkan untuk menjadi orang yang berilmu dan mengetahui segala kemaslahatan dan manfaat dari ilmu yang didapatkannya. Untuk menganalisa atau meninjau dan mendalami hakikat alam yang berhubungan dengan aqaid dan ibadah, baik secara duniawi dan segala kebutuhan hidup. Nabi Muhammad Saw mengatakan dalam hadist berikut:

"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim).

Menuntut ilmu dalam pandangan Islam ini agar setiap umatnya bisa menutntun ilmu-ilmu yang memberikan manfaat dan berguna bagi kehidupan kita. Setiap Muslim bisa menuntut ilmu pengetahuan yang dapat menuntut kemajuan bagi penghuni dunia ini tetapi dalam batasan yang diridhai Allah SWT. Selain itu ada hal yang paling penting Islam mewajibkan untuk menuntut ilmu akhirat dengan mengamalkannya kepada orang-orang yang kurang dengan pengetahuan akhirat. 

Dilihat dari segi ibadat menuntut ilmu dalam pandangan Islam sangat tinggi nilainya dan pahalanya, Sebagaimana Nabi Muhammad saw. 

  "Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun". 

Dalam hadist lainnya dikatakan.

"Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali".

Mungkin Anda bertanya kenapa nilai yang tinggi dari ilmu dilihat dari ibadat? Nilai ibadat dilandasi dengan ilmu amalannya pasti tidak akan sia-sia. Dinyatakan dalam hadist berikut ini.

"Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima".

Dengan kita menuntut ilmu dalam pandangan Islam kewajiban dalam menunaikan ilmu tersebut harus diamalkan sehingga ilmu tersebut dapat bermanfaat baik untuk diri kita ataupun orang lain. Bagi kita yang mempunyai ilmu yang lebih hendaklah berbagi dengan yang lainnya karena dengan mengamalkan ilmu yang kita miliki maka kita akan mendapatkan nilai yang tinggi di hadapan Allah SWT yaitu pahala yang besar.

Mengingat sangat pentingnya menyebarkan ilmu pengetahuan kepada manusia atau masyarakat agar manusia tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka harus ada kesadaran antar sesama muslim untuk menuju dunia dan akhirat. Bagi seorang ilmu yang lebih tinggi dan ilmu tersebut tidak diamalkannya maka ancaman menyembunyikan tersebut akan mendapatkan hukuman seperti sabda Nabi Muhammad Saw.

"Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka".(HR Ahmad).

Oleh karena itu, mari kita menuntut ilmu setinggi-tingginya dan tiada hentinya tanpa ada bolong sedikitpun untuk sampai keliang kubur. Dan iklhlaslah ketika memberikan ilmu yang diamalkannya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat agar kita dapat pahalanya. 

Semangat untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kembali merupakan hal yang sangat urgent pada masa sekarang. Hal ini tidak saja untuk mengejar predikat sebagai orang yang dimuliakan Allah dan segenap makhluk-Nya, tetapi juga untuk mengejar ketertinggalan dari kaum yang lain. Dalam konteks pribadi maupun umat Islam, kita tidak akan bisa bangkit hanya dengan zikir atau ibadah ritual saja. Kita hanya bisa bangkit apabila memiliki ilmu yang disinergikan dengan kekuatan ibadah.

Dengan menuntut ilmu dalam pandangan Islam ini sangat penting untuk disadari karena menuntut ilmu bukan sekedar mencari duniawi tetapi akhirat juga harus kita pikirkan. Dengan menuntut ilmu dalam pandangan Islam ini banyak sekali manfaat untuk orang yang senang menuntut ilmu agar tidak lupa dengan ibadah dan amalan yang di berikan kepada masyarakatnya.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Fungsi Lembaga Dakwah Kampus
  • Pemimpin Islam Paling Berpengaruh di Dunia
  • Nikah Siri Menurut Hukum Islam
  • Anjuran Menjadi Kaya dalam Islam
  • Majalah Dakwah Islam: Berdakwah Melalui Media Massa
  • Pentingnya Hukum Jual Beli dalam Islam di Masyarakat
  • Menjernihkan Hati dengan Ibadah - ANNEAHIRA.COM
  • Membuat Makalah tentang Agama Islam
  • Kumpulan Ceramah Singkat Islam yang Membuka Hati
  • Cabang Olahraga dalam Islam
  • Hati-hati Ungkapan Senyum itu Sedekah
  • Bagaimana Sistem Pendidikan Islam yang Ideal?
  • Contoh dan Tips Membuat Teks Dakwah Islam
  • Hakikat Pengertian Pendidikan Agama Islam
  • Kearifan Akhlak Terhadap Lingkungan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA