Sejarah Gunung Merapi dan Wisata Alamnya
Gunung Merapi adalah sebuah gunung api aktif yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Yogyakarta, tepatnya sekitar 28 kilometer dari Kota Yogyakarta. Gunung merapi tak hanya dikenal di dalam negeri saja, tetapi juga di luar negeri. Gunung Merapi adalah salah satu dari gunung api teraktif di Indonesia. Aktivitas paling terbaru adalah meletusnya Gunung Merapi pada akhir 2010.
Sejarah Gunung Merapi
Sebagian orang mungkin sudah tahu awal kisah penamaan Gunung Merapi. Bagi yang belum tahu, penulis akan memberikan sedikit cerita tentang sejarah Gunung Merapi yang terkenal itu. Nama Merapi juga dapat diartikan sebagai ‘gunung api’. Secara etimologi, nama Merapi berasal dari bahasa Jawa meru dan api. Meru berarti ‘gunung’ sedangkan api diartikan ‘api’.
Sejak 1548, gunung ini telah meletus secara berkala sehingga dimasukkan ke dalam daftar gunung-gunung api teraktif di Indonesia. Berdasarkan rekaman pantauan pos pengamat gunung api di sana, setidaknya selama 300 hari per tahun, kepulan asap terlihat keluar dari kepundan gunung tersebut.
Pada 25 Oktober 2010, pemerintah Indonesia menaikkan status keaktifan Gunung Merapi hingga ke tingkat tertinggi. Pemerintah pun memberi peringatan kepada para warga yang tinggal di kaki gunung tersebut untuk segera mengungsi ke area aman. Masyarakat yang tinggal di radius 20km sekitar zona gunung tersebut dievakuasi.
Pihak yang berwenang menyebutkan bahwa 500 gempa vulkanik terekam oleh seismograf pemantau pada 23-24 Oktober. Aktivitas seismik yang banyak itu, mengakibatkan naiknya permukaan magma di dalam gunung hingga sekitar 1km di bawah permukaan tanah. Akhirnya, sore hari tanggal 25 Oktober 2010, Gunung Merapi memuntahkan lava panas dari sisi selatan dan tenggaranya.
Letusan dan aktivitas Gunung Merapi berlanjut hingga tanggal 30 November 2010. Akan tetapi, karena menurunnya tingkat aktivitas pada 3 Desember 2010, pemerintah melalui pihak yang berwenang menurunkan status hingga level 3.
Secara geologis, Merapi adalah gunung termuda dari rangkaian gunung api yang ada di selatan Pulau Jawa. Gunung tersebut terletak pada sebuah zona subduksi, ketika lempeng Indo-Australia tertumpuk di bawah lempeng Eurasia. Gunung ini juga merupakan bagian dari Lingkaran Api Pasifik --sebuah garis maya yang menghubungkan gunung-gunung api yang mengelilingi Samudera Pasifik.
Analisis stratigrafi menunjukkan bahwa erupsi awal Merapi dimulai sekitar 400.000 tahun lalu. Dari masa itu hingga masa 10.000 lalu, letusan-letusan yang terjadi berlimpah-limpah meskipun tidak besar. Letusan-letusan tersebut umumnya memuntahkan lava basaltik.
Kemudian, erupsi yang terjadi berangsur-angsur menjadi semakin besar dan eksplosif. Lava yang keluar pun menjadi lava andesitik yang membentuk kubah lava. Runtuhan kubah-kubah tersebut menghasilkan aliran lava dingin yang disertai letusan-letusan yang lebih besar. Ini mengakibatkan terbentuknya kolom-kolom erupsi.
Secara periodik, erupsi kecil-kecilan terjadi setiap 2 hingga 3 tahun sementara letusan yang lebih besar terjadi skitar 10–15 tahun atau lebih. Letusan-letusan hebat terjadi pada tahun 1006, 1786, 1822,1872, dan 1930. Erupsi pada tahun 1006 disebut-sebut telah menutupi seluruh Jawa Tengah dengan abu vulkanik. Letusan yang hebat tersebut diduga sebagai salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Hindu Mataram; meskipun begitu belum ada cukup bukti yang mendukung teori tersebut.
Taman Nasional Gunung Merapi
Pada 2004, area seluas 6.410 hektar di sekitar Gunung Merapi dijadikan sebuah taman nasional. Keputusan Kementerian Kehutanan kala itu, M. Prakosa, yang mewujudkan rencana pembangunan taman nasional tersebut diperkarakan ke pengadilan oleh forum pecinta lingkungan Indonesia, Walhi. Mereka menuduh bahwa terjadi ketidaktransparanan dalam proyek pembangunan tersebut.
Mereka pun menyatakan bahwa bukannya mereka menentang program pemerintah. Namun, mereka beranggapan bahwa pemerintah telah gagal dalam pengurusan taman-taman nasional yang sudah ada sehingga mereka berpikir untuk apa lagi membangun taman nasional padahal taman-taman nasional yang lain yang telah berdiri lebih dulu banyak yang tak terurus.
Pada akhirnya, taman nasional ini jadi dibangun dengan SK Menteri Kehutanan No. 134/Menhut 134/Menhut-II/2004 tertanggal 4 Mei 2004. Oleh karena letaknya di perbatasan, secara administratif, wilayah taman nasional ini masuk ke dalam wilayah dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Tujuan pengelolaannya adalah perlindungan bagi sumber-sumber air dan sungai.
Museum Gunung Merapi
Selain taman nasional, Gunung Merapi juga memiliki museum. Museum ini terletak di kilometer 27,5 Kabupaten Pakem, Sleman, Yogyakarta. Museum ini mengoleksi berbagai macam hal tentang Gunung Merapi. Koleksi yang dimiliki antara lain alat-alat seismograf tua, detektor gempa, dan model pos pengamatan gunung api.
Museum ini juga menyimpan contoh barang-barang yang hancur akibat bencana alam yang diakibatkan Gunung Merapi seperti sepeda motor yang hangus terbakar.
Erupsi Gunung Merapi 2010
Pada September 2010, status Gunung Merapi mengalami peningkatan dari “normal aktif” menjadi “waspada”. Perubahan status Gunung Merapi tersebut dirilis oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK). Lalu, pada Oktober 2010, status Gunung Merapi berubah lagi menjadi “siaga”.
Pada status “siaga”, proses pengungsian atau evakuasi warga sekitar gunung harus dilakukan. Selang beberapa hari setelah status “siaga”, status Gunungf Merapi pun kembali berubah lagi menjadi “awas” karena aktivitas Gunung Merapi semakin tinggi frekuensi gempa multifasae dan gempa vulkaniknya. Efek status siaga ini mengharuskan evakuasi warga sekitar yang berada dalam radius 10 km dari puncak Merapi ke wilayah yang aman.
Letusan erupsi Gunung Merapi terjadi sore hari pada 26 Oktober2010. Saat itu, sedikitnya terjadi 3 kali letusan. Letusan Gunung Merapi itu memuntahkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km yang disertai dengan awan panas. Sejak saat itu, sering terjadi muntahan awan panas dan lava pijar yang tidak teratur.
Rangkaian letusan Gunung Merapi yang disertai suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (27 Km dari Gunung Merapi), Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (50 Km dari puncak Gunung Merapi). Letusan Gunung Merapi pun menghasilkan hujan kerikir dan pasir yang mencapai Yogyakarta bagian utara. Sementara itu, abu vulkanik pekat yang dihasilkan Gunung Merapi mencapai Purwokerto, Cilacap, bahkan mencapi Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.
Vegetasi dan Rute Pendakian Gunung Merapi
Bagian puncak Gunung Merapi tidak pernah ditumbuhi vegetasi. Hal itu disebabkan aktivitas MErapi yang tinggi. Jenis tumbuhan atau vegetasi di bagian teratas Merapi bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Sementara agak ke bawah, ada hutan bambu dan tumbuhan pegunungan tropika. Pada ketinggian di bawah 1.000 m, tumbuh salak unggulan nasional, yaitu slak “pondoh” dan salak “nglumut”.
Gunung Merapi termasuk objek pendakian yang populer karena gunung ini memiliki panorama yang indah. Jalur pendakian yang sering digunakan untuk mendaki melalui sisi utara tepatnya di Desa Tlogolele, Kabupaten Boyolal. Rute ini sering digunakan para pendaki karena sangat dekat menuju puncak Merapi dengan waktu 5 jam.
Jalur populer lainnya yang sering digunakan para pendaki adalah dari sisi selatan melalui Kaliurang, Kabupaten Sleman. Jalur pendakian ini sangat terjal dan untuk menuju puncak lewat jalur ini membutuhkan 6 sampai 7 jam. Jalur alternatif pendakian lainnya adalah melalui sisi barat laut tepatnya melalui Sawangan, Kabupaten Magelang dan melalui sisi tenggara lewat daerah Kecamatan Kemalang.







