Merek Mobil
Ada puluhan merek mobil ternama yang beredar di Indonesia. Mulai dari mobil mewah semacam Ferrari, Audi, Marcedes Benz, hingga mobil “sahabat masyarakat” seperti Avanza, Jazz, dan Xenia bisa ditemukan di jalanan Indonesia. Mengenai kualitas merek mobil tersebut, tentunya tidak usah diragukan. Namun, tahukan Anda jika Indonesia pun sebenarnya memiliki merek mobil nasional hasil karya anak Bangsa?
Sebagian besar pembaca tentu tidak ada yang menyangka jika Indonesia telah memproduksi berbagai merek mobil sejah puluhan tahun yang lalu. Ini wajar mengingat banyaknya merek asing yang beredar di pasar nasional yang sulit ditandingi oleh merek lokal, terutama dari sisi kualitas. Selain itu, kecintaan masyarakat Indonesia kepada merek lokal yang tidak terlalu besar membuat mobil merek lokal ini tersungkur di daerah kekuasaannya sendiri.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas beberapa mobil dengan merek lokal yang pernah hadir di dunia otomotif nasional. Kisah petualangan anak bangsa dalam menciptakan mobil nasional dimulai sejak 1993. Adalah B.J. Habibie, keluarga Bakrie, dan keluarga Cendana yang memulai kiprah dan bermain di segmen otomotif. Mobil apa yang diciptakan dan seperti apa kisahnya? Berikut adalah pembahasan lengkapnya.
Maleo
Merek Maleo pertama kali dikembangkan pada 1993. Tujuan pengembangan mobil ini adalah memenuhi keinginan pemerintah untuk memiliki sebuah merek lokal yang kental dengan cirri khas nusantara. Adalah IPTN yang kala itu ditunjuk pemerintah untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Di bawah bendera IPTN, sang “bidan” sekaligus Menristek kala itu, BJ. Habibie bekerja sama dengan Millard Design Australia dan Rover Inggris untuk melahirkan sebuah mobil nasional. Pada saat itu, 11 desain mobil telah berhasil dirancang hingga 1997, Namun sayang, proyek tersebut terbengkalai dan harus berakhir sebelum produk Maleo beredar di pasaran sehubungan dengan dimulainya proses reformasi.
Beta 97 MPV
Proyek pembuatan mobil nasional kembali dilakukan pada 1994. Kali ini, yang mengusung proyek ini adalah Bakrie Brothers yang merupakan salah satu anggota perusahaaan bakrie Grup. Tujuan utama Bakrie kala itu adalah ingin menjadikan mobil ini sebagai mobil nasional. Dia bekerja sama dengan rumah desain asal Inggris, Shado, dalam menciptakan desain awalnya.
April 1995, rancangan mobil tersebut sudah selesai dan mulai diperlihatkan kepada seluruh jajaran manajemen Bakrie. Setelah mendapat persetujuan, rancangan itu pun langsung direalisasikan hingga prototipe mobil tersebut rampung pada 1997.
Rencana anggaran untuk perakitan dan semua aspek pendukungnya sudah disiapkan dengan serius oleh Bakrie. Rencanannya mobil ini akan selesai dan mulai diperlihatkan kepada masyarakat pada akhir Desember 1997. Sayang beribu sayang, krisis ekonomi yang melanda Indonesia kala itu mengaburkan mimpi Bakrie. Beta 97 MPV jatuh sebelum terbang.
Timor
Adalah Timor yang akhirnya mewujudkan mimpi anak bangsa memiliki mobil nasional pada era 90an. Meskipun mobil ini hanya berupa rebadged dari mobil Korea Selatan, Kia Sephia, namun tetap saja bahwa yang beredar di pasaran adalah merek Timor. Timor adalah kepanjangan dari Teknologi Industri Mobil Rakyat. Nama perusahaannya adalah Timor Putra Nasional yang merupakan perusahaan otomotif milik Tommy Soeharto, anak mantan presiden Soeharto.
Pada era 90an, mobil ini dijadikan sebagai mobil nasional sehingga bebas dari pajak-pajak dan bea lainnya, tidak seperti yang diterapkan pada merek mobil lain yang masuk ke Indonesia. Belum lama diperkenalkan, proyek Timor dihentikan seiring dengan krisis Asia yang menyebabkan KIA motor bangkrut yang diperparah dengan keruntuhan rezim Soeharto di Indonesia.
Bimantara
Merek mobil Bimantara adalah proyek penciptaan mobil nasional lain yang digarap oleh keluarga Cendana. Jika Timor diproduksi oleh perusahaan milik Tommy, maka Bimantara ini diproduksi oleh perusahaan milih Bambang Trihatmojo. Dalam proses produksinya, Bimantara menggandeng pabrikan Hyundai untuk memuluskan rancangan mobilnya. Sama seperti halnya Timor, Bimantara pun tenggelam seiring terjadinya krisis moneter di dalam negeri.
MR 90
Mazda 323 Katcchback yang merupakan mobil pabrikan luar dinasionalisasi oleh PT Indomobil pada 1994. Model yang digadang-gadang akan sukses di Indonesia ini adalah Mazda van Tren. Namun, kenyataaannya hingga saat ini p[un tidak banyak model mobil ini yang beredar di tanah air.
Kalla Motor
Pada era 90an, Kalla motor pernah membuat rancangan mobil kecil bertenaga 500 cc yang diproyeksikan untuk menjadi produk nasional. Namun, entah apa yang menyebabkan perusahaan ini urung merealisasikan produksinya.
Texmaco Macan
PT Texmaco yang menggandeng Marcedes Benz pernah memamerkan prototype mobil berjenis minibus berkekuatan 1800 cc di pecan Raya Jakarta pada 2001 lalu. Namun, belum sempat memproduksi mobil ini secara masal, efek krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 telah menyebabkan perusahaan ini gulung tikar. Akhirnya, peroduksi mobil ini pun urung dilakukan.
Gang Car
Mobil Gang adalah nama yang unik untuk sebuah kendaraan roda empat. Namun, penamaan ini bukanlah tanpa alasan, mengingat tujuan utama penciptaan mobil ini adalah untuk menelusuri jalanan yang selmpit atau gang. Mobil yang diusung oleh PT Dirgantara Indonesia ini merupakan jenis kendaraan mini yang berkekuatan 125-200 cc dan hanya memiliki kemampuan menampung penumpang sebanyak 2 orang. Isu peluncuran mobil ini seakan tenggelam setelah pada 2003, PT Dirgantara Indonesia dilanda kemelut hingga menyebabkan 9000 karyawannya dirumahkan.
Marlip
Marlip merupakan mobil listrik yang dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan dipasarkan oleh PT Marlip Indo Mandiri. Mobil ini awalnya dibuat tidak untuk mobil komersil karena penggunaannya hanya digunakan sebagai mobil golf, mobil keamanan, dan mobil pasien. Namun, seiring perkembangan waktu, mobil Marlip pun mengeluarkan varian lain yang mampu menganggkut 4 penumpang.
Kecepatan maksimal varian mobil Marlip ini bisa mencapai 50 km/jam dengan jarak tempuh maksimal 120 km. Di pasaran, harga Marlip berada di kisaran 60 sampai 80 juta per unit.
Kancil
Kancil yang satu ini bukanlah hewan kancil yang sangat identik dengan dunia dongeng. Kancil ini adalah singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah yang merupakan sebuah merek dagang Kendaraan bermotor roda empat yang diproduksi dan dipasarkan oleh PT Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari atau biasa disingkat PT Kancil.
GEA
Proyek mobil nasional pernah pula diusung oleh PT Indiustri Kereta Api (INKA). Adalah GEA, sebuah mobil dengan kapasitas 640 cc lengkap dengan mesin Riset Unggulan Strategi Nasional yang menjadi unggulan PT INKA untuk memberikan alternatif mobil kecil menghadapi krisis energi. Merek mobil Nasional ini dilepas ke pasaran dengan harga 40-50 juta rupiah. Mobil ini termasuk kategori city car karena hanya berdimensi 3.320×1.490×1.640 mm dengan wheelbase 1.965 mm.
Esemka
Mobil nasional selanjutnya yang digadang-gadang akan menjadi mobil nasional adalah mobil Esemka. Sesuai dengan namanya, mobil ini merupakan hasil karya asli anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Nama merek untuk tiap mobil Esemka berbeda sesuai dengan SMK mana yang membuatnya. Ada yang memberinya merek Rajawali, Digdaya, dan lainnya. Untuk jenis mobilnyua sendiri, Esemka memiliki beberapa varian, yakni SUV, MVP, dan Pickup Kabin ganda.
Mobil Esemka mendapat perhatian public karena memiliki model yang bagus, seperti halnya mobil luar yang beredar di pasaran Indonesia. Namanya semakin terangkat setelah pada awal 2012 yang lalu, Walikota Surakarta, Joko Widodo memutuskan untuk menggunakan mobil Esemka sebagai mobil dinas.
Nah, itulah beberapa merek mobil nasional yang pernah hadir (meski beberapa di antaranya belum diproduksi secara massal) di Indonesia. Jika kecintaan penduduk Indonesia akan produk dalam negeri semakin besar, didukung dengan kualitas produknya yang sangat baik, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan Merek mobil nasional akan mulai memenuhi jalanan Indonesia. Semoga.

