logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Minangkabau

Minangkabau, Suku Perantau


Ilustrasi minangkabau

Indonesia ditakdirkan sebagai sebuah negara dengan beragam suku di dalamnya. Negara berbentuk kepulauan ini memang secara geografis dibedakan menjadi pulau-pulau, baik pulau besar mau pun kecil. Di pulau-pulau itu lah hidup banyak kelompok masyarakat dari berbagai suku.

Salah satu pulau terbesar di Indonesia adalah Sumatra. Di sana, Anda juga akan menemukan banyak suku. Salah satunya adalah suku yang mendiami Provinsi Sumatra Barat. Sebagian besar wilayah Provinsi Sumatra Barat didiami oleh suku Minangkabau.

Namun bukan berarti Suku Minangkabau hanya ada di sekitar provinsi tersebut. Keberadaan Suku Minangkabau tersebar luas di banyak daerah di Indonesia. Ini karena, kebiasaan merantau yang sudah menjadi salah satu budaya milik masyarakat Minangkabau.

Suku Minang juga menyebar ke beberapa daerah seperti Jambi, Aceh, Bengkulu, daerah pesisir pantai timur Sumatra dan sebagainya. Bahkan kini, orang Suku Minangkabau hampir ada di semua wilayah kota-kota besar di Indonesia. Mereka menjadi bagian dari proses akulturasi budaya yang ada di Indonesia.

Suku Minangkabau

Sebagai gambaran gampangnya, daerah mana di Indonesia yang tidak ada rumah makan padangnya? Hampir semua ada bukan? Pasti! Walau bukan berarti semua yang membuka warung makan padang itu orang Minangkabau. Namun sebagian besar, yang melakukannya adalah orang Minangkabau.

Indikasi ini bisa membantu Anda untuk lebih meyakini bahwa masyarakat Minang memang ada di seluruh penjuru tanah air. Bukan hanya rumah makan padang, jika Anda penggila pakaian, dan pergi mengunjungi tanah abang atau toko pakaian grosiran, di sana Anda akan menemukan banyak pedangan yang berasal dari Padang.

Secera general, meski pun tidak semuanya, masyarakat Suku Minangkabau memang ahli dalam berdagang. Seperti sudah tradisi, berdaganng menjadi profesi yang dilakukan secara turun-temurun. Keuletan mereka menular dari satu generasi ke generasi lainnya. Dan itu merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Suku Minangkabau.

Daerah asal Suku Minangkabau sebenarnya terdiri atas kesatuan tiga wilayah adat yang disebut Luhak nan Tigo (wilayah yang tiga), yaitu Luhak Agam (kini Kabupaten Agam), Luhak Limapuluh Kato, dan Luhak Tanah Datar. Ada satu daerah yang dianggap asal nenek moyang mereka, yaitu Pariaman – Padang Panjang yang terletak di sekitar lereng gunung.

Anggota-anggota suku bangsa Minangkabau menyebut daerah mereka dengan nama Ranah Minang (Tanah Minang) dan menyebut mereka dengan Urang Minang atau urang awak. Di Minangkabau terdapat banyak suku, namun yang dianggap paling utama hanya ada empat, yaitu Koto, Bodi, Chaniago, dan Piliang.

Menurut sastrawan dan budayawan terkenal asal Minang, A.A Navis, Minangkabau terbentuk dari kultur etnis yang berasal dari satu rumpun, yaitu rumpun melayu. Di dalamnya terdapat sistem monarki dan masih memegang adat cukup kuat. Masyarakat Minang juga memiliki sistem kekerabatan matrilinieal, atau keturunan berdasarkan garis ibu.

Pendapat lain tentang Minangkabau juga datang dari seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda berdarah Inggris, Thomas Stamford Bingley Raffles. Setelah melakukan ekspedisi dan mengenali Minangkabau lebih jauh, ia menyimpulkan bahwa Minangkabau adalah akar serta sumber kekuatan dari Suku Bangsa Melayu.

Di dunia, Suku Minangkabau adalah suku terbesar yang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Suku ini juga selalu berlandaskan adat untuk menentukan hal-hal penting serta berkenaan dengan hukum. Adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Suku Minangkabau terlhat dari pernyataan, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Yang artinya adalah adat bersendikan hukum, dan hukum bersendikan Al-Qur'an. Ya. Masyarakat Minang memang terkenal karena keteguhannya dalam menjalankan ajaran Islam.

Asal-usul Nama Minangkabau

Sebenarnya tidak ada catatan resmi yang menunjukkan dari mana asal-usul kata Minangkabau diperoleh. Tapi sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa Minangkabau berasal dari dua kata, yaitu minang dan kabau.

Minang berarti sejenis senjata tajam yang yang pernah dipakaikan pada moncong anak kerbau untuk mengalahkan kerbau besar. Minang juga bisa diartikan sebagai menang. Sedang kata kabau berarti kerbau.

Dikisahkan pada zaman dulu ada pasukan dari Jawa, yaitu dari kerajaan Majapahit yang ingin merebut daerah sekitar Sumatra Barat. Namun untuk menghindari pertumpahan darah, masyarakat Sumatra Barat mengajak adu kerbau. Bila kerbau Majapahit menang, maka mereka akan mengakui kedaulatan kerajaan tersebut.

Majapahit mempersiapkan kerbau yang besar, kuat, dan ganas. Sementara rakyat Sumatra Barat mengajukan anak kerbau yang masih kecil dan lapar.

Tapi di atas moncongnya dipasang sebilah senjata tajam (minang). Setelah kedua kerbau berhadapan, si anak kerbau langsung mencari susu (puting) kerbau yang besar hendak menyusu karena ia lapar.

Nah pada saat mencari-cari itu lah, senjata minang menusuk perut kerbau besar yang akhirnya terluka dan kalah. Pasukan Majapahit akhirnya pergi. Sejak saat itu, daerah tersebut dinamakan Minangkabau atau kerbau yang menang.

Masyarakat Minangkabau Suka Merantau

Sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau adalah matrilineal, yaitu garis keturunan ditarik dari garis ibu. Seorang yang lahir dalam satu keluarga akan masuk dalam kerabat keluarga ibunya, bukan kerabat ayahnya. Seorang ayah berada di luar kelompok kerabat istri dan anak-anaknya.

Peran seorang suami tidak jelas batasnya dalam kelompok kekerabatan. Sebab pertama karena prinsip matrilineal yang mana peranan ayah dalam rumah tangga teramat kecil. Sebaliknya, saudara laki-laki ibu (paman) yang lebih banyak berperan dalam kehidupan anak-anaknya.

Hal-hal penting dalam keluarga diputuskan oleh Bunda Kanduang, ibu dalam rumah Gadang (rumah besar). Sebab kedua karena keluarga intinya sendiri tinggal dengan keluarga senior dari pihak istrinya yang bersama-sama tinggal di rumah gadang.

Kekerabatan bersistem matrilineal ini lah yang membuat harta warisan pun akan diturunkan berdasarkan nasab ibunya. Hal-hal inilah yang menyebabkan kaum laki-laki masyarakat Minang lebih suka merantau ke daerah lain.

Sebab lain mengapa orang Minangkabau suka merantau yaitu karena faktor ekonomi. Pertumbuhan besar-besaran pada masyarakat Minang tidak diikuti dengan pembukaan peluang kerja yang memadai. Akibatnya, mereka pergi ke daerah lain untuk mencari pekerjaan. Pada awalnya dan sebagian besar mereka mengawali usaha dengan berdagang.

Masyarakat Minang memang terkenal dengan kemampuan bernegosiasinya. Sehingga hal ini menjadi identitas bagi generasi penerus kebudayaan Minang. Ini ada hubungannya dengan masyarakat Minang sebagai pewaris tunggal dari kebudayaan tradisi milik Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Bahwa kedua kerajaan itu terkenal dengan keahliannya dalam berdagang serta bergerak dinamis.

Sisi Religius 

Selain kedua sebab di atas, unsur agama juga berpengaruh terhadap budaya merantau. Orang suku Minangkabau sangat menjunjung nilai agama Islam. Mereka penganut agama Islam yang taat.

Anak laki-laki banyak meninggalkan rumah mereka untuk belajar di surau-surau. Mereka menimba ilmu agama. Untuk seterusnya mereka akan menimba ilmu dengan pergi ke berbagai daerah, bertemu dengan berbagai orang, berbagai budaya untuk mencapai kehidupan yang mereka inginkan.

Kini, orang Minangkabau hampir ada di seluruh wilayah Indonesia, bahkan dunia. Mereka merantau bukan saja untuk berdagang, tapi untuk menimba ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan.

Begitu banyaknya orang Minang yang merantau, akhirnya muncul istilah Minangkabau Perantuan, yaitu orang-orang suku Minangkabau yang hidup merantau di luar wilayah asalnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Mengenal Suku Bangsa Minangkabau Lebih Dekat
  • Serba-serbi Suku Maluku
  • Wujud Emansipasi Perempuan di Ranah Minang
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA