Modul Agama Islam: Kisah Sahabat Nabi dalam Hikayat Melayu Klasik
Pada modul agama Islam ini, akan dibahas kisah sahabat Nabi Muhammad dalam hikayat Melayu klasik. Dalam hasil karya sastra Islam, terdapat hikayat yang tergolong jenis cerita sahabat Nabi Muhammad. Menurut Ismail Hamid (Fang, 1991: 246), sahabat atau al-shahabat adalah salah satu istilah Islam yang berarti orang-orang yang rapat sekali dengan Nabi Muhammad.
Kemudian, istilah ini meluas menjadi orang-orang yang pernah bertemu atau berbincang dengan Nabi Muhammad. Hikayat-hikayat yang tergolong ke jenis cerita sahabat Nabi Muhammad bercerita kisah hidup sahabat Nabi, termasuk pertempuran yang mereka jalani bersama Nabi Muhammad.
Sahabat yang paling dekat dengan Nabi Muhammad adalah empat khalifah, yaitu Abu Bakar Al-Sidik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik (1991), disebutkan bahwa cerita paling populer adalah cerita Ali bin Abi Thalib. Kepopuleran cerita Ali diduga karena kedudukannya dalam Islam.
Ali bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad. Ia juga menjadi merupakan sahabat dekat Nabi. Ali digambarkan sebagai seorang pahlawan yang gagah berani dan menyertai Nabi Muhammad dalam hampir semua pertempuran yang berlaku (Fang, 1991: 246).
Ali memiliki dua putra yang bernama Hasan dan Hussain. Ia juga memiliki seorang putera dari istrinya yang kedua, Muhammad al-Hanafiah. Kisah mengenai Ali dan anak-anaknya terdapat dalam Hikayat Muhammad Hanafiah.
Hikayat Muhammad Hanafiah merupakan salah satu hikayat yang sudah tua usianya. Dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik (1991), diuraikan bukti-bukti yang menandakan bahwa hikayat tersebut sudah tua. Disebutkan bahwa Hikayat Muhammad Hanafiah telah dibaca oleh prajurit-prajurit Malaka yang sedang berjuang melawan Portugis pada 1511.
Bukti lainnya adalah adanya fragmen berjumlah sekitar 60 halaman yang terdapat di perpustakaan Universitas Cambridge, Inggris. Dijelaskan bahwa awalnya fragmen tersebut dimiliki Prof. Epernis, seorang sarjana bahasa Arab. Ia memperoleh fragmen tersebut dari Kapten Pieter Willemsz Floris yang mengunjungi Aceh pada 1604.
Selain itu, R.O. Winstedt menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan dalam fragmen hikayat tersebut agak ketua-tuaan (Fang, 1991: 247). Sementara Van Ronkel menyebutkan bahwa hikayat tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Parsi. Menurutnya, dalam Hikayat Muhammad Hanafiah, terdapat pemakaian gelar ‘pengembara’ yang dalam bahasa Parsi berarti ‘nabi’.
Hikayat lain yang bercerita tentang sahabat Nabi Muhammad adalah Hikayat Tamim Al-dari. Tamim Al-dari mulanya adalah seorang Nasrani. Ia memeluk agama Islam pada Hijriah ke-7. Dalam kumpulan hadis, terdapat cerita tentang Tamim Al-dari.
Dari hadis pulalah lahir hikayat dalam bahasa Arab yang kemudian disadur dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Nusantara, seperti Aceh, Bugis, Sunda, Makassar, dan Melayu. Naskah hikayat ini berjumlah banyak. Naskah yang paling terkenal adalah naskah Raffles No. 50 yang tersimpan di Royal Asiatic Society, London.






