Museum Batik Indonesia

Siapa tidak mengenal batik? Bahan pakaian dari Pulau Jawa ini dikenal seantero Nusantara. Bahkan, dunia. Coraknya pun beragam sesuai ciri khas daerah masing-masing. Tak heran jika banyak ditemukan museum batik di beberapa wilayah, seperti Pekalongan, Yogyakarta, dan Surakarta. Tujuan didirikannya museum ini tentu saja dalam upaya memperkenalkan batik dan sejarahnya serta menjadikannya suatu simbol warisan budaya yang diharapkan terus-menerus dilestarikan pada generasi selanjutnya.
Museum Batik Pekalongan
Museum ini terletak di Kota Pekalongan, di daerah Bundaran Jatayu dekat dengan Jalan Diponegoro. Gedung museum awalnya merupakan balai kota sejak zaman penjajahan Belanda. Kemudian, direnovasi menjadi museum dengan tetap mempertahankan bangunan klasik, seperti tersedianya kamar-kamar dengan jendela dan pintu besar. Museum ini menyimpan lebih dari 800 koleksi batik kuno dan modern.
Sebagian besar koleksi batik kuno sudah terlihat rapuh karena termakan usia. Pengunjung tidak diperbolehkan menyentuh kain batik yang dibuat pada era penjajahan Belanda hingga 1900-an. Koleksi batik yang diperlihatkan hanya 300. Setiap tiga bulan sekali, diganti dengan 300 koleksi lain dan begitu seterusnya. Hingga kurun waktu kurang dari 1 tahun, pengunjung dapat melihat keseluruhan koleksi. Motifnya pun bermacam-macam, seperti parang, kawung, truntum, semen, boketan, dan alas-alasan.
Museum Batik Yogyakarta
Museum ini berdiri atas prakarsa seorang Hadi Nugroho yang awalnya mengelola museum ini secara pribadi selama 28 tahun. Hadi Nugroho bersama istrinya, Dewi, menetap dalam museum yang terletak di Jalan Dr. Soetomo 13A, Yogyakarta, sekaligus membantu pengunjung mengenali ratusan karya batik dalam negeri. Baik batik tulis gaya Yogyakarta dan Solo maupun batik cap gaya pesisir.
Dilihat sepintas dari halaman depan, museum tampak seperti rumah biasa. Namun, jika kita masuk ke dalamnya, terdapat sejumlah koleksi kain batik dan peralatan membatik yang menyimpan nilai historis. Pada Mei 1977, barulah museum ini diresmikan oleh pemerintah setempat sebagai Museum Batik Yogyakarta.
Museum Batik Danar Hadi
Museum ini khusus menyimpan batik-batik kuno yang berasal dari pengaruh Jawa, Cina, India, Belanda, Keraton, khas petani, batik Indonesia pada umumnya, dan tentu saja batik dengan label Danar Hadi. Museum ini terletak di kompleks wisata House of Danar Hadi di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Meskipun menyimpan batik-batik kuno, pelataran museum ini didesain modern tetapi tetap menonjolkan ciri khas bangunan Kota Solo.
Pengunjung yang datang tidak boleh mengambil foto dalam ruangan museum karena dikhawatirkan cahaya kilat foto akan mempengaruhi warna kain batik. Selain itu, yang paling penting dilarang menyentuh kain. Pengelola museum juga mengupayakan hal lain dalam menjaga kualitas batik, yaitu dengan menebarkan aroma bunga sedap malam dan melati. Koleksi museum batik kuno ini diperkirakan mencapai 10.000 lebih yang secara bergantian dipamerkan sebanyak 700 koleksi per tujuh bulan sekali.






