Menyaksikan Kedigdayaan Militer Nusantara di Museum Keprajuritan
Ilustrasi museum keprajuritan
Anda penggemar game strategi online? Atau seorang penggemar fanatik dunia kedirgantaraan? Sangat tepat jika Anda menghabiskan waktu akhir pekan ke Museum Keprajuritan. Anda akan dibawa tersesat ke dunia strategi militer yang berpadu dengan fakta-fakta sejarahnya. Walaupun peralatan perang yang ditampilkan mungkin tidak secanggih peralatan perang modern saat ini, paling tidak akan mengetahui bahwa pada masa tertentu, republik ini pernah mempunyai benda-benda luar biasa tersebut.
Wawasan Nusantara
Masih dalam satu kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), meseum ini punya banyak koleksi unik. Bercitrakan dunia kemiliteran, Museum satu ini berbentuk benteng segi lima yang dikelilingi perairan. Menyiratkan kesan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan doktrin Wawasan Nusantara. Tidak bisa dipungkiri bahwa arsitekturnya cukup bagus dan menandakan dibuat dengan pertimbangan makna sejarah dan keindonesiaan yang luar biasa.
Ketika banyak orang membangun gedung dengan konsep minimalis yang mungkin tidak mengandung makna apa-apa, pada masa pemerintahan Suharto, masyarakat Indonesia diajak untuk mendalami berbagai makna dan simbol. Apapun yang dibuat atau yang dibangun, harus ada pemaknaannya dan tidak asal bangun serta tidak hanya mementingkan fungsi tanpa memikirkan lambang dalam fungsi itu. TMII sendiri dibangun dengan konsep yang begitu memikirkan budaya dan kekayaan setiap daerah.
Rakyat diajak menghargai segala sesuatu dengan tidak melihat sesuatu dari permukaannya saja. Makna dan simbol-simbol yang dipakai dalam setiap kesatuan yang ada di dalam tubuh tentara Indonesia juga mengandung banyak arti. Itulah mengapa cukup banyak museum yang didirikan pada masa itu. Suharto sangat mengerti makna sejarah dan pentingnya mengetahui tentang sejarah. Tanpa mengetahui akar, maka pohon tak akan kuat.
Pengetahuan tentang sejarah ini akan membuat orang mempunyai karakter yang kuat yang tidak akan cepat goyah hanya ditiup oleh angin semilir. Tidak mengherankan kalau pada masa pemerintahan Suharto itu, nilai-nilai nasionalisme cukup bagus tertanam. Saat ini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan memang tetap ada, namun masyarakat melihatnya dari sisi yang berbeda sehingga dirasakan kurang kuat dibandingkan pada masa itu.
Museum yang memuat benda-benda yang berkaitan dengan keprajuritan ini dibangun dengan cita rasa nusantara. Kesan tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan dua kapal tradisional, yaitu kapal Banten dan kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Kedua kapal itu bersandar di danau sekitar museum. Simbol kekuatan maritim yang telah lama dimiliki bangsa Indonesia, dari barat sampai ke timur. Bangsa ini memang harus berbangga diri dengan kekuatan angkatan lautnya pada masa lampau.
Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya, dua kerajaan hebat dan besar di nusantara tidak akan menjadi penguasa banyak wilayah kalau tidak mempunyai kekuatan maritim yang luar biasa. Walau kini, bangsa ini terus berjuang mempertahankan kekuasannya di lautan, sejarah kehebatan ini bisa menjadi suatu cambuk atau pemecut semangat untuk terus maju dan berusaha memberikan yang terbaik kepada tanah air, bangsa, dan negara.
Bangsa ini adalah bangsa maritim. Sudah sepatutnya bahwa Indonesia mempunyai angkatan laut yang tangguh. Hal ini memang terus dirintis walaupun begitu banyak kendala. Salah satunya adalah terbakarnya kapal gerak cepat yang cukup canggih. Kapal itu seharusnya akan menjadi salah satu kebanggaan bangsa ini. Namun, musibah telah merenggutnya. Mungkin Tuhan tak ingin bangsa ini menjadi sombong sehingga diberi peringatan seperti itu.
Bukti Kekuatan Militer
Pada dasarnya, Museum Keprajuritan adalah kekayaan sejarah yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau kekuatan militer bangsa Indonesia. Merekam sejarah perjuangan bangsa pada masa-masa perjuangan sejak abad ketujuh sampai abad kesembilanbelas, termasuk melestarikan benda-benda bersejarahnya. Mengetahui perjuangan generasi sebelumnya itu sangat penting agar tidak kehilangan makna kesejarahannya.
Lihat saja ketika pertama kali datang, Anda akan “disambut” oleh gerbang berupa bangunan abad keenambelas. Mencerminkan sifat keramahan rakyat Indonesia sejak dahulu kala. Namun, keramahan tersebut tidak mengendurkan kewaspadaan bangsa ini terhadap ancaman dari luar. Ini terlhat dari adanya menara pengintai di setiap sudut bangunan museum. Lambang dari kewaspadaan nasional. Indonesia ini adalah negara yang besar yang sangat luas dengan berbagai karakter anak bangsa.
Kalau tidak dijaga, orang asing dengan leluasa akan masuk dan merampas apa yang seharusnya menjadi hak seluruh bangsa. Satu patok perbatasan saja digeser, maka akan ada banyak sekali kekayaan yang hilang. Untuk itulah, penjagaan ini harus selalu dilakukan. Untuk bisa menjaganya dengan baik, bangsa ini harus mempunyai prajurit yang tangguh yang mampu menahan setiap serangan. Ketangguhan itu sangat terkait dengan persenjataan dan kemahiran dalam mempertahankan diri.
Kegagahan ini terlihat dari tampilan pakaian dan persenjataan pada masa itu.
Selain itu, museum yang relatif luas ini memiliki diorama (14 buah) tentang kepahlawanan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Berbagai peristiwa sejarah yang selama ini hanya diketahui dari buku-buku teks, dapat Anda lihat langsung. Ketika menyaksikannya, anak bangsa yang hidup pada masa kini, dapat merasakan bagaimana rasa cinta yang begitu kuat yang melekat pada dada pahlawan.
Ketika nantinya mereka menjadi pemimpin bangsa, mereka tidak akan menjual negara ini dengan harga yang sangat murah. Mereka akan ingat bagaimana para pahlawan berjuang mempertahankan apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada tanah air. Jangan sampai setelah dipertahankan, lalu dijual begitu saja. Rakyat gigit jari dan malah menjadi kuli di negaranya sendiri. Kekayaan bangsa ini seharusnya dinikmati oleh bangsa sendiri.
Ada juga berbagai patung, foto, dokumen, dan lukisan. Untuk patung, ada 23 patung pahlawan dari perunggu berukuran 1¼ kali besar manusia. Di antaranya patung Gajah Mada, Cut Nyak Dien, dan Pattimura, yang ditempatkan mengelilingi panggung di dalam museum. Karakter patung yang dipilih sesuai dengan sumbangsih yang telah mereka berikan. Misalnya, Patih Gajah Mada. Laki-laki gagah ini telah menyatukan nusantara. Sumpahnya yang sangat terkenal adalah Sumpah Palapa. Hingga kini nama palapa disematkan kepada satelit yang dimiliki oleh Indonesia. Satelit itu juga dimaksudkan untuk menyatukan nusantara.
Cut Nyak Dien, merupakan contoh wanita perkasa yang tidak mau tinggal diam dihina dina oleh Belanda. Ketika suami kedaunya, Teuku Umar, meninggal, Cut Nyak Dien tidak berhenti berjuang. Ia tetap masuk hutan di daerah Meulaboh dan terus berjuang dengan para pahlawan lainnya. Setiap zaman memang melahirkan orang-orang hebat yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain. Inilah kekuatan yang harus dipelajari oleh anak negeri sekarang ini.
Tak hanya itu, berbagai tiruan senjata, meriam, pakaian perang, panji-panji, formasi tempur serta boneka peraga yang mengenakan busana prajurit tradisional, disuguhkan secara menarik untuk mendukung fakta-fakta sejarah kegemilangan militer Indonesia.
Contoh, relief yang menceritakan 19 cerita perjuangan bangsa dari abad VII sampai abad XIX. Seperti peristiwa Raden Wijaya melawan pasukan Cina tahun 1292, pertempuran di Benteng Sao Paolo tahun 1575 di Maluku dan Sultan Ageng menyerang Kastel Batavia tahun 1628.
Pada waktu-waktu tertentu, di museum ini biasa diadakan pawai prajurit tradisional. Didirikan juga panggung terbuka untuk pentas musik atau kegiatan lain yang mendukung semangat kebangsaan. Semua kegiatan tersebut diadakan pada bulan Oktober untuk memeperingati hari Sumpah Pemuda.
Museum-museum Sejenis
Keberadaan Museum Keprajuritan tak kalah menariknya dengan museum-museum sejenis. Seperti Museum Satria Mandala, Museum Waspada Purbawisesa, Museum (monumen) Pancasila Sakti, Museum Sasmita Loka, Museum Angkatan Udara, dan Museum Polri. Semua museum tersebut berada di Kota Jakarta.
Sayangnya, sebagian dari museum itu tidak populer di masyarakat. Banyak yang tidak mengenalnya. Bahkan, ada museum yang jumlah pengunjungnya tidak sampai sepuluh orang per tahun. Selain kurangnya publikasi tentang keberaadaan museum, banyak dari museum itu yang dikelola apa adanya atau tidak profesional. Sehingga fungsi museum sebagai penjaga dan pemelihara warisan jaman dahulu, tidak optimal dijalankan.
Kondisi seperti ini teramat memprihatinkan jika dibiarkan terus terjadi. Kepedulian pihak-pihak terkait (pemerintah atau lembaga masyarakat) sangat diperlukan. Sinergi antara organisasi Perhimpunan Antar Museum di DKI Jakarta Raya (Paramita Jaya) dengan Direktorat Permuseuman, kira bisa menjadi salah satu solusi. Agar anak cucu dari bangsa yang besar ini, mampu tetap merasakan dan melanjutkan kegemilangan dunia militer nusantara. Tak hilang ditelan modernisasi zaman.

