Berkunjung Ke Museum Tsunami Banda Aceh

Anda mengenal Aceh? Sebuah daerah diujung Sumatera yang pada tanggal 26 Desember 2004 silam terkena tsunami. Gempa ini terjadi pada pukul 7:58 WIB. Gempa yang berkekuatan 9,3 skala richter ini terjadi di sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 kilometer. Setelah tsunami menerjang Aceh, banyak korban meninggal di dalamnya. Sekitar 135 ribu rakyat aceh diketemukan tewas ketika hampir setahun penuh dilakukan evakuasi korban di dalamnya.
Bencana tsunami ini adalah yang terbesar, karena tsunami ini tidak hanya menerjang Aceh, tapi juga 8 negara yang berdekatan dengan Aceh. Diperkirakan sekitar 240.000 orang tewas di 8 negara tersebut. Untuk mengenang terjadinya tsunami Aceh tersebut, pemerintah kemudian mendirikan museum tsunami di Banda Aceh.
Dilombakan Desainnya
Awalnya, pembuatan museum tsunami ini dilombakan dahulu desainnya, mengingat museum Tsunami ini nantinya akan membuat para pengunjung berkesan maka pembuatannya pun direncanakan matang-matang. Dan pada akhirnya, pemenang lomba desain museum tsunami ini adalah seorang dosen ITB bernama Ridwan Kamil yang meraih hadiah sebesar Rp.100 juta. Setelah dibuat desainnya, pembangunan pun dilakukan, pembuatan museum tsunami ini menelan biaya cukup besar sekitar Rp.70 Miliar
Terdapat di Muka Jalan
Museum tsunami terletak di Jl. Sultan Iskandar Muda Banda Aceh dekat simpang jam, di depannya terdapat lapangan Blang Padang yang merupakan lapangan untuk masyarakat Aceh melakukan olahraga atau kegiatan seni. Sebelum Museum tsunami terdapat makan kerkhoff yaitu makam prajurit Belanda yang meninggal pada saat perang Aceh melawan Belanda.
Lokasi museum tsunami sangat strategis, yaitu terletak di muka jalan, sehingga jika Anda melewati jalan sultan Iskandar Muda, terlihat dengan jelaslah museum ini. Museum tsunami Banda Aceh sangat menarik arsitekturnya, jika Anda perhatikan, Museum tsunami ini dibuat menyerupai rumah panggung/ rumah tradisional masyarakat Aceh, bangunan ini juga dirancang sebagai escape hill atau sebuah taman berbentuk bukit yang nantinya dapat dijadikan tempat untuk antisipasi bencana banjir atau tsunami jika suatu waktu bencana itu kembali menerjang.
Dari kejauhan, bangunan ini menampilkan eksterior budaya Aceh. Jika diperhatikan secara jeli, bangunan ini dari atas sangat menyerupai kopiah Aceh. Pada atapnya menggambarkan ombak pantai.
Melirik isi museum, begitu memasuki ruangan kita akan memasuki lorong sempit yang lampunya tidak begitu terang alias remang-remang. Pada sisi kiri dan kanannya terdapat air terjun yang jika kita dengar, suara itu mengeluarkan gemuruh mirip seperti suara air bah yang menerjang Banda Aceh.
Di langit-langit Museum Tsunami ini terdapat banyak bendera luar negeri yang berperan membantu menstabilkan rekonstruksi Aceh agar pulih kembali, bendera-bendera itu terpajang sebagai wujud penghormatan Indonesia pada negara yang membantu Aceh. Ada sebuah ruangan bernama The light of god, adalah sebuah ruangan berbentuk silinder yang pada sisi-sisi ruang tersebut terdapat nama-nama korban yang meninggal akibat tsunami.
Lalu menyorot ke atas terdapat sebuah lubang yang pada lubang tersebut menyorotkan cahaya dan membuat tulisan berlafadzkan “Allah”, ruangan ini sangat religius.
Museum tsunami ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 23 Febuari 2008 pada saat beliau berkunjung ke Aceh. Tetapi sayang, museum ini kosong tak berisi dan jarang dibuka. Sehingga masyarakat yang berkunjung ke sini hanya sekadar duduk-duduk di taman atau sejenak berfoto pada halamannya saja. Pada kolamnya pun tak diisi dengan ikan, sehingga dikhawatirkan dapat berpotensi sebagai sarang nyamuk DBD.






